
“Loh loh mata kamu kenapa, Agatha? Kamu habis nangis?” Susah payah aku menunduk menghindari tatapan Mami dan Papi pagi ini. Nyatanya kehadiranku di ruangan itu tetap saja terlihat oleh mereka yang hendak sarapan.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala saja. “Nggak kok, Mi. Agatha buru-buru ke kampus sudah telat.” Secepat mungkin kaki ku ayunkan meninggalkan ruangan tanpa mau memberi Mami kesempatan bicara lagi.
Jika aku pikir aku akan bebas dari mereka nyatanya salah. Papi sudah berteriak memanggil namaku.
“Agatha!” Tak bisa aku menghindar lagi jika Papi sudah bersuara.
Tubuhnya terhenti seketika di ambang pintu dan ku putar ke arah mereka.
“Sayang, kamu pasti bohong. Kampus kamu kan nanti siang jam kuliahnya. Kamu ada masalah apa?” Mami mendekati aku dan menangkup wajahku. Dimana kedua mataku tampak sembab.
“Jangan buat Mami kamu cemas, Agatha.” Ku lihat sekilas wajah Papi yang menatapku tegas.
“Agatha lagi ada masalah sama teman-teman, Pi.” jawabku berbohong.
__ADS_1
Tidak mungkin aku menceritakan kebenaran tentang Gara yang berkencan dengan wanita lain dan membuat aku patah hati. Aku tidak mungkin melakukan hal itu.
“Apa ini ada hubungannya dengan Mikael?” Segera aku menggelengkan kepala cepat. Jangan sampai pria yang tidak melakukan kesalahan apa pun jadi tersudut karena aku.
“Bukan, Pi. Ini murni karena teman-temanku saja. Dan pagi ini aku ada kuliah tambahan jadi harus ke kampus segera. Mi, Agatha pergi dulu.” Ku peluk Mami yang sangat cemas menatapku.
Wanita yang begitu besar mencintai aku seperti anaknya sendiri. Mami Tasha adalah wanita yang sangat baik.
Pagi itu aku berhasil kabur dari rumah. Sepanjang jalan perasaanku masih sangat tak enak rasanya. Bayangan wajah Gara menatap wanita cantik itu terasa seperti mencabik-cabik hatiku.
“Sela! Sel!” Teriakku beberapa kali memanggil hingga aku tiba di depan kamarnya.
“Loh Agatha?” Sela sangat kaget melihat wajahku yang kacau.
Hari ini rasanya aku tak lagi punya kekuatan. Selama ini aku berusaha menahan semuanya untuk tidak di ketahui orang-orang. Nyatanya sangat sulit. Aku tidak kuat lagi memendam semuanya. Di kamar Sela aku menangis terisak memeluknya.
__ADS_1
“Tha, ada apa? Ayo cerita. Kita bisa bicarakan semuanya kok. Apa perlu aku hubungi teman-teman yang lain juga buat hibur kamu?” Segera aku menggelengkan kepala menolak.
Cukup Sela saja yang tahu kali ini. Aku benar-benar belum siap menceritakan semua pada sahabatku. Rasanya mengakui perasaan itu saja aku sangat malu.
Lama aku duduk menunduk mengusap air mata yang terus berjatuhan. Beruntung aku memiliki teman. Setidaknya ini lebih aman di bandingkan aku harus di rumah bertemu Mami yang akan terus mencemaskan keadaanku.
“Aku sakit banget, Sel. Aku sakit banget kali ini.” Ku rasakan tubuhku mendapat pelukan hangat dari Sela.
Dia mengusap lembut punggungku. “Yasudah nangis dulu gih. Setelah tenang kamu cerita. Apa ini karena Mikael, Tha?” Aku menggeleng cepat.
Sejak tadi di rumah Mikael selalu menjadi sasaran orang sekelilingku. Mereka tidak salah. Mungkin dugaan itu mengarah pada Mikael seperti masa laluku dengan mantanku dulu.
“Ini…soal Gara, Sel.” jawabku pelan dengan suara yang sangat ragu.
“Gara, adik kamu?” Pelan aku mengangguk lagi.
__ADS_1
Ku lihat wajah Sela yang penuh dengan kebingungan saat ini.