
“Agatha, kamu tidak pulang? Ini sudah sore.” Papah Tegar menegurku ketika aku berada di dapur.
Hari memang sudah sore di luar. Mami dan yang lain termasuk Mikael sudah pulang sejak siang tadi.
Pertemuanku dengan Papah yang baru hitungan jam rasanya tak ingin membuat aku pergi lagi. Rasa rindu seorang anak pada orangtua kandungnya tak akan bisa tergantikan oleh apa pun.
“Nanti aja, Pah. Setelah makan malam. Agatha masak buat Papah dulu baru kita makan malam bersama.” Kepalaku di usap lembut oleh Papah.
Meski merasa senang masih saja aku merasa ada jarak di antara kami. Bertemu setelah aku dewasa tentu membuatku merasa masih canggung dan kaku.
Malam pun tiba, kami berdua duduk untuk menyantap hidangan makan malam yang sudah aku siapkan. Papah terlihat semangat sekali malam ini. Pergerakan tanganku yang ingin mengambilkan Papah makan harus terhenti kala ada suara di luar sana.
“Permisi,” Buru-buru aku meninggalkan tempat duduk, setelah pintu terbuka ternyata yang datang adalah Mikael.
“Loh Mikael?” tanyaku kaget sebab untuk apa ia kembali lagi.
__ADS_1
“Aku bawa makanan buat Papah. Kita makan bareng yah?” Ia tanpa menunggu jawabanku langsung melangkah masuk.
Sikapnya yang sigap mendekati Papah semakin membuat aku yakin jika pernikahan kami memang harus berlanjut. Kami pun makan malam bertiga.
“Sudah malam aku pulang dulu, Papah. Besok pagi akan kesini lagi sebelum ke kantor.” ucapku yang di antar oleh Mikael ke rumah Papi.
Ketika tiba di rumah suasana terasa sepi. Mami dan Papi sepertinya keluar malam dan belum pulang. Aku memilih istirahat menuju kamar. Samar suara gitar ku dengar di kamar Gara. Aku memilih acuh tak ingin menimbulkan masalah lagi jika bertemu dengannya dengan hanya berdua.
Mikael pun sudah pulang setelah mengantarku ke rumah.
“Mi, Pi, aku tidak apa kan jika sarapan di rumah Papah? Nanti setelah menikah aku tidak akan bisa melakukan itu lagi.” ujarku sedih.
“Agatha, kenapa harus sarapan di sana? Papah kamu kesini makan bersama kita itu yang lebih tepat. Kasihan dia sendirian di sana. Pasti kesepian.” Entah hati Mami terbuat dari apa. Aku benar-benar terharu mendengar bagaimana Mami memperlakukan Papahku.
Ketika aku sadar hari sudah cukup siang, rasanya tidak cukup untuk membawa Papah ke rumah ini.
__ADS_1
“Besok-besok saja, Mi. Terimakasih yah, Mami dan Papi sudah sangat baik denganku dan Papah.” Ku peluk Mami dari belakang. Rasanya aku tak percaya jika mereka hanya orangtua angkatku. Kebaikan dan kasih sayang mereka begitu besar padaku.
Saat itu juga aku bergegas menuju rumah Papah, namun ada hal yang membuat aku heran.
“Mobil Mikael di sini? Ini baru datang? Untuk apa?” gumamku bertanya pada diri sendiri. Kakiku terus melangkah masuk.
Jelas di telingaku suara Papah dan Mikael tertawa bersama. Sampai pemandangan lagi-lagi membuat aku bingung. Papah dan Mikael terlihat sedang memasak bersama di dapur. Mereka tertawa bersama dengan pakaian tidur.
Itu artinya Mikael tidur di sini?
“Ehem…” Mereka semua berhenti tertawa ketika sadar aku sudah tiba.
“Agatha,” Mikael dan Papah sama-sama menyebut namaku.
“Mik, kamu tidur di sini? Kok nggak bilang sama aku?” tanyaku.
__ADS_1
“Kenapa harus bilang? Nanti kamu kira aku cari perhatian lagi. Kasihan Papah sendirian. Nggak ada salahnya kan kalau aku ikut tidur di rumah Papah? Sebagai pemilik utama kamar kedua di rumah ini.” Aku hanya menghela napas mendengar ucapan Mikael.