Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
TAMAT


__ADS_3

Seperti yang di janjikan oleh Raga jika mereka akan pindah rumah hari ini juga. Semua barang sudah sampai di rumah baru yang mereka ingin tinggali sejak beberapa waktu lalu. Namun, semua tertunda karena permasalahan yang tiba-tiba saja datang menerpa kebahagiaan keduanya.


"Mami kita akan pindah ke rumah baru ini?" tanya Gara menatap bangunan mewah di depan mereka dan Tasha pun mengangguk menjawab pertanyaan sang anak.


Harapan ketika berada di rumah ini hubungannya dengan sang suami perlahan bisa kembali hangat seperti sebelumnya. Bagi Tasha pun sebenarnya tak mau sama sekali jika menikah dan gagal. Sebisa mungkin ia menikah hanya sekali seumur hidup.


"Iya. Gara suka kan?" sahut Raga yang justru berlutut di depan tubuh sang anak.


Saat itu juga Gara merubah raut wajah dengan menekuk tak suka. "Tidak. Gara tidak suka karena ada dia ikut dengan kita. Kenapa Papi selalu membawanya?" tanya Gara dengan antusias. Ingin tahu siapa sebenarnya anak perempuan yang beberapa waktu belakangan selalu bersama mereka.


Di usia kecil ini tentu saja Gara belum cukup mudah memahami apa yang terjadi di sekitarnya. Raga memegang kedua pundah sang anak sembari ia masih berlutut.


"Gara, mulai sekarang kamu panggil dia Kakak Agatha. Karena sekarang kalian akan tinggal satu rumah. Kamu mau kan demi Papi?" Pertanyaan Raga membuat Gara mengangkat wajah menatap sang Mami yang kini justru memalingkan wajah tak kuat mendengar ucapan sang suami.


Meski pun ia berucap akan ikhlas menerima semua masa lalu Raga, tetap saja bagi Tasha tak semudah itu dalam waktu dekat ini. Ia masih butuh waktu. Bahkan sampai detik ini pun Tasha masih tak ada bersuara pada Agatha.


Sebagai orang baru pun Agata tahu diri. Ia hanya diam tanpa berani bersuara. Kini ia tak memiliki siapa pun selain Raga.


Gara berjalan masuk meninggalkan sang Papi. Begitu pula dengan Tasha yang memilih masuk lebih dulu. Dimana Raga menggandeng tangan sang anak masuk membiarkan pelayan mengurus barang bawaan mereka semuanya.


Hingga pada akhirnya ketika berada di kamar, Raga mendekati Tasha yang duduk di sisi ranjang menatap jendela lebar dengan kaca tembus ke pemandangan di depan sana.


"Sha, bisa ikut aku sekarang?" tanya Raga lembut. Bahkan untuk menyentuh sang istri pun ia belum berani.


Sadar jika dirinya pun di posisi Tasha tentu tak akan mudah untuk menerima semua ini. Bibir mungkin bisa saja berkata demikian. Tapi, tidak dengan hati.


"Kemana? Aku lelah. Jika tidak penting sebaiknya aku di rumah saja." ujar Tasha dingin namun tetap bersuara lembut.


"Ada hal penting yang ingin dokter sampaikan. Dan aku ingin kamu juga ikut. Aku tidak tahu ada apa sebenarnya." Tasha sontak mengerutkan kening mendengar ucapan sang suami.

__ADS_1


Raga pun mengangguk sebagai tanda mengajak kembali sang istri. Tasha segera bergegas keluar kamar lebih dulu meminta bibi untuk membereskan rumah.


"Kenapa mereka di bawa juga?" tanya Raga melihat Tasha memanggil Agatha dan Gara.


"Bibi sedang sibuk. Aku tidak ingin mereka sampai kenapa-kenapa karena tidak ada yang mengawasi." jawab Tasha menggandeng kedua tangan bocah itu.


Jujur Raga sangat kasihan melihat Agatha kecil yang hanya diam. Tentu ia merasa canggung berada di tengah-tengah orang baru seperti mereka.


Tapi ada satu hal yang menarik di mata Raga. Perhatian Tasha secara tak sengaja terlihat adil. Ia tidak hanya mencemaskan keadaan Gara melainkan juga pada Agatha.


Kini keempat orang itu sudah tiba di rumah sakit. Dimana tempat yang di katakan dokter pada Raga. Seorang perawat datang membuka pintu kepala rumah sakit untuk Raga dan lainnya.


Kening Raga sempat mengerut kecil melihat ia justru di panggil oleh kepala rumah sakit.


"Silahkan duduk Tuan Raga dan Nyonya Tasha." Mereka berdua saling pandang sampai pada akhirnya pria yang menjabat sebagai kepala rumah sakit itu menangkupkan kedua tangan dengan wajah takut.


"Ada apa ini?" tanya Raga langsung pada intinya.


"Saya benar-benar minta maaf, Tuan. Jika hasil tes DNA itu ternyata tertukar dengan milik orang lain. Kami lalai. Mohon maafkan kami, Tuan. Dimana hasilnya ternyata adalah Nona Agatha bukanlah anak dari Tuan Raga." Betapa kagetnya semua yang mendengar. Tasha sampai membulatkan matanya syok mendengar pernyataan dokter di depannya.


Antara senang, marah, kecewa, dan sedih Raga rasakan saat ini. Pun dengan Tasha yang merasa seperti bisa bernafas lega seketika.


"Apa yang anda katakan, Dokter? Drama macam apa ini? Mengapa kalian bisa lalai begitu?" tanya Raga naik pitam.


Karena kelalaian mereka Raga justru hampir bercerai dengan Tasha. Bahkan ia sampai mendapat pukulan dari sang ayah.


Raga tak kuasa mendengar kebenaran ia tak tahan lagi langsung memeluk sang istri dengan air mata yang berjatuhan. Kali ini masalah mereka tak lagi ada.


"Sayang, maafkan aku sudah membuatmu sedih." ujar Raga menciumi kepala Tasha.

__ADS_1


"Aku juga minta maaf karena sudah goyah dalam menghadapi masalah di pernikahan kita, Ga." sahut Tasha.


Mereka berpelukan erat dengan mata terpejam di ruangan itu. Sang dokter yang ketakutan masih menunggu keputusan dari Raga.


"Kita akan besarkan Agatha dan Gara bersama-sama. Aku ikhlas merawatnya seperti anakku sendiri." ujar Tasha.


"Iya, Sayang. Tolong berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku apa pun yang terjadi." ujar Raga dan Tasha mengangguk.


Kini tatapan Raga kembali pada dokter di depannya. "Kali ini anda saya maafkan karena pernikahan saya tetap utuh. Jika saja tidak mungkin saya akan menghancurkan karir anda, Dok. Bekerjalah dengan baik jangan merugikan pihak lain lagi dengan kelalaian anda."


"Terimasih. Terimakasih, Tuan."


Sepulang dari rumah sakit mereka bersenang-senang di mall. Agatha pun mulai akrab dengan Gara lantaran Tasha yang berusaha mendekatkan mereka.


"Gara, temanin Kakaknya main di sana yah? Mami sama Papi jaga kalian dari sini saja." ujar Tasha.


"Oke, Mami." jawab Gara menurut. Baginya semua tak jadi masalah selama sang Mami tersenyum bahagia seperti ini. Gara pun senang melihat kedua orangtuanya selalu menempel sejak dari rumah sakit.


"Kita punya anak sepasang, aku bahagia." ujar Tasha.


"Aku juga bahagia asal kamu bahagia, Sha." Satu kecupan Raga berikan pada kepala sang istri.


Kini perjuangan Raga mendapatkan cinta wanita yang telah melahirkan anak untuknya berakhir bahagia. Ia bisa mendapatkan cinta serta ketulusan sang istri yang bahkan dengan suka rela merawat anak yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka berdua.


Sedangkan Tasha, kini ia mendapatkan kebahagiaan dengan memiliki cinta suami yang sangat besar untuknya. Raga benar-benar berubah menjadi sosok pria yang sangat di idamkan para kaum istri di luar sana. Sejak kepergiannya untuk kuliah meninggalkan Tasha dengan sejuta penderitaan, jiwa playboy Raga pun menghilang berganti menurun pada sang anak yang suka tebar pesona pada lawan jenisnya.


Memiliki saudara tak sedarah bukan berarti memberikan perbedaan dalam rumah tangga mereka. Tasha memperlakukan adil kedua anaknya.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2