Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Bab 6


__ADS_3

Sesampai di rumah, aku dan kedua orangtuaku merasakan suasana yang begitu sunyi di rumah. Rasa ingin melakukan apa pun tidak ada semangat sama sekali. Bahkan Mami Tasha sampai meminta pada Papi untuk pergi berlibur. Aku sudah tak asing lagi dengan permintaan itu. Menjadi ibu yang begitu sayang dan dekat pada anaknya membuat Mami Tasha selalu sedih setiap kali menyaksikan kepergian anak tampannya. Andai aku juga di posisi Gara mungkin hidupku begitu bahagia melihat bagaimana sedihnya kedua orangtua ku setiap kali aku pergi untuk kuliah.


"Agatha, Mami dan Papi harus pergi yah? Karena kamu kuliah maka tidak mungkin kami membawamu." Mami Tasha pun berkata demikian padaku sebab tak ingin jika aku berpikir hal buruk padanya.


Aku tersenyum paham. "Iya, Mi. Tenang saja. Aku akan fokus kuliah sembari menunggu giliranku berlibur nanti." Mereka terkekeh mendengar ucapanku.


Hari itu juga aku berpindah rumah ke rumah kakek Dahlan dan Nenek Rima. Sebab Papi Raga tidak mungkin membiarkan aku sendirian di rumah hanya dengan pelayan. Dari sana aku bisa melihat jika mereka begitu perduli padaku dalam hal sekecil apa pun.


Di depan rumah Kakek dan Nenek aku mendapatkan ciuman kepala dari Mami Tasha serta pelukan hangat. Sementara papi Raga hanya mengusap puncak kepalaku dan aku mencium punggung tangan Papi. Di sampingku ada Kakek dan Nenek yang juga menyaksikan keberangkatan Mami dan Papi. Setelahnya barulah kami semua masuk ke dalam rumah.


"Segera mandi kita akan makan malam yah?" ujar Nenek Rima lembut dan aku masuk ke kamar yang biasa aku tempati.


Rumah yang sering aku aku tinggali setiap kali Papi dan Mami berlibur berdua. Aku sangat senang ketika dewasa hidupku tak hanya di kelilingi Mami dan Papi saja. Tapi Kakek dan Nenek dari papi mau pun mami semuanya baik padaku.


Dimeja makan aku menatap hidangan yang semua adalah menu kesukaanku. Wajahku berbinar ketika melihat senyum nenek dan kakek.


"Bagaimana? Suka makanannya?" Aku mengangguk cepat.


"Yasudah ayo makan. Malam ini Agatha harus temani Nenek nonton televisi yah?" Senyumanku perlahan pudar mengingat nenek kembali menyogok aku. Beberapakali menginap di sini aku selalu mendapati permintaan Nenek untuk menemaninya nonton sinetron kesukaannya.


"Eh i-iya, nek."


"Bunda ini kenapa sih? Usia Agatha itu bukan seleranya lagi menonton sinetron ketinggalan jaman seperti itu." Suara kakek Dahlan yang menyahut membuat raut wajah Nenek tak suka.


"Ayah ini kok bicara begitu sih? mana ada namanya jaman untuk menonton film." Keduanya beradu mulut sampai harus menunda tangan yang ingin menyendok makanan ke dalam mulutnya.


"Nek, Kakek, tidak apa-apa kok. Agatha juga bingung mau ngapain malam ini sebelum tidur." Sahutku menghentikan perdebatan keduanya.

__ADS_1


Dan berakhirlah makan malam kami dengan cepat. Dimana Nenek begitu antusias meminta Bibi membuatkan cemilan. Padahal baru saja semalam Gara memaksa aku untuk bergadang. Dan sekarang aku harus bergadang sama nenek lagi. Tak apa lah. Kapan lagi aku bisa menikmati waktu berdua dengan Nenek. Usia nenek sudah senja dan aku takut jika salah satu dari mereka akan pergi meninggalkan kami semua. Meski pada kenyataannya hidup di dunia tak ada yang kekal tentunya.


"Aduh...kenapa mati sih kakaknya? Gimana Agatha? Nenek kesel loh. Kan kalau mati jadi rahasianya nggak ada yang bisa bongkar nantinya." Aku terkekeh saja mendengar nenek semakin emosi menyaksikan jalan cerita film di depan sana.


Inilah alasan mengapa tak ada yang mau menemani Nenek menonton termasuk Gara dan Mami Tasha. Sebab mereka tak mau pusing mendengar semua umpatan Nenek Rima. Yah, bagiku itu wajar. Mungkin di usia tua selera humornya akan semakin menurun dimana hal-hal yang menyebalkan justru di rasa seru untuk di tonton.


"Nek, tenang. Jangan sampai tekanan darah Nenek naik. Mau Agatha sambil pijat nggak kakinya?" tawarku.


"Wah makin seru itu kalo nonton ada yang pijitin. Mau dong." Nenek menyodorkan kakinya padaku. Dengan senang hati aku memijit kaki Nenek.


Sebab aku pun bingung harus melakukan apa. Ponsel tak ada yang menghubungiku lagi. Rasa kecewaku pada Morgan membuat aku semakin takut percaya dengan sembarang pria.


Yah, aku harus benar-benar teliti pada pria yang akan dekat denganku ke depannya. Hingga waktu beranjak pada pukul sebelas malam, dimana kedua mataku mulai melihat kaki nenek seperti bantal. Sayup-sayup aku kembali mengerjapkan kedua mataku agar tidak tertidur. Sumpah serapah yang nenek ucapkan semakin lama justru seperti dongeng untukku yang mengantuk berat.


"Bunda, ayo masuk kamar. Sudah malam." Suara dari Kakek membuat aku bernapas lega.


"Memangnya kerjaan Ayah sudah selesai? Kalau belum nggak apa-apa kok. Di lanjut aja." Mendengar itu ku lihat Kakek menghela napas kasar.


Akhirnya tubuhku bisa menyentuh kasur juga dengan nyaman. Hingga mataku tanpa tahan lagi segera terpejam lelap.


***


Samar telingaku mendengar suara-suara berisik. Rasa kantuk yang masih menyerang kedua mataku terpaksa harus ku buka. Hingga aku berdiri ke arah jendela kamar dimana di bawah sana ku lihat sepasang suami istri yang lanjut usia ternyata tengah senam pagi mengikuti instruktur dari sebuah laptop.


Sungguh pemandangan yang mengharukan. Di usia senja mereka pun masih saja menjaga keharmonisan pernikahannya. Kelak aku ingin seperti Kakek dan Nenek serta Mami dan Papi yang hidup rukun. Meski aku tahu dari setiap pernikahan pasti memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Tapi, yang terpenting adalah komitmen mereka untuk saling bersama dan setia. Itu adalah pondasi yang utama menurutku.


Mengingat jadwal kuliahku ada di jam pagi, aku bergegas bersiap menuju kampus. Ponsel yang sejak tadi berdering barulah aku buka kembali setelah dijalan menuju kampus. Panggilan dari beberapa temanku yang aku hubungi kembali dengan panggilan video grup.

__ADS_1


"Agatha!" Suara ribut terdengar seketika.


“Aduh berisik. Ada apa sih? Pagi-pagi sudah rempong semua." ujarku merengut sambil tetap fokus menyetir kemudi.


"Mana Gara? Agatha, kalian nginep dimana? Kok rumah pada sepi sih?"


"Apaan sih orangnya sudah nggak ada masih juga di bahas. Gara sudah pulang." sahutku yang serentak membuat kelima temanku berteriak histeris kembali. Telingaku rasanya sampai berdengung mendengarnya.


Memilih abai kini panggilan itu pun segera ku putuskan. Jangan sampai aku kecelakaan hanya karena mereka yang tergila-gila pada adikku.


Sesampainya di kampus kedatangan mobilku sudah di kejar oleh mereka semua sampai di tempat parkir. Hanya gelengan kepala yang bisa ku lakukan saat ini melihat tingkah mereka semua.


"Bagus kalau liburan jangan ke sini deh, Gar. Setidaknya sampai mereka semua lupa sama kamu. Aku yang pusing menghadapi mereka semua. Tapi, kalau Gara nggak pulang aku juga yang kesepian. Apalagi kemarin datangnya cuman sebentar lagi." gumamku dalam hati.


Sejak hari itu aku fokus dengan kuliah. Gara yang sudah tiba pun di Jerman hanya beberapa kali mengirimkan aku kabar. Dan bertanya keadaanku. Tak lupa ia mengingatkan padaku untuk tidak pacaran. Sebelumnya ia hanya sering mengingatkan jika aku harus hati-hati bergaul. Tapi, setelah kejadian itu ia memintaku untuk tidak lagi pacaran sampai waktunya tiba.


Dan kini sudah tiba waktunya aku libur semester. Dimana aku sangat ingin sekali pergi berlibur. Pagi hari yang cerah aku di sambut dengan sapaan hangat dari mami Tasha di dapur.


"Selamat pagi, Sayang." Senyuman cantik Mami membuat aku sebagai seorang wanita bahkan iri. Jika mungkin aku adalah anak kandung Mami mungkin aku akan cantik sepertinya.


"Pagi, Mi. Loh Papi mana? Kok nggak ada di meja makan?" Aku memilih bertanya setelah melihat meja makan kosong.


Jika biasanya Papi Raga akan duduk di sana dengan laptopnya sembari menunggu mami menyiapkan sarapan, tidak pagi ini.


"Papi kamu lagi sakit tuh di kamarnya." Wajahku yang ceria mendadak lenyap mendengar papi sakit. Tak biasanya Papi jatuh sakit seperti ini dan di sana mami Tasha ku lihat tengah menyiapkan bubur sarapan untuk Papi.


"Aku ikut ke kamar yah, Mi?" tanyaku dan Mami pun mengangguk.

__ADS_1


Niatku untuk berlibur menjenguk adikku batal. Tak tega rasanya jika aku harus pergi berlibur ketika Papi tengah sakit dan Mami pasti akan membutuhkan bantuan kecil dariku.


"Gimana sudah packing barang kah?" Pesan singkat yang ku baca di ponselku saat ini. Saat aku berdiri di dekat ranjang Papi yang tengah muntah-muntah di bantu oleh Mami.


__ADS_2