Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Keinginan Tante Sintia


__ADS_3

“Cantik. Pilihan Mikael memang nggak salah. Tante senang kamu mau menerima undangan Tante loh. Sering-sering main ke sini yah, Agatha?” Aku hanya mengangguk tersenyum mendapat ucapan permintaan dari Tante Sintia.


Kami duduk di meja makan dengan Tante Sintia yang melayani aku mau pun Mikael. Lalu kami makan bersama malam itu.


“Mikael, apa kamu belum ada pembahasan ke yang lebih serius lagi dengan Agatha?” tanya Tante Sintia pada anaknya. Kami sama-sama syok.


Mikael langsung terdiam bingung harus menjawab apa. Pacaran pun belum saat ini. Bagaimana mungkin ia punya keberanian melamar aku atau bahkan sekedar membicarakannya.


Di sini aku langsung terkejut. Sama sekali tak ada pikirannya sejauh itu. Menerima Mikael saja rasanya sangat sulit saat ini.


“Apa aku harus menerima Mikael sepenuhnya yah? Apa dengan cara seperti ini hubunganku akan membaik dan aku bisa melupakan Gara? Tapi, saat ini aku masih kuliah bahkan aku ingin membantu Papi dan Mami dulu.” gumamku yang merasa serba salah.

__ADS_1


Pikiranku ingin sekali keras pada diri sendiri. Namun, ada hal yang membuatku tak bisa memikirkan diri sendiri dulu saat ini.


“Bagaimana Agatha, kamu siap tidak? Kalian kan sudah dewasa bukan masanya pacaran lama-lama. Mikael juga sudah bekerja sebagai penerus di perusahaan Ayahnya. Kamu tidak perlu memikirkan banyak hal untuk kehidupan kalian ke depannya. Tante yakin anak Tante ini pria bertanggung jawab.” Tante Sintia tersenyum menatap aku.


Mikael yang tidak berani berkata apa-apa hanya menatapku di depannya.


“Agatha harus bicarakan ini dengan Mami dan Papi dulu, Tante. Banyak hal yang harus Agatha pertimbangkan. Lagi pula saat ini Agatha sibuk membantu Mami dan Papi di kantor. Takutnya Mikael akan keberatan jika aku terlalu sibuk di luar.” ucapku Jujur.


Mikael adalah keluarga terhormat dan mereka cukup dekat dengan Papi. Aku takut jika mereka akan malu mengakui aku menantunya ketika ada yang tahu tentang statusku.


“Baiklah. Nanti di bicarakan yah? Sebab Tante sangat ingin memiliki cucu. Rumah besar ini terasa sepi, Agatha. Mikael sudah jarang menemani Tante di rumah lagi.” Aku hanya tersenyum kikuk mendengar harapan Tante Sintia.

__ADS_1


Memikirkan menikah saja belum bagaimana sampai memiliki anak. Bahuku bergidik ngeri membayangkan ucapan Tante Sintia. Sedang di depanku Mikael justru terkekeh melihat aku berandai-andai.


Malam ini aku cukup lama menghabiskan waktu di rumah Mikael. Sampai akhirnya ayahnya pun datang.


“Oh anaknya Pak Raga. Bagaimana Papi kamu, Agatha? Sehat kan?” Aku mencium punggung tangan ayahnya Mikael. Lalu menjawab pertanyaannya.


Pria lanjut usia itu sudah cukup lelah kelihatannya. Ia tak banyak berbicara dan memilih masuk ke kamar untuk mandi dan istirahat. Aku tahu pasti ayahnya Mikael sangat lelah sampai pulang semalam ini.


“Tante masuk aja temani Om nggak apa-apa kok. Agatha juga mau pulang.” ujarku melihat Tante Sintia yang justru hanya duduk tak menyapa suaminya.


Ada pemandangan aneh yang aku tangkap saat ini. Mikael pun juga tak menyapa ayahnya ketika datang. Hanya aku yang menyambutnya.

__ADS_1


“Tha, aku antar kamu pulang yah?” ajak Mikael dan aku pun setuju. Sebab malam sudah semakin larut. Aku harus pulang meski Mami dan Papi tidak ada di rumah saat ini.


__ADS_2