
Minggu pertama menjalani pernikahan, Raga dan Tasha memilih untuk tidak melakukan honey moon dalam waktu dekat. Sebab yang utama bagi mereka adalah kasih sayang yang akan mereka berikan pada Gara demi menebus waktu yang selama ini terbuang sia-sia. Seperti minggu ini kedua pasangan suami istri yang kini masih tinggal di rumah Firman nampak ramai di dapur meski hanya mereka berdua.
Tasha yang pagi-pagi membantu pelayan menyiapkan sarapan untuk sang suami membuat semua pelayan pergi kala melihat kehadiran Raga dari arah belakang. Pria itu sukses membuat sang istri menjerit kaget kala tangannya memeluk erat pinggang langsing itu dari arah belakang.
"Ga, lepasin. Geli tau." ujar Tasha yang memberontak namun tak juga di turuti oleh sang suami
Pria tampan itu justru menghujani wajah sang istri dengan kecupan-kecupan mesra di pipi, leher, bahkan punggung putih Tasha yang tidak tertutup pakaian. Ia benar-benar tidak bisa memposisikan diri ketika tinggal di rumah mertua. Bukan tanpa alasan mereka masih menetap di rumah Indri dan Firman. Pasalnya Tasha yang memiliki kerjaan tempatnya ada di rumah itu dan bisa sekaligus di handle. Sementara Rima dan Dahlan pun tentu mengerti hal tersebut.
"Ke kamar lagi yuk, Sha. Masih kangen." ajak Raga yang berbisik di telinga sang istri sukses membuat wanita yang baru resmi menjadi istrinya itu merinding.
Hingga pelukan erat itu akhirnya terlepas saat mereka mendengar suara deheman dari sosok Firman. Jangan salah, meski pun mereka sudah menikah tetap saja Raga masih merasa sungkan dengan tatapan ayah mertua yang mengintimidasinya setiap saat.
"Papah," Tasha berbalik melihat sang papah begitu pun Raga yang langsung kikuk.
__ADS_1
"Jangan menodai mata cucu ku." sahut Firman yang hanya di balas Raga dengan menundukkan kepala.
"Kan papi sama mami mau buatkan Gara adik, Papah." sahut Gara dengan polos yang seolah paham jika dirinya lah yang di maksud oleh sang kakek.
Firman yang mendengar sontak mendelikkan mata nyalang mendengar ucapan sang cucu. Ia tak tahu dari mana Gara bisa mengerti kata-kata itu. Sedang Tasha dan Gara juga hanya diam kikuk tak menyangka sang anak bisa paham akan hal itu, meski pun Gara mungkin hanya paham dengan kata-kata tanpa tahu maknanya.
Pagi itu setelah semua usai dengan sarapan masing-masing, Firman menjadi orang pertama yang berangkat dari rumah ke kantor. Sedangkan Raga nampak sibuk memakai pakaian kerja di bantu oleh Tasha. Tentu saja hal perdana bagi keduanya setelah menikah. Raga tak henti-hentinya mengganggu sang istri yang tengah memakai kan dasi, bibir ranum Tasha sudah berapa kali mendapat serangan dadakan dari sang suami.
"Ga, berhenti. Ini kapan selesainya?" ujar Tasha kesal. Sebab ia pun belum mengurusi sang anak yang harus menata bekalnya ke sekolah.
"Mami, Papi kenapa lama sekali? Keburu Gara lapar lagi dong ini." celoteh sang anak yang ternyata sejak tadi sudah berdiri di depan pintu kamar mereka.
Tasha terperanjat kaget dan menoleh, ia kesal bukan main dengan sang suami.
__ADS_1
"Tuh kan ada Gara." sentaknya menatap tajam Raga yang hanya biasa saja.
"Sabar yah, sayang. Ini papi sudah selesai kok. Ayo mami buatkan bekalnya."
"Sudah di buatin mamah bekal Gara." tunjuk sang anak dengan bekal di tangannya yang meminta bantuan Tasha untuk meletakkan di tas ransel miliknya.
Hari itu perdana Gara di antar oleh kedua orangtuanya dengan status keluarga yang sesungguhnya. Senang sekali, sejak sarapan ia sudah di perhatikan dengan mami dan papinya.
Di depan gerbang dimana Gara di jemput oleh gurunya, kini bocah itu melambaikan tangan pada Tasha dan juga Raga. Dengan senyum di wajah bocah itu berkata pada sang guru.
"Mereka mami dan papi aku, Miss. Cantik dan tampan bukan?" mendengar pertanyaan Gara, wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk.
"Mami dan Papi Gara sangat serasi yah?"
__ADS_1
Jika di mobil setelah ini Tasha pikir akan memulai rutinitas kerjanya, wanita itu salah besar. Sebab ia tidak sadar saja jika di sampingnya saat ini Raga sudah tersenyum penuh arti diam-diam melirik sang istri. Mobil pun melaju tanpa Tasha sadari tujuan mereka saat ini kemana.