
Sepasang suami istri yang tengah sibuk menyaksikan dari ketinggian rumah tampak saling senggol menyenggol melihat interaksi Tasha dan Raga di bawah sana. Bahkan Indri sampai melongo melihat Raga yang berdiri perlahan menjatuhkan tubuhnya di bawa berlutut di depan Tasha. Tasha sama sekali tak tersentuh melihat itu, seakan jiwanya sudah mati rasa saat ini merasakan bagaimana penderitaan yang harus ia hadapi selama ini tanpa berani bicara apa yang terjadi pada kedua orangtuanya. Tasha yakin sang papah akan sangat marah jika mendengar kisah tentang ia yang begitu menggilai Raga sampai tidak sadar akan mengendalikan dirinya.
"Aku mohon, Sha...dengan cara apa aku bisa menebus semuanya? Dan satu hal yang perlu kamu tahu. Video itu aku tidak tahu menahu tentang tersebarnya. Aku bahkan baru tahu malam tadi dari Bunga. Aku sama sekali tidak melakukan apa pun pada video itu. Iya, aku memang pernah mengancam untuk menyebarkannya. Tapi itu hanya ancaman." mendengar penjelasan Raga, Tasha yang semula menatap ke arah lain akhirnya menatapnya penuh tanya.
Tasha meneteskan air mata terus tanpa bisa menghentikan. Ingatannya bagaimana video itu seketika menghancurkan hidupnya, di tambah dengan berita kehamilan yang juga turut menghancurkan jiwanya.
"Apa katamu? Bukan kamu pelakunya? Lalu siapa? Siapa lagi yang kau beri viceo itu, Raga? Aku benar-benar kau permalukan. Apa masih kurang aku tidak membebanimu selama ini? Apa itu masih belum cukup untuk membuatmu berpikir aku adalah ibu dari anakmu!" Raga tertunduk tak bisa mengatakan apa pun. Ia hanya bisa menggelengkan kepala.
"Vira yang melakukannya. Entah bagaimana bisa ia mengambil video itu dari ponselku. Yang jelas aku sama sekali tidak ada niat untuk melakukan itu semua. Dan aku tidak tahu apa pun tentang penyebaran itu. Tolong, Tasha barikan aku kesempatan." Raga tak tahu harus berusaha dengan cara apa lagi.
__ADS_1
Mendengar semua pengakuan Raga, Tasha sungguh tak habis pikir dengan nama yang di sebutkan. Sekarang baginya tidak penting mengetahui siapa pelakunya. Yang jelas Tasha tak akan mudah begitu saja percaya dengan Raga.
Sejenak wanita itu terdiam seraya kedua tangannya mengusap kasar air mata di kedua pipinya. Tasha memilih untuk menyikapi semua dengan tenang.
"Pikirkan soal Gara, Sha. Sudah cukup peranmu selama ini menjadi ibu dan ayah untuknya. Biarkan dia menikmati apa yang seharusnya di nikmati." Lagi-lagi ucapan sang mamah terngiang di benak Tasha kali ini.
"Berdirilah. Gara akan marah padaku jika tahu ayahnya ku buat menangis seperti ini." Tasha menatap dalam wajah tampan Raga yang memerah matanya.
Ragu awalnya hingga pada akhirnya Raga pun berdiri. Tasha masih menatapnya dalam diam hingga pada akhirnya ia berucap.
__ADS_1
"Hari ini Gara akan sekolah. Jemputlah siang setelah Papah mengantarnya sekolah. Ingat, Raga. Jangan melewati batasmu. Biarkan Gara menyesuaikan diri perlahan." Belum sempat Raga berucap apa pun, Tasha sudah lebih dulu pergi meninggalkan pria itu.
"Tasha! Tasha, tunggu!" teriak Raga yang masih belum mengerti apakah ia mendapatkan maaf dari Tasha atau belum.
Pagar pun kembali di tutup. Tasha berjalan menuju kamar sang anak. Ia sudah melihat Gara yang berpakaian rapi tanpa seragam. Hari ini bocah tampan itu akan terjun ke dunianya.
"Kak, aku tampan bukan?" tanya Gara merentangkan kedua tangannya dan Tasha pun datang memeluk sang anak.
Begitu juga dengan Firman dan Indri yang sudah bergegas untuk masuk ke dalam kamar mereka setelah menyaksikan drama pagi di depan gerbang rumah mereka.
__ADS_1