
Mikael bahkan tanpa ragu menatap Papi Raga dengan mantap. “Tentang Agatha yang bukan anak kandung dari Om dan Tante? Saya sudah tahu. Agatha sudah jujur pada saya, Om. Maka dari itu saya datang kemari untuk menyatakan niat saya pada Agatha.”
Rasanya jantungnya berdetak sangat tidak beraturan. Aku hanya menunduk tanpa punya keberanian melihat Papi dan Mami.
“Bagus. Jika begitu malam ini datanglah ke rumah bersama orangtuamu.” Ucapan Papi benar-benar membuat aku syok. Aku menoleh pada Mikael untuk memintanya tidak menyetujui permintaan Papi.
Mikael hanya tersenyum padaku. Tak tahu apa maksud senyumnya itu. “Baiklah, Om. Saya akan datang malam ini.”
Tuhan, aku harus bagaimana saat ini? Semua terjadi di luar dugaanku. Pikiranku benar-benar pusing saat ini.
“Yasudah sampai ketemu nanti malam yah. Saya ada janji dengan istri saya.” Papi merangkul Mami di depan kami. Aku bisa melihat jika Papi dan Mami tampak santai. Apa karena aku bukanlah anak kandung mereka? Maka itu bukanlah suatu hal yang penting untuk di pikirkan?
Buru-buru aku menggelengkan kepala berusaha menghilangkan prasangka buruk itu. Papi dan Mami adalah orang yang baik. Mereka begitu sayang padaku. Mungkin memang benar jika Papi akan jauh lebih lega ketika aku anak perempuannya sudah menikah. Papi sangat takut jika masa depanku hancur.
__ADS_1
“Beres kan? Aku ke kantor dulu. Nanti malam dandan yang cantik yah?” Mikael begitu santai menggodaku ketika kami sudah berada di luar ruangan Papi.
Aku melangkah meninggalkan Mikael menuju tempat kerjaku. Kami berpisah dengan kesibukan masing-masing. Siang ini adalah pertemuan yang sangat singkat. Aku tahu Mikael memang bukan pertama kalinya berhadapan dengan Papi. Mereka sama-sama pembisnis sudah pasti sering bertemu di beberapa acara.
Sejak pertemuan singkat siang pikiranku terus semakin kacau memikirkan hal yang akan terjadi malam ini.
“Agatha, bagaimana? Apa sudah selesai?” tanya Dava yang membuyarkan lamunanku.
Tak ingin berlama-lama bersama dengan sekertaris Papi, aku memilih pamit pulang lebih dulu.
“Kenapa Pak Dava selalu menatapku seperti itu sih? Kan bikin risih?” gumamku melangkah begitu cepat.
Jelas aku merasa ada yang semakin aneh dari Pak Dava. Setiap pagi sering mengirim pesan ucapan selamat pagi bahkan ia sering kali menawarkan untuk menjemputku di kampus. Dulu sebelum ada Mikael aku hanya mengiyakan saja tawaran Pak Dava. Namun, semakin kesini aku merasa semakin ada yang aneh.
__ADS_1
Beruntung ia membiarkan aku pulang ke rumah sendiri. Malam sudah menyambutku ketika tiba di rumah. Perjalanan sore terasa sangat melelahkan ketika semua kendaraan macet di jalanan.
“Gih buruan mandi. Sebentar lagi pasti mereka datang.” Mami Tasha datang mengusap bahuku. Aku yang semula duduk di sofa menatap Mami.
“Mi, kenapa?” tanyaku.
Sampai saat ini aku masih merasa tak menyangka jika Mami mengijinkan aku berhubungan serius dengan Mikael.
“Papi kamu ingin yang terbaik untuk kamu. Mikael pria yang baik dan bertanggung jawab. Kamu akan bahagia, Tha.” Aku menghela napas kasar.
Memang dalam kehidupan yang di butuhkan untuk yakin memilih adalah baik dan bertanggung jawab. Tapi, bagaimana dengan hatiku? Hatiku tidak bisa memilih Mikael.
“Mi, aku masih kuliah. Kerjaan aja belum ada. Bantu Mami sama Papi aja baru seujung kuku, masa sudah harus jadi milik orang sih?” gerutuku memprotes pada Mami. Sebab dengan Papi aku sama sekali tidak punya keberanian.
__ADS_1