
“Apaan sih, Gar? Nggak usah lebay gitu kenapa?” Aku marah melihat keanehan adikku saat ini. Kesal bersama dengannya, aku memilih untuk meninggalkan Gara.
“Apa perhatian dan kekhawatiran aku selama ini begitu lebay buat kamu, Tha?” Pertanyaan yang seketika membuat telingaku merasa aneh.
Keningku mengerut dalam tak tahu apa arti dari ucapan Gara sebenarnya. Ku tatap wajahnya dalam diam. Perasaanku mendadak membaca aura yang berbeda. Tubuh di depanku bergerak perlahan mendekati aku.
“Aku sudah tidak bisa lagi menahan ini semuanya, Agatha. Aku cemburu melihat kamu dekat dengan pria di luar sana.” Ucapan Gara bagai petir di siang bolong.
Bibirku bergerak tak beraturan. Kepalaku menggeleng seiring kedua mataku yang bergerak tak menentu. Bagaimana mungkin Gara mengatakan hal ini padaku.
“Hehe kamu ngomong apa sih? Nggak usah mendramatisir deh, Gar.”
Saat itu juga Gara menunduk dan ku ikuti pandangan yang tertuju pada kedua tanganku. Hangat genggaman tangan dan pelukan yang entah bagaimana bisa ku dapatkan saat ini. Kepalaku bahkan ia taruh di dada bidang yang berlapis kain aroma maskulin itu.
__ADS_1
“Aku tahu aku salah. Tapi, apa kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan, Agatha? Aku memiliki cinta yang begitu besar untukmu.” Ucapan Gara berkali-kali rasanya membuat jantungku ingin melompat.
Aku sadar ini tidak benar. Ku dorong kuat dada bidang itu. Aku menatap Gara dengan tatapan marah. Kini aku sadar jika apa yang ia katakan bukan salahku mendengarnya.
Aku mundur perlahan dan menggeleng. Ku lihat tatapan mata Gara berkaca-kaca menatapku.
“Ini gila, Gara. Aku adalah kakakmu meski hanya kakak angkat. Ini nggak boleh terjadi. Kamu sudah gila? Kamu tahu ini sangat melukai Mami dan Papi nantinya.” Aku berlari keluar rumah tanpa mau berdua dengannya di rumah besar ini.
Air mataku jatuh. Rasanya masih sulit percaya jika aku sudah mendengar adikku sendiri mencintaiku saat ini. Berulang kali aku menggelengkan kepala merasa tak percaya.
“Kamu nggak boleh bertindak tidak tahu balas budi, Agatha. Mami Tasha begitu menyayangimu. Bagaimana mungkin kamu melukai hati wanita sebaik Mami Tasha?” Aku menangis dalam perjalanan.
Kini aku sadar apa yang ku rasakan dalam kenyamanan bersama Gara sedikit banyak adalah rasa yang tidak aku sadari jika itu adalah cinta. Merasa kehilangan yang sering kali membuatku sedih saat di tinggal olehnya.
__ADS_1
“Nggak! Ini nggak benar. Ini nggak boleh terjadi, Agatha. Gara sudah seperti adikmu.” Ku kuatkan tekatku untuk membentengi diriku sendiri.
Aku pergi ke rumah salah satu mantan sahabatku. Sisil, aku masuk ke rumah itu dan menuju kamarnya. Tentu saja ia sangat kaget melihat aku datang ke kamar dan membaringkan tubuhku di sofa panjang itu.
“Oh my God, Agatha!” Jeritnya syok mendapati aku masuk ke rumahnya.
Aku tak perduli Sisil akan berkata apa. Yang jelas saat ini aku butuh tempat yang aman untuk mencerna semua yang terjadi.
Gara, hanya nama itu yang terus berdengung di kepalaku. Beberapa kali aku memejamkan mata namun hasilnya selalu sama. Aku selalu melihat tatapan matanya yang teduh penuh cinta padaku.
“Tha, are you okay?” Sisil mendekat dan memegang lenganku.
Aku hanya diam memejamkan kembali mataku. Mungkin sebuah keajaiban aku mau datang ke rumahnya. Tapi, aku tidak perduli dengan hal itu saat ini.
__ADS_1