
Sepanjang jalan Mikael terus mengajak aku berbicara, rasanya sangat mengganggu. Sebab perasaanku saat ini sedang tak nyaman di tambah lagi pembicaraan Mikael sama sekali tidak menarik untuk aku sahuti. Jawabanku hanya senyum dan deheman saja. Meski saat ini aku di sini bersama pria lain, namun pikiranku masih saja tertuju pada Gara. Bayangan ketika ia menatap kepergian kami jelas aku bisa merasakan sakit hatinya.
"Maafkan aku, Gar. Semoga dengan begini hubugan kita bisa kembali membaik seperti dulu lagi tanpa melibatkan perasaan." gumamku.
Selang beberapa menit berlalu akhirnya aku dan Mikael pun tiba di kampus. Aku terpaksa harus berpura-pura menikmati waktu kami hingga tiba di kelas.
"Cieh ada yang baru nih? Baru tapi bukan baju." Aku menggeleng mendengar ledekan beberapa sahabatku.
Mikael justru tersenyum pada mereka. Aku merasa bersalah telah melibatkan hati orang lain. Tapi, tidak mungkin aku bertahan dengan diriku yang sendiri untuk melawan Gara. Ini satu-satunya jalan yang tepat menurutku.
"Agatha, semangat belajarnya yah?" Aku menoleh menatap tangan Mikael yang mengusap kepalaku. Hal itu sontak membuat teman sekelas ku semua bersorak ramai.
Mikael salah satu pria yang di nilai baik dan tidak pernah bertingkah aneh-aneh pada wanita di kampus kami. Sejak lama ia sering mengirim pesan bahkan sekedar menyapaku di kampus. Namun, baru kali ini aku membalas pesannya yang menumpuk tak pernah ku baca. Mungkin bisa di bilang jika Mikael adalah pria satu dari sekian banyak yang mengirim pesan padaku tanpa aku hiraukan.
"Em. Terimakasih." sahutku tak banyak kata padanya. Kami duduk di kursi masing-masing.
Semua sahabatku pun duduk mendekati aku. "Tha, kenapa baru sekarang sih? Kalau sama yang ini mah kita setuju semua." ujar Sela berbisik padaku.
__ADS_1
"Iya benar, Agatha dan Mikael kalian itu pasangan yang sama-sama serasi. Dia anaknya juga sempurna. Jauh beda sama si mantan yang kemarin itu." sahut Sisil di sampingku. Semua temanku tampak menganggukkan kepal setuju dengan ucapan mereka berdua.
Aku hanya bisa menggeleng tanpa menghiraukan ucapan mereka. Kini pikiranku tertuju pada bayangan Gara. "Apa dia sekarang sudah berangkat yah? Huh rasanya benar-benar nggak enak nggak bisa ngantar ke bandara. Kenapa harus seperti ini sih kisah kita, Gar? Aku rindu kedekatan kita yang seperti dulu. Andai semua perasaan ini bisa di tutup dengan rapat, aku ingin menutupnya."
Dua mata kuliah tak terasa terlewatkan dengan cepat. Segera aku buru-buru meninggalkan kelas. Jangan sampai Mikael mengejarku kali ini sebab aku tak ingin pergi bersamanya lagi.
"Agatha!" Panggilan yang sudah ku duga sebelumnya benar-benar terdengar. Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang.
"Aku lagi buru-buru, Mikael. Ada apa?" tanya berpura-pura.
Sekaligus salut mendengar jika Mikael tengah ada urusan pekerjaan. Selama ini ia memang menjadi pria yang tidak banyak berbicara di kampus. Dan ternyata dia salah satu pria yang juga memiliki kesibukan di pekerjaannya. Itu artinya kedudukanku dengannya tak beda jauh meski aku hanya anak angkat di perusahaan Papi.
"Bagaimana?" lanjut Mikael bertanya.
"Oh begitu. Tidak masalah. Aku bisa pergi sendiri." Mikael justru tersenyum balik dan mengusap kepalaku. Aku melihat punggung pria itu menjauh meninggalkan aku di depan kelas.
Aku pikir dia akan sama seperti pria lainnya yang begitu terobsesi padaku dan mengejar-ngejar aku. Ternyata Mikael masih bisa mengutamakan tanggung jawabnya.
__ADS_1
Segera aku pun meninggalkan kampus saat itu juga menuju perusahaan Papi. Ketika tiba di sana aku melihat Mami Tasha baru saja tiba di perusahaan dan memanggilku.
"Agatha, Sini sama Mami." Aku melangkah cepat mendekati Mami. Kami berdua berpelukan erat.
"Mami baru sampai yah?" tanyaku dan Mami mengangguk.
Kami berdua berjalan melangkah menuju ruangan kerja Papi. Di sana kami makan bersama lalu aku pun pamit untuk bekerja. Mami yang susah payah membujuk Papi untuk ia tinggal ke butik membuat aku terkekeh. Mereka selalu saja seperti pasangan lagi kasmaran yang sangat menggemaskan.
"Sayang, aku harus ke butik. Klien aku sudah di sana menunggu." Mami Tasha ku lihat duduk di pangkuan Papi.
"Aku masih kangen, Sha. Sudahlah tolak saja klien itu. Aku bisa mengganti bayarannya lima kali lipat untukmu." Aku hanya mendengar perdebatan itu sampai akhirnya Mami keluar setelah aku menutup pintu ruang kerja Papi.
"Berhasil bujukannya, Mi?" tanyaku terkekeh melihat Mami Tasha menghela napasnya kasar.
"Papi kamu itu selalu saja seperti itu. Nanti kamu cari suami jangan terlalu bucin begitu yah? Susah mau kemana-mana." Aku terkekeh saja mendengar ucapan Mami. Sampai akhirnya kami berpisah siang itu.
Mami beruntung memiliki suami yang bucin seperti Papi Raga. Bahkan sampai saat ini di usia Gara yang dewasa saja mereka tak pernah bertengkar masalah orang ketiga. Papi dan Mami di takdirkan hidup bersama dengan jalan yang begitu mulus. Mereka selalu hidup saling mencintai dan menjaga perasaan pasangan masing-masing. Sejak aku tinggal bersama mereka tak pernah satu kali pun mereka bertengkar kecuali ketika aku hadir di tengah-tengah mereka. Aku ingat jelas bagaimana Mami Tasha yang sering meneteskan air mata saat aku tak sengaja melihatnya. Namun, kini aku lega ketika tahu jika itu hanya sebuah kesalah pahaman. Papi benar-benar mencintai Mami dengan tulus.
__ADS_1