Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Tiba Di Singapura


__ADS_3

Melihat air mata di wajah wanita paruh baya itu, hati Raga pun terasa semakin sakit. Indri tak berbeda jauh dengan sang bunda. Tentu saja Raga merasa tidak mungkin tega melihat hati wanita di depannya ini sakit mengingat kejadian di masa lalu. Besar peran Raga dalam hal kehancuran Tasha. Hingga akhirnya pria itu berdiri dari duduknya dan berlutut di depan Indri.


Ia menundukkan kepala memejamkan mata. "Saya benar-benar salah, Bu. Saya sangat salah di masa lalu. Itu sebabnya saya datang untuk memperbaiki semuanya. Saya ingin menebus kesalahan saya di masa lalu. Ijinkan saya melakukan itu, Bu. Demi Gara. Saya mohon...Apa pun yang kalian minta akan saya lakukan." Raga benar-benar tulus mengatakan semuanya.


Indri tak sanggup mengatakan apa pun saat ini selain hanya membungkam bibirnya.


"Hati kami hancur...bahkan saat video itu kami lihat dengan mata kepala kami sendiri. Itu sangat memalukan!" ujar Indri pada akhirnya.


Raga hanya bisa mengangguk. Kini ia sadar ada hal lain juga yang harus ia lakukan. Yaitu menemui Vira, wanita yang sudah ikut andil dalam hancurnya Tasha dahulu.


"Berdirilah, semua ini tidak ada gunanya. Gara sudah besar, dia akan tahu sendiri kemana dirinya akan bersandar. Tidak perlu kau melakukan apa pun. Dan saya mohon untuk satu kali ini, jangan mendekati anak kami, Tasha." Permohonan yang entah mengapa membuat dada Raga sedikit sesak.


Meski tujuannya saat ini adalah Gara, tapi hati tak bisa berbohong jika ada benih cinta yang ternyata semakin berkembang setelah pertemuan mereka kembali. Raga membungkam bibirnya, ia tak bisa menyanggupi permintaan Indri dengan cepat.


"Mamah, Unlce." suara bocah yang baru saja tiba di ruangan itu membuat Indri segera mengusap air matanya. Raga pun di minta kembali untuk segera berdiri. Pria itu kembali ke kursi duduknya dan tersenyum melihat kehadiran sang anak dengan pakaian santai.


Satu kali, dua kali, tiga kali Gara tampak menatap keduanya bergantian dengan kening yang mengernyit, pada akhirnya bibir mungil itu bertanya juga.


"Kalian mesra-mesraan?" tanyanya dengan wajah polos.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan sang cucu, Indri segera melambaikan tangan tanda menolak dengan cepat. Bisa jadi masalah jika ucapan Gara sampai ke telinga sang suami, pikirnya.


"Sayang, bukan. Uncle ini sedang meminta pada mamah untuk bisa membawa Gara bermain lagi besok-besok." tutur Indri terpaksa berbohong.


Mendengar itu Gara pun hanya diam. Mungkin benar apa yang di katakan sang nenek pikir bocah kecil itu dengan tenang.


Suasana di ruang makan itu mendadak hening kembali. Sepasang mata Gara menoleh ke sana kemari mencari seseorang.


"Mamah, Kak Tasha dimana? Mengapa tidak menyambut Gara datang? Apa Kakak tidak rindu?" tanyanya lagi.


Dan inilah saat yang Indri takutkan. Jangan sampai sang cucu akan menangis ketika tahu sang mami tidak ada di rumah. Sedangkan Raga yang mendengar pun juga seolah menunggu jawaban dari Indri. Tasha memang tak menampakkan wajahnya di rumah itu sejak mereka datang.


"Em...sayang. Kakak sedang ada kerjaan. Jadi Gara sama mamah dulu yah?" bujuk Indri mendekati sang cucu yang masih berdiri.


Ia pelan menuntun Gara duduk di kursi di depan Raga.


Jawaban tak terduga tiba-tiiba tercetus di bibir mungil Gara. "Ada mamah, ada papah, dan ada uncle. Oke Gara tidak apa-apa. Tapi Kakak tidak lama kan?" ujarnya yang membuat Indri dan Raga juga sama terkejutnya.


"Gara tidak marah kan?" Indri kembali memastikan dan bocah itu menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kakak sedang mencari uang untuk susu Gara, Mah." jawabnya membuat Indri tersenyum senang. Ia mengusap lembut rambut sang anak lalu menatap Raga yang tersentuh mendengar ucapan sang anak.


Merasa semua sudah selesai, Raga pun segera pamit untuk pergi. Gara pun tidak lagi menolaknya. Sebab anak kecil itu sudah waktunya untuk beristirahat siang bersama sang nenek.


Di negara yang berbeda, kini Tasha pun akhirnya tiba dengan selamat meski beberapa saat pesawat kesulitan mendarat sebab hujan tengah sangat deras saat itu. Ia keluar dari bandara dengan koper di tangannya. Sangat cantik, sepatu heels yang begitu simple tampak sangat mendukung kaki mulus nan putih miliknya. Ia menggunakan cardigan transparant yang melapisi jeans serta kaos slim di tubuhnya serta  kaca mata hitam.


"Dimana yah asistennya Bu Dewi?" tanya Tasha mencari sosok wanita yang pernah menjadi photograper dadakannya dan juga sang anak.


Hingga dering ponsel pun di genggaman Tasha terdengar.


"Halo, Ibu Dewi?" sapa Tasha lembut.


"Sha, asisten saya sedang ada kerjaan masih di lapangan. Kamu di jemput orang suruhan saya. Dia bawa papan nama di depan pintu kedatangan yah." setelah mengatakan itu Tasha tak lagi mendengar ucapan dari Bu Dewi. Dan ternyata panggilan sudah terputus.


Tasha kembali berjalan sedikit keluar mencari sosok yang Bu Dewi sebutkan tadi. Ia sama sekali tak menemukan orang yang membawa papan nama itu.


"Dimana sih orangnya?" tanyanya sembari berputar badan.


"Nona Tasha?" suara berat terdengar tiba-tiba di belakang tubuh Tasha saat itu juga.

__ADS_1


Tasha memutar kembali tubuhnya dan alangkah terkejut Tasha saat menatap wajah yang sangat tinggi hingga ia sendiri pun haru menengadah cukup banyak demi bisa melihat wajahnya. Susah payah Tasha meneguk kasar salivahnya.


__ADS_2