Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Menanti Jawaban


__ADS_3

“Hem? Bagaimana?” Lagi Raga bertanya seraya menaikkan sebelah alisnya. Ia menatap Tasha yang gugup setengah mati saat terdengar kembali suara panggilan sang mamah di luar sana.


Ragu akhirnya Tasha pun mengangguk terpaksa. Dan Raga tersenyum senang melihat itu.


“Bersembunyi dulu. Aku mohon.” pintah Tasha memelas. Melihat wajah cantik itu memelas, rasanya Raga tak kuasa berkeras. Ia pun setuju dan masuk ke lemari pakaian milik Tasha.


Setelah memastikan aman, Tasha membuka pintu kamar. Wajahnya yang cantik jelas Indri lihat pucat. Keningnya pun sedikit berkeringat.


“Tasha, kamu kenapa? Sakit? Mamah bawa ke rumah sakit yok. Sekalian keluar. Tadi Mamah lupa ambilin tas Gara ketinggalan.” Mendengar ucapan sang mamah, Tasha menghela napas kasar.


Ia buru-buru mengambil Tas namun Indri justru ikut masuk ke kamarnya. Tasha kembali di buat jantungan.


“Mah, mau kemana?” tanya Tasha kala melihat Indri yang hendak menuju kamar mandi.


Kegugupan kembali melanda saat itu. Tasha benar-benar tidak tahu jika sampai keberadaan Raga di ketahui sang mamah.

__ADS_1


“Mamah mau ke kamar mandi sebentar numpang buang air kecil.” Melihat Indri yang melangkah semakin dekat Tasha bahkan memejamkan mata menggigit bibirnya kecil.


Sungguh tak pernah terbayangkan jika sampai orangtuanya tahu di kamar itu ada seorang pria. Selama ini semua perbuatan Indri sudah mereka ampuni, namun jika sampai kedua kali terjadi tentu saja tak akan ada kata ampun.


“Mamah!” Teriakan tiba-tiba saja terdengar dari arah luar kamar. Hal itu membuat Indri menghentikan langkahnya.


Ia pun membalik tubuh dan keluar dari kamar Tasha. Membawa tas milik sang cucu bersamaan dengan itu Tasha menghela napasnya kasar.


“Ya Tuhan…hampir saja.” gumamnya mengusap dada lega. Tasha pun cepat mengunci pintu kamar dan meminta Raga segera keluar.


“Astaga!” Belum saja ia bersuara, ternyata Raga sudah lebih dulu keluar. Pria itu tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya saat ini.


Tak tinggal diam, Tasha mendorong kasar. Sumpah demi apa pun ia tidak akan mau di perbudak oleh pria di depannya ini lagi.


Semua kejadian di masa lalu sudah cukup menjadi pelajaran untuk Tasha. Kali ini ia hanya ingin fokus untuk sang anak dan orangtuanya.

__ADS_1


Tasha menatap penuh benci pada Raga. “Tolong jaga perlakuan anda. Saya harap anda bisa menghargai sedikit saja saya sebagai seorang wanita.” tutur Tasha ketus.


Raga pun menghela napas. “Maaf. Saya minta maaf, Tasha. Sekarang katakan apa yang sebenarnya. Siapa Gara?” tanyanya kemudian.


Tasha masih diam. Sulit rasanya untuk ia jujur. Lama tak ada suara, Raga kembali bertanya.


“Anak kamu, Sha?”


Tasha menatap Raga dengan kedua mata yang berair. Entah rasanya sakit mendengar pertanyaan Raga.


“Gara anak kita, anak kamu juga.” ucap Tasha ingin sekali menjerit dalam hatinya.


Tasha pun mengusap kedua matanya cepat. Tak ingin menunjukkan sisi lemahnya di depan pria yang sangat ia benci saat ini.


“Yah. Dia anakku.” ujar Tasha singkat.

__ADS_1


Raga menoleh ke sana kemari di kamar itu. Kembali ia memastikan apakah ada sosok pria yang terlihat di gambar kamar Tasha atau apa pun itu yang berhubungan dengan barang pria. Sayangnya Raga tidak menemukan sama sekali.


“Siapa pria itu?” tanya Raga kembali. Tasha yang mendengarnya pun mengalihkan pandangan dari sosok Raga.


__ADS_2