Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Kebahagiaan Gara Yang Utama


__ADS_3

Kedua orangtua Raga tampak diam saat mendengar penolakan tegas dari Firman. "Saya sudah melupakan semuanya. Tapi untuk memberikan jalan mereka berdua kembali saya tidak bisa. Sudah cukup baik saya mengizinkan Gara bertemu dengannya. Tasha berhak memilih jalan hidupnya yang baru dengan orang-orang baru pula. Kebahagiaan tidak harus melihat kebelakang kembali. Di depan sana akan banyak hal baru yang jauh lebih membahagiakan. Termasuk perihal jodoh. Gara juga akan tetap bahagia jika berada di tangan orang yang tepat." tutur Firman.


Indri jelas tahu saat ini suaminya tengah naik darah. Ia mendekat dan melingkarkan tangan di lengan sang suami. Tak ingin jika sampai terjadi keributan dengan mantan kerabat kerjanya itu. Di masa lalu keduanya pernah bertemu dengan sangat akrab. Namun, Firman tetaplah seorang ayah yang akan dengan tegas memutuskan sesuatu jika sudah menyangkut perihal anak dan cucu.


Raga pun tertunduk mendengar ucapan dari Firman. Kini ia merasa kecil harapan untuk bisa memperbaiki semuanya. Sebab sang ayah yang sudah membantunya pun tak mampu menggetarkan hati dari ayah Tasha. Hingga akhirnya mereka pulang dengan tangan kosong. Tak ada yang tahu jika dari sudut lain Tasha mengintip perbincangan mereka setelah tahu tamu yang datang adalah pria yang pernah begitu ia cintai dan membuatnya bodoh.


"Gara mau kaya teman-teman. Papah dan mamahnya muda tampan dan cantik. Gara mau Uncle dan kakak yang mengantar Gara." sekilas bayangan ucapan sang anak membuat pikiran Tasha kembali sedih.


Ada harapan yang begitu dalam sebenarnya jika ia memiliki rumah tangga yang utuh dan bahagia dengan Gara yang menjadi anaknya. Namun, takdir begitu membuat hidupnya sangat jauh dari harapan. Sedih tentu saja, tak ada yang tahu jika selama ini Tasha begitu sedih. Ia hanya seorang ibu muda yang terkadang membutuhkan sandaran untuk penguat tubuhnya.


"Tuhan aku ingin semuanya normal seperti pada umumnya. Tapi bagaimana aku harus memulai? Saat ini yang ingin aku pastikan bukan kebahagiaanku, tapi kebahagiaan anakku." ujar Tasha melangkah lemas menuju kamarnya.


Keras hati sang ayah sudah bisa Tasha yakini jika ia akan sulit untuk menata kehidupannya. Begitu pun dengan mencari pendamping. Selain takut akan sang ayah, Tasha merasa sulit percaya pada pria. Sudah sekian tahun ia tidak pernah berhubungan dengan pria. Pertama dan terakhir adalah sosok Raga.


Berbaring memikirkan semua, Tasha tersadar ketika suara pintu terdengar di ketuk dari luar kamar. "Sha! Tasha!" panggilan suara yang ia yakini adalah sang ibu.

__ADS_1


Tak lama kemudian pintu kamar di buka dari luar, tampaklah Indri berjalan mendekati Tasha. Ia duduk di sisi ranjang sang anak dan menghela napas kasar.


"Ternyata pria itu anaknya Tuan Dahlan yah?" tutur Indri dan Tasha hanya bisa mengangguk.


"Sepertinya mereka benar-benar serius. Semua masalah akan ada kesempatan kedua untuk memperbaiki. Semua masalah ada pilihannya. Tergantung kita mau memilih yang mana. Kamu apakah tidak memikirkan keinginan Gara?" Indri sebagai wanita saat ini sedang mencoba berada di posisi sang cucu.


Ia tengah berperan sebagai Gara kecil yang menginginkan sosok ayah dan ibu yang lengkap dan sempurna versi dia. Yaitu ayah dan ibu yang masih muda seperti teman-temannya.


"Ibu kenapa bertanya seperti itu? Tasha sedang tidak ingin memikirkan hal lain selain Gara saja, Bu. Tasha sangat ingin Gara bahagia dan itu bisa Tasha penuhi tanpa ada orang lain." tutur Tasha yang berkeras saat ini.


"Sha...kasih sayang kita sebanyak apa pun tidak bisa menggantikan peran yang bukan menjadi peran kita. Gara yang tidak pernah merasakan peran seorang ayah sendirinya akan sangat menginkan hal itu dan kita tidak tahu kapan saja ia menginginkannya tanpa bisa merasakan. Sudah saatnya kamu membuka hati...meski tidak dengannya bukalah untuk yang lain." bujuk Indri.


"Nanti Tasha pikirkan setelah Gara sedikit lebih besar, Bu." tutur Tasha.


Melihat sang anak yang tidak begitu tertarik, Indri akhirnya memilih pergi ke kamarnya. Ada suami yang harus ia ajak bertukar cerita.

__ADS_1


***


Berbeda dengan keadaan di kediaman Bu Dewi. Malam itu ia makan dengan tenang bersama anaknya yang seorang dokter. Rafa menikmati makan dengan sesekali mencuri pandang pada sang ibu.


Bu Dewi meletakkan sendok menghentikan makan malam sejenak.


"Rafa...mau sampai kapan perusahaan ibu kau buat seperti ini. Permintaan barang sedang sangat melonjak." ujar Bu Dewi kesal.


Rafa yang masih berusaha menyelidiki tampak gelisah juga. "Secepatnya akan selesai, Bu. Rekaman cctv begitu sulit kami temukan. Ini pasti sudah rencana wanita itu yang sangat licik." tegas Rafa kembali menyalahkan Tasha.


"Lain kali ibu harus lebih teliti jika mengajak orang baru untuk bekerja sama. Kejadian seperti ini jangan sampai terulang lagi." ujar Rafa dengan melanjutkan makan malamnya.


Bu Dewi menghela napasnya. "Kalau samapai terjadi sesuatu dengan perusahaan kamu harus tanggung jawab. Dan kalau sampai semua terbukti bukan salah Tasha, kamu harus bisa bawa dia kembali ke perusahaan. Ibu tidak mau tahu, Rafa." tekan Bu Dewi.


Kesal tentu saja Rafa kesal mendengar sang ibu yang begitu mengagungkan nama Tasha di depannya. Bahkan namanya sendiri tak pernah di agungkan oleh sang ibu seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2