
Wajahku benar-benar kesal melihat siapa yang turun dari mobil di depan kami. Kelima sahabatku berjalan berlenggok menaiki mobil yang aku dan Mikael tumpangi saat ini. Bahkan mereka tanpa permisi ikut masuk.
“Loh kalian?” Mikael menoleh ke belakang menunjuk semua sahabatku yang duduk tersenyum.
Aku tidak tahu apa tujuan mereka mengganggu kencanku di jalan seperti ini. Yang jelas rasa kasihan pada Mikael benar-benar membuat aku tak nyaman terus bersamanya.
“Kalian apaan sih?” Kini giliran aku yang bersuara.
Di belakang sana Sisil dan Sela saling berdempetan karena memang sempit. Sedang Endah dan Veni duduk memangku.
“Ini syarat buat kamu kencan sama Agatha, Mikael. Sebagai calon kakak ipar yang baik kamu tidak keberatan dong kalau Gara adiknya Agatha mengutus kami menjaganya.” Mataku melebar kaget mendengar ucapan Sisil.
Rasanya aku tak percaya jika semua ini adalah permintaan Gara. Apa maksudnya dan untuk apa dia melakukan ini semua? Sampai akhirnya Mikael hanya bisa mengangguk pasrah. Mobil pun kembali jalan saat ini menuju kampus.
__ADS_1
Aku hanya diam setiap kali para sahabatku berbicara ramai di belakang sana. Aku tidak ingin ikut berbicara. Mereka sudah sangat keterlaluan.
“Is Agatha nggak asik ah. Kita begini kan buat kebaikan kalian juga. Kalau nggak mau begini yaudah nikah gih.” usul Endah begitu sembrono.
Menikah adalah hal yang tidak mungkin ku lakukan sebab kuliahku belum selesai bahkan aku belum memiliki kerja yang baik. Mami dan Papi pasti akan sangat kecewa jika aku menikah tanpa menjadi wanita sukses.
“Nggak. Kalian tidak tahu apa-apa. Jadi jangan pernah bahas itu ke aku.” jawabku dengan ketus.
Begitu mobil tiba di kampus, semua sahabatku ku tarik menjauh.
“Aduh Agatha, apaan sih? Sakit tahu tangan aku.” keluh Veni yang mengusap pergelangan tangannya.
Aku benar-benar marag kali ini. “Maksud kalian itu apa sih? Kalian mau aku jadi perawan tua gitu? Kalian nggak berhak jadi Mami dan Papi aku juga. Aku mau kebebasan. Mikael pasti punya batas sabar juga di uji terus saperti ini.” Semua kekesalan ku aku utarakan pada mereka.
__ADS_1
Tanpa sadar air mataku jatuh. Jelas ini bukan sedih karena mereka membuatku kesal. Namun, ini sedih karena aku tak bisa menahan kemarahanku pada hatiku sendiri.
“Agatha, sorry. Kita benar-benar nggak nyangka akan kayak gini. Soalnya Gara sudah bujuk mereka mau nggak mau aku jadi ikutan juga gabung.” Sela mendekati aku dan memelukku.
Ia jelas paling tahu bagaimana perasaanku saat ini. Semua pun turut memeluk tubuhku. Mereka terlihat ikut sedih melihat aku menjatuhkan air mata.
“Maafin kita, Agatha. Habis Gara bujuk kita semua buat ngikutin kamu dan Mikael.” Aku tahu ini pasti karena pesona Gara yang membuat semua sahabatku jadi ikut bertindak konyol.
“Yang sahabat kalian kan aku. Bukan Gara. Harusnya kalian dukung aku dong buat dekat sama Mikael. Kalian sendiri yang bilang Mikael pria baik-baik.” Semua mengangguk saat aku mengatakan hal itu.
Dari arah lain aku tak sengaja menoleh. Ada tubuh tinggi tegap berdiri dengan senyum yang terarah padaku. Mikael sudah mendengar ucapanku barusan.
“Astaga…kenapa aku tidak melihatnya di sana?” batinku ingin sekali berteriak malu. Baru saja secara tidak langsung aku mengatakan pujian pada pria itu.
__ADS_1
“Iya kita sahabat kamu, Agatha. Kita janji deh tidak akan belain Gara lagi. Kita dukung kok kamu sama Mikael.” Meski rasanya aku lega mendengar dukungan para sahabatku. Tapi tetap saja aku merasa ada hati yang kosong dan belum terisi dengan kelegaan di dalam dada.
Pikiranku masih terlalu sibuk memikirkan pria yang entah sedang apa saat ini.