Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Sikap Yang Di Luar Dugaan


__ADS_3

Pagi harinya Gara yang tak kunjung membuka pintu membuat Raga semakin panik. Ia memaksa membuka pintu kamar anaknya ketika terbangun dari tidur di depan pintu. Sejak kepulangannya Gara memang tak berniat membuka pintu kamar mendengar kepulangan sang papi. Ia benar-benar kecewa di abaikan begitu saja oleh Raga. Bahkan Tasha yang berada di dalam kamar bersama sang anak hanya diam tanpa memaksa Gara membuka pintu. Sebab dirinya pun merasakan apa yang Gara rasakan saat ini.


"Tasha, Gara." Pintu terbuka dan terlihatlah mereka berdua tidur saling berpelukan. Bahkan mata Tasha yang nampak sembab semakin membuat Raga ngilu melihatnya.


"Sha..." pelan pria itu melangkah mendekati ranjang.


"No, Papi. Berhenti di situ jangan mendekati kami lagi!" ucapan yang lucu namun menyakitkan bagi Raga. Bagaimana mungkin sang anak sekecil Gara justru menghentikan pergerakan langkahnya dan menatap dengan tatapan tak suka saat ini. Seolah usia Gara berubah mendadak jadi dua puluhan tahun.


"Gara, Papi bisa jelaskan. Ayo kemari dengan papi..." Raga menatap sendu sang anak kecil dengan kedua tangan yang merentang meminta Gara mendekat masuk ke pelukannya.


Hal lain justru Gara lakukan saat ini. Ia beranjak membangunkan sang mami dan meminta segera bersiap. Entah bersiap untuk apa yang jelas Raga hanya mendengar ucapan sang anak meminta Tasha bersiap untuk kesepakatan mereka semalam.


"Mami, sudah hampir siang. Ingat kesepakatan kita semalam, ayo segera bersiaplah." Gara berubah menjadi anak yang melindungi sosok maminya. Ia menuju kamar mandi dan mandi sendiri. Raga melihat bagaimana pergerakan sang anak yang sok dewasa membuka pakaiannya meski kesulitan. Semua akting Gara benar-benar sempurna menjadi pria yang sedang marah.


Bahkan ia mandi sendiri tanpa memnta bantuan siapa pun. Tasha pun demikian ia bergegas keluar kamar usai mengusap wajah.

__ADS_1


"Gara, papi ingin bicara sayang." Raga mendekati ruangan dimana sang anak tengah kesulitan menghilangkan busa sampo di kepala mungil miliknya.


"No, Papi!" tolak tegas Gara ketika merasakan tangan Raga yang ikut menyiram kepalanya agar bisa membuka mata. Sebab terlihat jelas bagaimana Gara kesulitan bernapas ketika matanya terjatuhi oleh busa sampo.


Kelucuan itu nyatanya tak bisa membuat Raga tenang. Pikirannya semakin kacau kala penolakan sang anak semakin jelas di rasakannya.


Memilih baju dan memakai, Gara masih dalam pengawasan Raga. Setiap kali pria itu menawarkan bantuan, selalu saja Gara menolak dengan tegasnya. Hingga kedatangan Tasha pun terdengar saat itu di kamar kecil Gara.


"Gara, ayo keluar. Biar bibi yang menyiapkan semuanya." Tasha pun menarik tangan sang anak dan Gara patuh menuju meja makan.


Tasha berjalan menuju kamar kedua orangtuanya tanpa menghiraukan bagaiman Raga berjalan mengejarnya.


Pagi ini Raga merasa bagai orang asing di rumah sang mertua. Tasha bahkan tak memberikannya kesempatan menjelaskan semua. Tatapan matanya tertuju pada pintu yang tertutup di buka sang istri lalu kembali di tutup. Ini adalah pagi kiamat dimana Raga akan mendapat sidang dari ayah mertuanya. Lemas Raga duduk di depan kursi sang anak. Mereka nampak berseberangan meja makan.


Tentu saja Raga tak ingin pernikahannya yang baru di mulai harus berakhir begitu saja.

__ADS_1


"Apa itu Tasha?" suara bernada tinggi sontak terdengar kala mendengar apa yang baru saja Tasha ceritakan sembari menangis memeluk sang mamah.


Bahkan Indri yang masih berbalut handuk kimono begitu syok mendengar jika Raga memiliki anak dari wanita lain jauh sebelum Gara. Dan kini Tasha justru meminta izin untuk pergi berlibur dengan sang anak demi menenangkan diri mereka berdua.


Sontak saja Firman naik pitam mendengarnya. Ia berdiri dari duduknya dengan berkacak pinggang. Napasnya tampak begitu memburu menahan emosi.


"Ini perasaan yang membuat papah ragu selama ini. Lihat kan, Mah? Lihat pria itu! Lagi-lagi masalah yang di buat. Dan ini adalah keputusan yang sudah kamu ambil, Tasha. Papah tidak lagi bisa ikut campur. Kamu adalah istri dari Raga. Kalian berdua wajib menyelesaikan ini semua, Papah tidak lagi bisa mencampuri pernikahan kalian."


Indri menggeleng mendengar ucapan sang suami. Tak habis pikir begitu pun dengan Tasha yang syok mendengar keputusan sang ayah yang sangat di luar dugaan.


"Ingat, mah. Jangan ikut campur. Tasha dan Raga sudah dewasa. Pernikahan adalah jalan yang mereka putuskan bahkan melawan dengan papah sejak awal. Jadi, biarkan mereka menyelesaikan sendiri." saat itu Firman nampak berjalan ke arah ruang ganti baju untuk bersiap ke kantor. Tak perduli di kamar itu Tasha memeluk sang mamah menumpahkan kesedihannya. Indri pun tak habis pikir mendengar kenyataan ini.


Melewati dua wanita di kamar itu, Firman justru keluar dengan tas kerja. Ia hanya menghampiri sang cucu dan mengecup puncak kepala Gara yang tengah sarapan.


"Sarapan, Pah." tawaran terdengar Raga berikan namun tak di gubris oleh Firman.

__ADS_1


Raga sadar jika ayah mertuanya tengah marah besar padanya. Tapi, ini semua di luar dugaan. Jika sebelumnya Raga berpikir akan mendapat pukulan bertubi-tubi dari ayah mertua. Nyatanya Firman hanya lewat dan menggelengkan kepala kecil seolah tak ada kata yang bisa mewakili semua yang terjadi saat ini selain tetap tenang dan fokus pada kerjaan. Meski pada akhirnya tentu saja sebagai seorang ayah tidak akan bisa tenang ketika anaknya mendapat masalah. Apalagi ini mengenai masa depan cucunya kelak.


__ADS_2