
Melihat keadaan yang tak nyaman segera aku pamit untuk ke dapur membuatkan minum Mami dan Papi. Meski aku tak bisa membuatnya, setidaknya akan ada bibi yang bisa membantuku. Mungkin dengan begitu Gara tak perlu membuat alasan lagi untuk menghindari aku. Di dapur benar saja bibi yang membuat minum untuk Mami dan Papi, sementara aku berdiri dalam diam bingung harus melakukan apa.
Tak terbayangkan satu rumah kembali dengan Gara akan terasa secanggung apa. Aku benar-benar tak menyangka ia akan kembali ke Indonesia. Mungkin ini adalah keterlibatan Mami Tasha yang pasti akan sangat cemas membiarkan Gara di sana.
"Sha, kamu kenapa? Kamu pikir Mami nggak tahu kalau kamu buat minum cuman alasan saja. Kalian bertengkar kan?" Tubuhku sampai terjingkat kaget mendengar Mami tiba-tiba saja masuk ke dapur. Gelagapan aku tidak tahu lagi harus beralasan apa saat ini.
Yang ku lakukan hanya bergerak mendekati bibi sembari tersenyum pada Mami Tasha.
"Bi, ini sudah cukup kok. Tadi hanya kurang gula sedikit buatanku." ujarku berakting di depan Mami yang hanya menggelengkan kepala saja.
__ADS_1
Segera aku melewati Mami Tasha tanpa berniat mengatakan sejujurnya. Di sofa ku lihat Gara tampak memainkan ponselnya tanpa menoleh padaku. Aku pun demikian hanya melirik sekilas dan segera kembali ke kamar.
"Astaga, Mami. Kenapa bikin aku kaget sih?" tanyaku memegang dada kala melihat Mami yang sudah duduk di sisi ranjang kamar dimana tempat kenangan Mami sejak kecil.
Ku tatap tangan Mami yang menepuk pelan di atas kasur. Aku pun duduk mengikuti perintah Mami.
"Katakan pada Mami, Agatha. Mami tahu ada yang kalian sembunyikan dari Mami. Sejak penolakan kamu ikut ke Jerman Mami sudah bisa menduga terjadi sesuatu pada kalian."
"Hanya masalah Gara yang membatasi aku pacaran saja, Mi. Aku tidak suka Gara terlalu ikut campur pada masalahku. Jika terus begitu bagaimana aku bisa menikah nanti?" Terpaksa aku berbohong pada Mami demi ketenangan hati Mami.
__ADS_1
Beruntung aku bisa segera mendapatkan bahan alasan begitu cepat. Jika tidak bisa bahaya. Aku tahu Mami pasti akan sangat marah besar pada ku dan Gara jika sampai tahu yang sebenarnya.
"Kalian sudah dewasa. Maka selesaikanlah masalah dengan kepala dingin. Bukan dengan cara saling diam seperti ini. Kalian adalah saudara, tidak baik seperti itu. Bagaimana jika kelak Mami dan Papi tidak ada lagi? Siapa yang akan menasihati kalian? Bersikaplah saling sayang pada sesama adik dan kakak. Mami membesarkan kalian penuh kasih sayang. Jangan mengecewakan Mami yah?" Aku mengangguk susah payah menahan air mata yang ingin sekali jatuh rasanya.
Rasanya nyeri mendengar ucapan Mami yang begitu tulus padaku dan Gara. Ku peluk erat tubuh Mami yang juga memelukku.
"Aku mencintai Mami. Jangan pernah berubah yah, Mami?" Mami menganguk sembari mengusap kepalaku lembut.
"Mami juga sangat mencintai kalian anak-anak Mami. Tidak mungkin cinta seorang ibu bisa berubah pada anaknya sekali pun mereka berlaku sangat melebihi batas. Itu sebabnya di katakan cinta seorang ibu tak akan pernah ada duanya pada anaknya. Tidak ada seorang ibu yang rela anaknya di sakiti siapa pun termasuk ayahnya." ujar Mami Tasha.
__ADS_1
"Tuhan, tak akan bosan aku mengucapkan terimakasih padamu telah menempatkan aku di keluarga yang sangat baik padaku. Mereka benar-benar sangat baik padaku."