
Pulang dengan wajah penuh kebingungan, Raga tampak begitu penasaran. Sosok Tasha, Raga, dan bagaimana tatapan orang-orang di rumah Tasha. Tatapan yang begitu aneh di mata Raga.
Pelan mobilnya keluar dari kediaman megah itu hingga lamunan Raga buyar saat melihat sebuah mobil lewat dengan satu mobil di belakangnya turut mengikuti.
“Tasha?” Kaget melihat wajah Tasha yang berada tepat di sampingnya berbatas kaca jendela mobil yang tidak begitu terang. Namun, Gara yakin jika melihat wajah Tasha barusan.
Dan ia tentu masih ingat jika Tasha kemana pun akan di kawal dengan beberapa pria.
“Aku harus kembali ke rumahnya.” Laju Raga memutar haluan mobil di jalan perumahan itu.
Ia mengikuti mobil yang saling beriringan di depannya. Benar saja, tak lama kemudian Tasha turun dengan menggendong tubuh kecil Gara.
Raga melajukan mobil saat melihat pagar itu hendak di tutup oleh security. Dengan lancangnya bahkan Raga membunyikan klakson lalu memarkirkan mobil di halaman rumah luas itu.
“Mamah,” Tasha yang mendapat sambutan dari sang mamah sontak mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
“Sha, itu siapa? Tadi juga kesini?” Tasha memutar tubuhnya ke belakang melihat orang yang di maksud sang mamah.
__ADS_1
Sontak saja, Tasha meneguk kasar salivahnya. Ia menatap pria yang menutup pintu mobil miliknya dan berjalan mendekati sosok Tasha mau pun Indri.
“Sore, Tante.” Sapaan dari Raga membuat Indri terdiam sembari tangannya menerima uluran tangan yang Raga cium saat ini.
“Tasha, ada yang harus aku bicarakan sama kamu.” Tanpa takut sama sekali, Raga berucap pada Tasha.
Kali ini Raga tidak boleh gagal mendapatkan informasi. Ia harus tahu apa yang membuatnya penasaran.
“Tasha, masuk!” Semua terjingkat kaget mendengar teriakan yang menggema di halaman rumah kala itu.
Sangking syoknya Tasha dan Indri mereka bahkan tak menyadari akan kepulangan sosok Firman. Pria paruh baya yang baru turun dari mobil tanpa bisa menahan diri segera berteriak. Entah mengapa meski berniat membebaskan sang anak, Firman masih belum bisa menghilangkan rasa was-was itu.
“Tasha!” Raga berteriak juga kala menyadari Tasha sudah membawa Gara masuk dengan berlari cepat.
“Kakak…” Gara merengek saat kaget mendengar sang kakek berteriak. Ia yang semula begitu lelap bahkan kini menangis di gendongan sang mami.
Melihat rumah yang pertama kali ia kunjungi, tentu saja Raga masih memiliki sopan santun untuk tidak terus mengejar Tasha. Pria tampan itu memilih untuk menyapa pria paruh baya yang baru saja tiba di depannya.
__ADS_1
“Om, saya…” Raga sungguh kesal kala ucapannya di abaikan begitu saja oleh pria yang tak lain papahnya Tasha.
Firman sama sekali tak menghentikan langkah kakinya kala tiba di hadapan Raga. Ia langsung masuk menarik tangan sang istri ke dalam dan menutup pintu itu begitu keras.
“Ada apa sih dengan keluarga ini?” ujarnya bertanya pada diri sendiri. Raga bahkan sampai memejamkan mata mendengar bagaimana pintu di tutup dengan sangat keras.
Sumpah demi apa pun ia begitu tidak tahu apa yang terjadi dan entah mengapa hatinya sangat tidak tenang. Ingin pulang, namun Raga sama sekali tak sanggup menahan kegelisahan ini, ia begitu ingin tahu saat ini juga dari mulut Tasha.
“Apa Tasha sudah menikah? Tapi di sini pun tidak ada pria yang pantas di sebut suaminya. Apa security itu?” tanyanya lirih tanpa ada yang bisa mendengar.
Berniat untuk bertahan di rumah itu, Raga berharap bisa bertemu dengan pria yang mungkin bisa memberikan jawaban padanya. Namun, bukannya bertemu pria yang ia harapkan. Justru Raga mendapat usiran dari security itu.
“Tuan, tolong segeralah tinggalkan rumah ini. Dan jangan pernah kemari lagi!” Tekan security itu jelas Raga tahu jika ia mendapatkan perintah.
“Pak, apa suami Tasha akan pulang dalam waktu dekat?” Raga bukannya pulang justru bertanya hal yang membuat security itu menghela napas kasar.
“Tuan, tolong pulanglah segera. Tolongin saya, jangan sampai karena anda saya kehilangan pekerjaan saya, Tuan.” tuturnya membuat Raga akhirnya melemah.
__ADS_1
Toh besok-besok ia pikir akan dengan mudah bertemu Tasha dan meminta penjelasan.