
Pertama kalinya kedua mata itu terbuka, Gara melihat samar wajah cantik dan tampan kedua orangtuanya. Bukan senang namun ia justru mengerutkan kening dalam. Kembali ia memejamkan mata dan membuka lagi. Masih sama, dua wajah itu berada di depannya sedang tersenyum.
“Kok masih sama?” gumamnya lirih membuat sekitar ikut terheran.
“Gara, kamu akhirnya bangun juga.” Tasha dan Raga antusias mendekati sang anak yang terheran-heran.
“Gara bukan mimpi yah, Kak?” Tasha yang mendapat pertanyaan itu menggelengkan kepala.
Barulah setelahnya Gara memeluk erat tubuh Tasha hingga ia bangun dari tidurnya. Tasha dan Raga tak mengerti apa yang sang anak pikirkan tadi.
“Sayang, kamu jangan bangun dulu. Badannya masih lemaskan?” Kini giliran Raga yang mengusap kepala Gara.
”Gara kirain mimpi. Bangun biasanya cuma lihat Kakak Tasha. Sekarang lihat uncle juga. Gara seneng banget. Berarti uncle sayang juga kan sama Gara?” tanya bocah itu membuat Raga dengan cepatnya mengangguk.
Sedang Tasha hanya diam. Ia tak merespon apa pun hanya memikirkan ucapan sang anak.
“Sebaiknya beritahu mereka jika Gara sudah bangun.” Tasha beralih meminta Raga memanggil kedua orangtuanya dan kedua orangtua Raga.
Patuh tanpa berkata apa pun, pria itu keluar memanggil semua yang menantikan keadaan Gara pulih.
Seketika ruangan rawat pun ramai. Mereka semua mengeliling si kecil tampan itu dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
“Cucu oma…jangan sakit yah, Nak. Kamu bikin jantung kita semua mau meledak rasanya. Gara kalau capek jangan paksain tubuhnya bermain.” Itulah perhatian dari Rima turut di angguki kepala oleh Indri.
Ibu dari Tasha itu berkali-kali mengusap kening sang cucu dan mencium keningnya. Ia menggenggam tangan mungil Gara.
“Mamah cemas sekali. Gara janji jangan sakit lagi? Kalau mau apa-apa katakan pada mamah dan papah atau kak Tasha.” ujar Indri dan Gara hanya mengangguk.
“Yah hari ini Gara nggak sekolah dong, Kak. Terus uncle nggak jadi antar kita dong ke sekolah.” Gara yang baru sembuh itu tiba-tiba teringat dengan rutinitas hariannya di pagi hari yang menyenangkan itu.
“Sampai besok Gara harus istirahat dulu. Setelah benar-benar sembuh baru sekolah. Okey?” ujar Tasha memberi pengertian pada anaknya.
Namun, Gara menggeleng tak setuju. “Gara mau main sama uncle…” ujarnya merajuk.
Tasha yang mendengar hanya diam tak memberikan jawaban. Sementara Indri yang jauh lebih mengerti justru berkata,
Jika Tasha syok mendengar ucapan sang mamah, berbeda dengan Gara yang girang bukan main.
“Boleh mamah? Gara mau. Uncle kita bobok bareng?” Bocah itu bersemangat sekali.
Raga pun merasa dadanya yang sesak tiba-tiba longgar tanpa batas. Sungguh hal yang tak pernah ia pikirkan kini berpihak padanya. Raga selalu mengikuti apa pun batasan yang Tasha berikan.
Hari itu setelah keadaan Gara membaik, dokter pun memberikan ijin untuk pulang. Namun, Raga yang terlampau khawatir meminta dokter untuk siap datang kapan pun ke rumah jika sampai Gara kembali sakit.
__ADS_1
“Apa kau tidak yakin bisa mengurus Gara dengan baik?” Tasha yang mendengar permintaan Raga pun bertanya demikian.
“Sha…” Indri berusaha menenangkan sang anak.
Entah mengapa Tasha merasa tak rela sang anak jauh darinya. Ada kekosongan di hatinya mendengar Gara sangat senang pergi ke rumah Raga.
“Aku bukan tidak yakin bisa mengurus Gara dengan baik. Aku hanya takut tubuhnya kembali demam,” jawab Raga.
Kedua keluarga pun akhirnya berpisah hari itu juga dengan Gara yang di bawa Raga ke rumahnya.
“Dada Kakak, dada mamah dada papah,” seru si kecil Gara melambaikan tangan.
Wajahnya sama sekali tak menunjukkan mantan pasien. Ia begitu riang tersenyum memasuki mobil.
Rima dan Dahlan pun sangat senang setelah penantian sekian lama akhirnya mereka bisa membawa Gara bermain ke rumahnya sebagai cucu.
Sedangkan di mobil yang satunya, Tasha nampak diam saja. Indri tahu jika Tasha berat jauh dari sang anak.
“Sha…Gara berhak mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan, Nak.” tutur Indri lembut.
“Mah, aku tidak bisa tenang kalau Gara jauh dari kita. Apalagi dengan Raga. Dia belum pernah menjaga Gara sama sekali selama itu.” tuturnya mengutarakan kegundahan hati.
__ADS_1
Mendengar itu Indri pun menghela napas kasar. Sementara Firman hanya diam. Ia memilih membiarkan sang istri yang berbicara dan memutuskan segalanya saat ini.