Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Acara Pertunangan


__ADS_3

Hari yang tak ingin terjadi akhirnya kini tiba. Aku berjalan keluar kamar dengan pandangan yang sulit untuk fokus. Bayangan untuk membatalkan acara ini semakin besar di kepalaku. Berulang kali aku terus menggelengkan kepala agar menghilangkan niat gila itu. Tidak mungkin aku semakin membuat Mami dan Papi malu. Tidak mungkin aku membatalkan pertunangan yang sudah di buat secara besar-besaran oleh kedua orangtuaku hancur begitu saja.


“Tha, kamu kenapa?” Mami Tasha menepuk pelan pundakku. Saat ini Mami dan Papi menggandeng tanganku keluar kamar.


“Nggak apa-apa, Mi.” jawabku berusaha tersenyum.


Rasanya sangat sakit menahan apa yang aku inginkan. Yang aku inginkan hanyalah Gara. Bersama pria yang begitu aku cintai.


“Tidak, Agatha. Kamu harus bisa mencintai Mikael. Demi Mami dan Papi kamu pasti bisa.” ujarku dalam hati.


Tekadku begitu kuat untuk memaksakan diriku mencintai Mikael. Aku tidak ingin mencintai Gara terus menerus. Aku ingin membalas budi pada dua orang yang sangat berjasa dalam hidupku.


“Ah itu akhirnya adikmu datang juga.” Degupan jantungku rasanya terhenti seketika. Mataku mengarah pada pria yang berdiri di jajaran keluarga.

__ADS_1


Kami sama-sama saling pandang. Ketakutanku semakin besar sebab aku tidak ingin jika sampai Gara menghentikan ini semua. Pelan aku menggeleng memberi isyarat pada Gara agar tidak melakukan apa pun. Sampai akhirnya langkahku terhenti di depan Mikael.


“Kamu cantik banget, Tha.” ujar Mikael yang hanya ku balas dengan senyum kecil.


Hari dimana seharusnya aku bahagia namun tidak bisa ku rasakan sama sekali. Meski penampilanku sangat sempurna tak sedikit pun ada semangat yang bangkit dari diriku.


Hari ini acara pertunangan berjalan dengan baik. Aku terus berdiri bersama Mikael sepanjang waktu. Tak sekali pun Gara mendekati aku. Entah karena marah atau memang karena dia sudah mencintai wanita lain. Mungkin jika demikian itu lebih baik.


Seminggu berlalu sejak acara pertunangan usai. Kini Papi mengajakku ke suatu tempat.


Kami semua duduk di kursi meja makan. Gara yang bergabung dengan kami pun bahkan hampir tidak pernah aku dengar suaranya. Hubungan kami benar-benar jauh saat ini. Jujur ini sangat mengganggu. Aku sangat rindu kedekatan kami dulu. Sayang semuanya sudah harus seperti ini. Ini lebih baik dari pada kami harus dekat dan mengikuti perasan kami masing-masing.


“Gara, kamu ikut yah?” tanya Mami.

__ADS_1


“Em aku ada acara sama teman, Mi. Lain kali saja. Lagi pula besok aku sudah harus kembali. Jadi, ini adalah waktu aku kumpul bareng teman.” ucap Gara menolak. Aku hanya menatapnya penuh tanya.


Kemana memangnya ia akan pergi dan dengan siapa? Selama di sini Gara sangat jarang mau berkumpul dengan temannya. Mungkin ini hanya alasannya untuk menghindari jarak dekat denganku. Yah aku tahu itu alasan sebenarnya.


“Yasudah. Mami dan Papi mau mengantar Agatha ke suatu tempat. Kalau memang sempat kamu nyusul yah?” Gara hanya mengangguk tanpa berjanji.


Aku yang penasaran kemana akan di bawa Mami dan Papi jadi merasa gelisah. Memikirkan kemana Gara akan pergi.


Saat kami pergi dari rumah, Gara juga melajukan mobilnya keluar rumah.


“Kamu kenapa, Tha?” tanya Mami.


“Hah? Tidak apa-apa, Mi.” jawabku kaget.

__ADS_1


Sejak tadi pikiranku terus saja memikirkan Gara. Sementara di depan ada Mikael yang mengemudikan mobil kami.


__ADS_2