
Setelah puas berlama-lama di dalam kamar Tasha, akhirnya Raga bergegas keluar. Ia hendak menuju tempat kerja Tasha namun Raga kembali berlari masuk setelah mendapati pintu kamar terbuka dari luar.
Tasha masuk dengan wajah lemas. Ia duduk di sisi tempat tidur sembari memainkan ponsel.
“Tasha,” suara berat khas seorang pria membuat Tasha terlonjak kaget. Ia berdiri dari duduknya. Menatap tak percaya pada pria di depannya.
“Ka-kamu? Kamu ngapain di sini? Keluar dari kamar saya!” Bentak Tasha marah.
Tak suka dengan sikap lancang Raga di kamarnya. Raga pun mendekati Tasha dan membekap mulutnya. Jangan sampai orang-orang tahu ia di kamar wanita ini.
“Tolong aku butuh waktu bicara denganmu. Tolong jangan berteriak. Ku mohon.” ujarnya yang benar-benar butuh penjelasan dari Tasha.
Entah apa yang membuat Raga nekat berbuat seperti ini. Yang jelas ia sendiri sangat ingin tahu apa yang sebenarnya.
“Baiklah. Dengarkan aku.” pintah Raga.
“Siapa Gara sebenarnya? Dan siapa ayahnya?” singkat namun mewakili semua pertanyaan di benak Raga.
Tasha pun menghela napas kasar kala tangan besar Raga terlepas dari bibirnya. Dari jarak dekat Raga bisa menikmati kecantikan Tasha.
__ADS_1
Dadanya tanpa sadar berdebar begitu kuat.
“Untuk apa aku memberitahumu? Gara adalah a…” Tasha tidak tahu harus mengakui Gara sebagai apa. Ingin berterus terang namun takut jika Raga tahu Gara adalah anaknya, maka dengan mudah Raga menebak dialah ayah dari Gara.
Lama Raga menunggu jawaban Tasha hingga Tasha tak kunjung melanjutkan ucapannya.
“Gara adikku. Iya dia adikku. Ada perlu apa kau bertanya tentang adikku?” tanya Tasha dengan ketusnya.
Raga berdecih kala mendengar pengakuan Tasha. Ia sudah bisa menduga jawaban inilah yang Tasha berikan.
“Adikmu? Lalu siapa wanita yang ada di foto ini?” Kedua mata Tasha membulat sempurna melihat foto di ponsel Raga.
“Iya dia anakku. Memang ada urusan apa denganmu?” Kembali Tasha terlihat mendongakkan kepala seolah tak takut apa pun saat ini.
Raga pun pelan menarik tangan Tasha ke depannya. Hingga keduanya begitu sangat dekat saat ini.
Tasha kebingungan. “Lepaskan aku!”
Raga tak perduli. Ia terus mendekatkan tubuh mereka.
__ADS_1
“Anak siapa Gara, Tasha?” Pelan namun penuh penekanan Raga bertanya. Sontak pertanyaan itu semakin membuat Tasha sesak tak bisa bernapas.
“Tasha! Sha…” Suara seorang wanita terdengar berteriak di depan pintu kamar saat itu.
“Mamah,” Tasha menoleh ke arah pintu. Semakin tak karuan rasanya saat ini.
Kalau sampai kedua orangtuanya tahu Raga di dalam kamar, Tasha bisa saja kena marah bahkan pukulan dari sang papah. Sungguh ini bukan mau Tasha.
Tasha benar-benar tak punya pilihan lain saat ini.
“Tolong lepaskan aku!” ujarnya memohon.
Di depan pintu ketukan pun terus terdengar saat ini.
“Aku akan lepaskan asal jujur padaku. Siapa ayah Gara?” bisik Raga di telingan Tasha yang sudah ia peluk begitu erat.
Tasha benar-benar tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Ingin rasanya ia menangis memukul tubuh Raga. Namun, keadaan bisa saja membuatnya bersalah di mata orangtuanya.
Bagaimana sang papah yang sudah berusaha baik menjaganya selama ini, dan kini seorang pria di dalam kamar. Sudah bisa Tasha bayangkan bagaimana sang papah begitu murka padanya.
__ADS_1