Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Pertanggung Jawaban Raga Untuk Tasha


__ADS_3

Pandangan mata hitam milik Raga kini tak lepas memandangi wanita cantik yang telah melahirkan anaknya. Tasha berjalan dengan kebaya putih yang sangat indah tak banyak assesories di kebaya itu namun bahan yang sudah full cristyal putih tampak berkilau mengikuti lekuk tubuh Tasha. Ia berjalan dengan di dampingi dua orang wanita yang juga menampakkan kecantikannya, mereka adalah Rima dan Indri. Sementara Raga duduk di sini di temani sang anak di belakangnya. Semua fokus mereka pada ketiga wanita itu.


"Kakak cantik sekali seperti akan menjadi wanita pengantinnya." celetuk Gara yang membuat Firman tersenyum.


"Kakak kan memang akan menjadi pengantin wanita, Gara."


Kini Tasha pun tiba dan duduk di samping Raga. Pria tampan itu memandangi lekat sang calon istri yang sibuk menata gaunnya. Sungguh ini adalah momen yang sangat di tunggu olehnya. Tak sia-sia Raga memperjuangkan semua waktunya demi mendapatkan kembali maaf dari keluarga Tasha dan juga wanita itu.


"Wanita yang Ibu pilih memang nggak salah kan, Fa? Lihat, Tasha sangat cantik. Kamu terlalu sok jual mahal begini jadinya keduluan sama orang lain." Di sini Bu Dewi pun turut hadir kala mendapat undangan, bukan dari Tasha melainkan dari Raga yang memang sengaja ingin memperlihatkan kebahagiaan ini pada mereka. Setidaknya Raga sudah memberi peringatan halus jika mereka tak lagi boleh mengganggu sang istri nantinya.


Rafa hanya diam memandangi Tasha, dalam hati ia membenarkan perkataan sang ibu. Lagi-lagi ia harus menjalani hari dengan mencari wanita lain. Aura kecantikan Tasha saat ini sungguh menghipnotis semua mata yang melihatnya. Tak ada satu pun yang bisa percaya jika tubuh ramping itu telah melahirkan satu anak yang kini sudah tumbuh dengan wajah tampannya.


Penghulu pun kini meminta persiapan mempelai pria dan mereka langsung melakukan akad nikah saat itu. Tasha nampak tegang saat mendengar Raga mengucapkan kalimat sakral tersebut. Air mata Firman kembali jatuh ketika semua orang di ruangan itu berseru kata 'sah'. Berakhir sudah masanya untuk menjaga sang anak. Tasha sudah benar-benar menjadi istri dari Raga.


Sama halnya dengan Tasha yang menjatuhkan air mata saat ini, pernikahan dadakan membuatnya tak bisa berpikir banyak dan kini Tasha baru benar-benar yakin jika dirinya telah menjalani pernikahan. Raga benar-benar membuatnya tak habis pikir. Bagaimana mungkin pernikahan yang seharusnya di persiapkan jauh-jauh hari justru mendadak seperti ini? Namun, tak ada penyesalan sama sekali di hati Tasha. Semua yang terjadi hari ini sudah sangat sempurna bahkan lebih dari yang menurut Tasha menjadi impian wanita.


Dari segala dekorasi, gaun, serta persiapan keluarga semua terlihat begitu sempurna. Raga memang tak tanggung-tanggung dalam mempersiapkan ini semua. Bahkan sebuah designer ternama ia ambil dari luar negeri tentu dengan mencari tahu orang yang menjadi panutan sang istri.

__ADS_1


"Terimakasih mau menerimaku..." itulah kata yang Raga ucapkan saat Tasha di minta penghulu untuk mencium punggung tangan sang suami. Tasha tersenyum tanpa menjawab ucapan sang suami. Ada perasan senang sekali gus malu yang Tasha rasakan saat ini.


Kali ini Tasha tak lagi bisa galak pada Raga, bahkan cuek. Sebab ia sudah sah menjadi istrinya. Dimana sikapnya harus lembut dan patuh dengan pria tampan di depannya. Memejamkan mata saat merasakan keningnya di kecup lembut oleh Raga. Keduanya tertawa saat mendengar tepukan hore dari sang anak di belakang.


"Are you happy boy?" tanya Raga sembari mengusap kepala Raga dengan sayang. Di wajah bocah itu terlihat jelas ia sangat senang saat ini.


Hari itu pernikahan berjalan dengan lancar hingga malam harinya para teman-teman sekolah Raga mau pun Tasha juga datang. Ada perasaan malu saat Tasha bertemu mereka, namun tidak satu pun yang berani mengungkit hal masa lalu di depan Tasha. Semua tentu karena Raga telah menjelaskan jika murni yang terjadi adalah kesalahannya. Mereka semua yang membicarakan Tasha justru nampak kasihan. Selama ini Tasha membesarkan Gara bersama orang tuanya, dan itu bukanlah hal mudah.


Semua yang pernah terjadi membuat Tasha trauma sudah Raga hilangkan. Yah dengan cara membuat nama sang istri kembali baik. Tak perduli dengan namanya yang justru di salahkan banyak orang, Raga benar-benar mempertanggung jawakan semua ulahnya pada Tasha.


"Iya bener. Kita nggak dukung sebenarnya lu nerima laki-laki begitu. Tapi kayaknya Raga sudah berubah. It's oke lah."


"Maafin kita yah, Sha. Meski pun kita nggak ikut bully lu waktu itu. Tapi kita nggak bisa belain lu juga. Sekarang kita baru sadar kalau lu seharusnya kita belain. Lagian lu nggak cerita sama kita-kita sih. Kan kita juga kaget jadinya.


"Lu benar-benar wanita baik, Sha. Makanya Tuhan kasih ujian yang paling berat yah ke lu."


"Sebagai permintaan maaf kita semua, malam ini Gara sama kita yah? Waktunya lu malam pertama sama si Raga. Kita masih boleh kan nginep di rumah lu?"

__ADS_1


Teman-teman di masa SMA yang datang membuat Tasha merasakan kehidupannya kembali lagi. Meski mereka lama tak bertemu dan sempat merasa asing, akhirnya Tasha bisa kembali merasakan kehidupannya yang seru. Tasha terkekeh saat mendengar semua teman wanitanya berbicara tentang kejadian di masa lalu bahkan bersedia menjaga Gara satu malam demi malam pertama Raga dan Tasha.


Di sana Raga pun juga mendapat ceramah dari para temannya setelah tahu apa yang terjadi selama ini.


"Wah lu payah, Ga. Tau gitu gue cari Tasha dan siap jadi papahnya Gara."


Mata Raga mendelik mendengar ucapan sang teman.


"Iya benar, gue pun siap jadi papinya Gara. Mana Tasha pesonanya nggak ada matinya lagi. Makin ke sini malah makin hot. Payah lu, Ga."


"Emang lu cocok aja sih sama si Vira. Sama-sama nggak punya hati. Satunya nyebarin aib orang, satunya ninggalin Tasha saat hamil anak sendiri. Nggak habis pikir gue."


Raga hanya bisa terdiam tak bisa membela diri. Tak apa semua orang menghakiminya saat ini yang terpenting di sana Tasha sudah tersenyum berbincang bersama teman-temannya yang kata Indri, ibu dari Tasha anaknya tak mau lagi bertemu orang luar bahkan teman-temannya. Sebab Tasha merasa trauma mengingat masa lalunya yang begitu memalukan.


Dari sini Raga memandang Tasha di tengah teman-temannya yang terus menghakimi Raga tiada henti, sedang Tasha di sini menatapnya dengan binar mata bahagianya saat teman-temannya juga terdengar riuh bercanda.


Tatapan dalam yang penuh cinta dan ada kerinduan yang terasa bergejolak tak lagi bisa di tahan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2