Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Tanggung Jawab


__ADS_3

Ketika suara dering ponsel terdengar beberapa kali namun tak juga berhasil membangunkan keduanya, akhirnya mata yang semula terpejam membulat sempurna ketika benda pipih itu berhasil jatuh dari atas nakas. Tasha terkesiap menyadari dimana dirinya berada saat ini.


“Raga! Gara!” Teriaknya melihat sekeliling dimana ia masih berada di sebuah kamar hotel. Berlari terburu-buru membuatnya tak bisa lagi untuk berpikir jernih.


“Argh, Tasha, kenapa sih?” keluh Raga yang terjatuh ke lantai karena sang istri menariknya dengan kuat. Selimut dan tubuh polos pria itu sukses berada di lantai dengan punggung Raga yang sangat sakit akibat benturan kuat.


“Ga, anak kita!” Tasha berteriak kembali ketika hendak memasuki kamar mandi.


Raga pun yang mendengarnya sama tak kalah terkejut dari Tasha. Mereka segera bergegas merapikan penampilan dan keluar berlari dari kamar. Hal itu tentu saja membuat banyak orang di loby hotel menatap aneh.


Mungkin ketahuan orangtua mereka, pikirnya. Sebab Tasha mau pun Raga masih seperti anak muda pada umumnya yang suka check in di hotel.


Sepanjang jalan Tasha terus saja mengomeli sang suami. Saat ini mobil Raga melaju menuju ke arah sekolah tanpa berniat untuk menghubungi kembali nomor yang barusan berhasil membangunkan mereka berdua.


“Maaf, Sha. Lagian kan kita pengantin baru. Semoga aja Gara masih di sekolah.” ujar Raga berharap sang anak masih di sana dan baik-baik saja.


“Kamu nggak mikir Gara pasti sangat lapar sekarang. Dia paling nggak bisa nahan lapar, Raga.” pekik Tasha. Dan tak butuh waktu lama mereka pun tiba di sekolah.


Tasha melihat sekeliling tampak sepi sekali. Hingga akhirnya ia pun berinisiatif menghubungi sang mamah.

__ADS_1


“Halo, Mah. Gara…”


“Pulang sekarang, Sha. Papahmu marah sekali.” Mendengar ucapan sang mamah yang memutus panggilan langsung, Tasha mendadak takut.


Wajahnya gugup memikirkan jika Gara pasti sudah tiba di rumah entah bagaimana caranya.


“Kita pulang, papah marah kayaknya.” pintah Tasha dengan wajah malasnya. Seharusnya ia tidak menuruti permintaan sang suami.


“Gara gimana?” tanya Raga yang tak di jawab oleh Tasha kecuali dengan mata melotot.


“Oke.” sahut Raga memilih bungkam dan melajukan mobil kembali ke arah rumah sang mertua.


Sepertinya kehidupan mereka agak sulit untuk di awal sebab akan selalu ada campur tangan kedua mertuanya. Raga harus mengambil tindakan cepat agar pindah dan membawa serta kerjaan sang istri pindah.


“Tasha, Raga, dari mana saja kalian? Apa kalian lupa dengan anak kalian?” Pertanyaa yang terdengar pertama kali dari mulut Firman.


“Maaf, Pah. Kami ketiduran tadi.” Raga menjawab dengan berani meski ia sadar jika dirinya sangat salah.


Fikram mendesah kasar. Tak habis pikir dengan perilaku anak dan menantunya.

__ADS_1


“Kalian siang bolong berduaan?” ujar Firman yang mendapat anggukan dari Raga.


“Belum sempat, Pah. Jadi ambil harian moon dulu.” Indri sampai mengerjapkan mata mendengar penuturan sang menantu.


Sementara Tasha pun segera menyiku perut sang suami.


“Kalian urus si Gara. Dia marah sekali itu sampai tidak mau makan.”


“Iya, Pah.” ujar Tasha yang pergi di susul oleh Raga.


Keduanya membuka pintu kamar si kecil tampan yang ternyata sudah tidur dengan air mata masih terlihat si bantal bonekanya.


Tasha duduk mencium wajah sang anak. Ia sungguh merasa bersalah saat ini.


“Gara, ini mami. Bangun yok. Mami mau masakin apa? Gara beluk makan siang kan?” Lembut Tasha bersuara. Namun Gara masih enggan membuka matanya.


Di peluknya sang anak, Tasha tak menyerah begitu saja. Ia terus membangunkan sang anak sampai menggendongnya.


“Gara, bangun sayang. Nanti perutnya sakit kalau nggak di isi.” Raga yang melihat pun bingung harus berbuat apa. Ini semua adalah salahnya.

__ADS_1


“Papi yang masak deh, Gara mau di masakin apa hayo…papi minta maaf yah buat Gara menunggu lama. Sebagai hukuman Papi akan terima apa pun permintaan Gara.” Sontak saat itu juga kedua mata Gara terbuka.


“Benar, Papi tidak bohong? Papi harus mendapat hukuman.” ujar bocah kecil itu yang di setujui oleh Raga.


__ADS_2