Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Bab 21


__ADS_3

Puas menghabiskan waktu bersama Gara sejak ia datang dan keesokan harinya aku bergegas ke kantor. Papi hari ini tidak ke kantor sebab ada janjian dengan Mami untuk menemaninya berbelanja. Aku akan pergi sendiri dan di kantor di temani oleh Dava.


“Aku pergi dulu yah? Jangan lupa nanti kata Mami makan siang kita ketemu di restauran.” Pamitku pada Gara yang asik membaca buku.


“Oke, ntar aku jemput ke kantor kalau gitu.” Aku hanya berdehem saja sebagai jawaban.


“Selamat pagi, Mba Agatha.” Pagiku di sapa hangat oleh beberapa pekerja yang berpapasan denganku di kantor. Aku tersenyum berjalan menuju ruangan Pak Dava.


“Eh hai, Agatha.”


“Hai Pak Dava.”


Setengah hari kami berdua habiskan dengan bekerja dalam satu ruangan. Lebih tepatnya aku banyak memperhatikan dan mengerjakan apa yang pria itu perintahkan.


“Yang ini kayaknya salah deh. Coba kamu kembali masukkan penghitungan dari sini.” Tunjuk pria itu saat berdiri di belakangku yang duduk dengan kursi kerja.


“Apa-apaan ini?” Aku dan Pak Dava sama-sama kaget mendengar suara tinggi itu. Kami berdua menoleh dimana ternyata Gara yang masuk.


“Gara,” Segera aku berdiri melihat adikku yang melangkah memasuki ruangan dengan langkah lebarnya.

__ADS_1


Tanpa berkata apa pun Gara justru sudah mendorong dada Pak Dava. Aku kaget, melihat Gara yang sangat kasar. Tanganku di tarik kuat olehnya keluar dari ruangan itu.


“Gara, kamu apa-apaan sih?”


“Kamu yang apa-apaan? Mau aja di sentuh sama pria itu. Masih nggak kapok sama kejadian malam itu?” Mataku berkaca-kaca mendengar Gara yang membentak aku.


Ada apa dengannya? Kenapa dia semarah ini dengan Pak Dava.


“Aku sama Pak Dava lagi kerja, Gar. Dia bukan pria seperti Morgan.” ujarku.


Gara terkekeh kecil mendengar ucapanku. Di tariknya kembali tanganku dan kini kami sudah di dalam mobil.


“Agatha cukup! Jangan membantah aku. Kita pulang sekarang.” Mataku melebar. Pulang? Tidak mungkin. Ini baru jam sembilan pagi. Untuk apa aku pulang sementara di sini kerjaan masih cukup banyak.


Segera aku menepis kasar tangan adikku dan hendak keluar dari mobil. Tapi, Gara justru sudah mengunci mobil itu.


“Aku sudah peringatkan jangan terlalu memberi harapan pada pria mana pun. Aku masih harus kuliah. Siapa yang menjagamu?” Gara bertanya dengan nada begitu emosi.


“Gara, aku sudah dewasa. Aku adalah kakak mu. Bukan adikmu yang harus kau jaga terus. Aku tahu mana baik dan buruknya.” sahutku lantang.

__ADS_1


“Dengan menempel pada pria seperti tadi tanpa ada status?” Aku terdiam mendengar pertanyaan Gara.


Jika dalam keadaan begini rasanya aku merasa asing dengan adikku. Dia tak hangat seperti biasanya dan selalu di penuhi rasa amarah. Perjalanan pulang pun kami tempuh dalam keadaan hening. Aku tak lagi perduli olehnya.


Yang ku pikirkan saat ini rasanya sangat tak enak dengan Pak Dava yang ku tinggalkan begitu saja. Seharusnya aku mengatakan izin lebih dulu padanya. Meski pun dia adalah orang bawahan Papi tetap saja Pak Dava adalah orang yang baik mengajariku dalam pekerjaan mau pun tugas kuliah.


Di tambah lagi postur tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang tampan seolah membuat aku betah. Kedewasaannya dalam bekerja seolah menambah pesona pria mapan itu.


“Biar aku yang meminta orang kantor mengirim kerjaan itu kemari. Kita akan mengerjakan berdua.” Ku tatap tajam adikku.


“Nggak perlu, Gara. Bukan itu yang aku mau.”


“Lalu?” tanya Gara.


“Aku mau kerja di kantor. Di sana aku bisa di lajari Pak Dava.”


“Oh jadi lebih senang di lajari pria gatal itu dari pada aku?” Lagi Gara menuduhku.


Ku hela kasar napasku mendengar ucapan Gara. Rasanya ingin sekali ku jambak rambut Gara.

__ADS_1


__ADS_2