Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Boneka Ulat Milik Gara


__ADS_3

Malam harinya setelah makan malam, Tasha nampak bergegas pergi ke dalam kamar. Ia tak lagi memiliki semangat untuk kerja ke butik. Bayangan Gara yang berada di kamar kecilnya membuat Tasha melangkah mengurungkan niat masuk kamar. Ia justru masuk ke kamar sang anak. Manik matanya bergerak memindai kasur, mainan, meja belajar, serta foto-foto sang anak yang ada di dinding. Air mata Tasha jatuh entah apa yang ia pikirkan sampai menjatuhkan air mata. Gara tidak pergi meninggalkannya, ia hanya ingin menikmati waktu bersama Raga, sang ayah. Seperti cerita para teman-temannya di sekolah yang begitu antusias menceritakan waktu libur mereka dengan sang papah.


Sering kali Gara sedih sebab ia tak memiliki cerita yang seru tentang sang papah. Ia hanya memiliki cerita jalan-jalan, bekerja, bermain, berfoto-foto dengan sang kakak. Tentu saja rasa iri muncul di benak bocah itu.


“Kenapa rasanya mami tidak rela yah berbagi kamu, Gara? Kita hidup selalu bersama tanpa adanya orang lain. Rasanya berat berbagi kamu dengan mereka.” Ungkapan hati Tasha ia utarakan kala memandang foto ceria sang anak.


Pelan ia memeluk foto itu. Tasha sangat takut jika ternyata Gara akan lebih nyaman dengan Raga di bandingkan dirinya. Jika Gara dengan kedua orangtuanya, itu sudah biasa Tasha rasakan.


Namun, kehadiran Raga dan keluarga membuat Tasha sedikit tidak tenang. Ia takut jika posisinya akan di ambil oleh mereka yang baru datang di kehidupannya dan juga sang anak.


“Ya ampun, Tasha…anakmu nginap di rumah papinya loh. Bukan pergi keluar negeri.” Suara itu terdengar bersamaan dengan pintu kamar yang di buka dari luar.


Indri yang baru saja hendak meminta supir mengantar bantal guling ulat kesayangan Gara terkejut melihat sang anak begitu sakit menangis memeluk foto di depan dadanya.


Sama sekali Tasha tak mengeluarkan suara apa pun. Indri sampai menggeleng-gelengkan kepala.


Ia meminta pelayan mengantarkan bantal ulat Gara pada supir kemudian ia sendiri yang mendekati Tasha untuk menenangkan sang anak.

__ADS_1


Sedangkan di kediaman Dahlan, semua antusias melihat Gara yang tertawa ceria saat menunggangi tubuh sang papi. Ia terus terkekeh geli melihat Raga menjelma jadi kuda yang berjalan kesan kemari. Di belakang sang opa juga turut menjadi kuda mengejar mereka.


“Gara, pegangan Nak. Nanti jatuh.” teriak Rima mengingatkan.


Wanita paruh baya itu terus mengabadikan momen langka itu dengan ponsel miliknya. Ia bahkan ikut berselfi ria. Sungguh kehadiran Gara sangat menghidupkan rumah. Selama Raga tumbuh dewasa tak ada lagi suara anak kecil di rumah itu. Dan Dahlan serta Rima sangat menanti moment tersebut.


Gara hadir membawa kebahagiaan mereka semua.


“Ayah, Raga, sudah. Gara kecapekan lagi nanti. Ayo di makan cemilannya. Gara, ini cemilan yang Gara minta sudah jadi.” Ketiga pria tersebut pun datang menikmati semuanya.


Raga mengusap kening sang anak yang nampak berkeringat hanya karena tertawa tanpa henti.


Mendengar itu Raga tak langsung setuju. Ia menatap kedua orangtuanya yang lebih paham keadaan.


“Cucu Oma, berenangnya nanti saja pas libur sekolah Gara bagaimana? Kan Gara harus banyak istirahat. Biar nggak sakit lagi dan di suntik lagi tangannya. Nanti kalau sudah sembuh Gara katakan apa pun yang Gara mau. Nah sekarang mumpung lagi di suruh dokter istirahat, Gara tulis tuh apa saja yang Gara mau lakuin biar nggak lupa. Iya kan uncle?” Raga sontak mengangguk.


Saat ini Gara kembali memanggilnya uncle. Memang terkadang sulit memberi tahu anak kecil yang masih belum paham. Baru saja beberapa waktu Raga senang mendengar anaknya memanggil papi. Sekarang sudah berubah lagi.

__ADS_1


Di tengah keseruan keluarga Dahlan, tiba-tiba pelayan berlari keluar mendengar suara mobil memasuki halaman rumah.


“Apa itu Tasha?” gumam Raga penasaran dan sangat berharap tebakannya benar.


Lama menunggu hingga akhirnya pelayan kembali masuk ke dalam.


“Ada apa, Bi?” tanya Rima heran melihat sang pelayan membawa sesuatu dalam paperbag.


“Ini bantal Tuan Gara, Nyonya.” ujarnya sembari ingin membawa ke kamar Raga. Namun, Gara lebih dulu bersuara.


“Oma, Gara mau ke kamar saja. Bibi, Gara boleh minta bantalnya?” Sigap sang bibi memberikan bantal itu pada sang pemiliknya.


Raga tercengang melihat anaknya berjalan dengan pelayan menuju kamar Raga sembari memeluk boneka ulat itu. Keceriaan di wajah Gara mendadak hilang melihat bonekanya. Ia berjalan tanpa menoleh pada Raga saat melewati sang papi.


Setibanya di kamar pun Gara langsung berbaring memeluk boneka dengan wajah yang menekuk sedih.


“Gara rindu Kakak, Gara rindu mamah dan papah juga.” ujarnya dalam hati.

__ADS_1


Kesenangan yang ia dapat di rumah ini nyatanya tak mampu membuatnya bisa menggeser nama ketiga orang penting itu di hatinya. Lambat laun berdiam di kamar akhirnya manik mata bocah tampan itu bergenang cairan sedih.


__ADS_2