Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Bab 12


__ADS_3

Jika aku pikir tiba di apartemen akan segera tidur, nyatanya itu hanya omong kosong Gara untuk segera pulang dengan mengatas namakan kuliah pagi. Langkahku tiba-tiba saja terhenti ketika tanganku di cekal kuat oleh adikku.


"Apa sih, Gar aku ngantuk?" Betapa kagetnya aku melihat lirikan mata anak nakal itu yang justru menuju meja dimana tersedia kopi dan gelas bersih.


"Hah? Ngopi? Kamu nggak bercanda kan? Kita pulang buat segera ti-"


"Cepat buatkan aku kopi. Aku tunggu di sana." tunjuknya yang sudah melangkah ke arah sofa.


Aku menghela napas kasar. Mungkin malam ini aku akan leluasa menceritakan semuanya pada adikku juga. Rasanya tidak lega jika aku masih terus saja diam menutupi semua yang terjadi dari siapa pun. Setidaknya aku butuh satu orang untuk menjadi teman curhatku.


"Ada apa?" saat tubuhku baru saja duduk di samping Gara, tiba-tiba saja tangannya sudah mengacak rambut poniku.


Tanpa sabar aku pun menceritakan semuanya pada Gara sembari meletakkan segelas kopi yang ia minta. Kali ini aku tidak ikut minum sebab tubuhku akan butuh istirahat yang cukup malam ini. Yang penting aku sudah meluangkan waktu sampai Mami dan Papi pulang. Setelah nya aku akan tidur tak perduli jika Gara tetap memaksaku.


Ku ceritakan bagaimana kesedihanku sampai akhirnya Mami Tasha mendadak mengajak aku liburan. Keseharianku yang penuh warna dengan para sahabatku rusak karena satu orang, yaitu Morgan. Bahkan aku sudah berinisiatif untuk mengikuti kata Mami Tasha agar memaafkan Rifana yang mungkin saja memang tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Kenapa harus sedih?" Pertanyaan ketus Gara membuat aku heran. Ku tatap wajahnya penuh tanya. Panjang lebar aku cerita padanya mengapa hanya pertanyaan itu yang Gara ucapkan?


"Gar, kamu simpati sedikit nggak sih sama kakak mu ini?" Aku mengubah posisi duduk ku menjadi menghadap Gara yang duduk di sampingku.


"Simpati itu pada kesedihan yang tepat. Bukan kesedihan manja seperti itu." Rasanya kesal sekali mendengar ucapan Gara. Jika menjadi teman curhat Gara memang selalu tak asik. Ia akan seru jika kami bercerita yang seru bukan sebuah masalah.


Sejenak aku diam enggan mengeluarkan suara lagi. Rasanya datang jauh-jauh menemui adikku saat ini sangat percuma. Justru pikiranku yang kacau di buat semakin sedih saat ini.


Aku menunduk mataku ku rasakan semakin panas ketika menahan air mata.


"Itu bukan masalah. Keluarga adalah satu-satunya tempat kita bisa berharap banyak untuk menjadi teman hidup. Bukan sahabat yang tidak tau kapan datang dan perginya. Tidak tahu tulus atau tidaknya. Sudah aku katakan bukan, berteman itu sewajarnya jangan terlalu tinggi harapannya akan damai sampai kakek nenek. Orang menikah aja bisa cerai." tutur Gara panjang lebar.


"Terus aku harus gimana, Gar?" tanyaku bingung dengan suara putus asa.


Sebentar lagi perkuliahan akan di mulai. Dimana artinya aku akan sering bertemu sahabatku yang entah saat ini masih menganggap aku sahabat atau tidak. Tak enak rasanya jika aku dan mereka tidak sama-sama heboh di kelas. Membayangkan bagaimana Rifana yang justru menggantikan aku di grup sahabat itu.

__ADS_1


Pelan aku menoleh ketika aku merasa aneh. Tatapan mata Gara yang begitu dalam membuat aku gelagapan saat ini. Hingga suara pintu terbuka membuat tatapan itu begitu cepat beralih. Aku pun ikut menoleh dimana ternyata Papi dan Mami yang pulang. Mataku begitu cepat beralih pada bawaan di tangan Papi yang sangat banyak.


"Wah Mami belanja banyak banget?" tanyaku antusias membantu Papi meletakkan barang belanjaann. Bukannya menjawab, justru Mami Tasha balik bertanya.


"Loh kalian nggak jalan?"


"Tuh Gara ngajak cepat pulang katanya sih mau kuliah pagi besok, Mi." ujarku menjawab sesuai faktanya.


"Yasudah kalian segera istirahat. Lagian kamu pasti juga capek? Ayo masuk kamar ganti bajunya." Aku tersenyum patuh mengikuti perintah Mami Tasha.


Meski sudah dewasa aku selalu seperti anak kecil jika mendengar perintah Mami Tasha padaku. Gara pun demikian tak bisa lagi membantah. Kami semua masuk ke dalam kamar masing-masing. Begitu pun dengan Papi dan Mami yang masuk ke kamar.


Beberapa foto yang ku dapatkan bersama adikku yang tak nampak wajahnya dari depan hanya dari samping segera aku posting di sosial media. Dengan semua ucapan Gara yang singkat dan menusuk hati kini aku sedikit mulai paham. Mengapa aku harus sampai sefrustasi ini dengan tingkah mereka semua. Sedangkan aku hidup bukan dari mereka. Ada keluarga yang selalu memberikan kasih sayang tanpa batas padaku.


Aku mulai menanamkan pada diri sendiri untuk tetap bahagia. Aku pasti bisa bahagia, sebab mereka berlaku demikian padaku pun tak ada aku membuat kesalahan. Mengapa aku harus yang menyelesaikan ini semua. Hingga pikiranku kembali teringat.

__ADS_1


"Tapi jika ada tugas yang sulit bagaimana dengan tugasku?" Satu kelemahan yang sering kali membuat aku frustasi. Kecerdasan otakku lah yang sering kali membuat aku tak berdaya.


"Gara mah enak ngomong gitu? Kaya iya, pintar iya, serba bisa. Sedangkan aku? Kalau nggak ada mereka gimana dengan tugas-tugasku? Semua jadwal tugas di kumpul aja aku minta mereka ingatkan ke aku. Huhhh kenapa harus gini sih otakku?" umpatku kesal pada diri sendiri.


__ADS_2