
Entah mendapatkan hidayah dari mana Firman saat ini memberi izin pada Tasha dan Gara pergi bersama dengan Gara. Tanpa dirinya mau pun sang istri yang ikut. Bandara menjadi tempat perpisahan mereka siang ini. Firman memeluk sang anak dan juga cucu tampannya begitu erat. Rasanya berat melepaskan mereka bukan hanya karena tak ingin pisah. Lebih pada mencemaskan Tasha dan Raga yang harus pergi tanpa pengawasan darinya. Mau bagaimana lagi, dirinya tak berdaya saat ini. Indri tampak tersenyum menaikkan sebelah alis menggoda sang suami. Perjanjian semalam menjadi hal yang tak bisa ia ingkari. Dengan berat hati Firman melepas kepergian sang anak dengan pria masa lalunya.
"Papah sama mamah sehat-sehat yah, Tasha secepatnya akan pulang." mereka melambaikan tangan dengan Gara yang berada di pelukan Raga. Terlalu senang membuat Raga tanpa sadar memeluk tubuh Firman saat berpamitan.
Ia begitu senang sebab merasa seolah mendapatkan kepercayaan dari sang calon mertua untuk pergi bersama Tasha. Tanpa ia tahu saja jika sebenarnya ini semua adalah kerja keras dari Indri yang sampai encok demi memenuhi keinginan sang suami hingga berakhir dengan pernjanjian yang mengharuskan Firman memberi kepercayaan pada anaknya.
Setibanya mereka di Singapura, Tasha baru saja ingin menghubungi Bu Dewi seperti janji mereka sebelumnya. Namun, Raga sudah lebih dulu membawa sang anak menuju mobil yang berhenti di depan mereka saat itu.
"Raga, tunggu! Mau di bawa kemana Gara?" tanya Tasha nampak panik kala melihat sang anak yang di masukkan ke dalam mobil.
__ADS_1
Gara tertidur dengan lelap di gendongan sang papi. "Ke tempat yang jauh lebih aman dari pada di rumah itu." ketus Raga menjawab.
Ia tahu kemana tujuan Tasha akan tinggal ketika di Singapura. Sampai titik darah penghabisan Raga tak akan membiarkan Tasha begitu saja tinggal satu atap dengan pria yang sangat tak ia sukai. Bahkan dekat dengan Bu Dewi, Raga tak pernah rela. Tasha hanya boleh dekat dengan keluarganya saja.
Mau tak mau Tasha pun ikut. Ia tidak mungkin menunggu jemputan Bu Dewi sementara sang anak pergi tinggal bersama Raga di tempat yang ia sendiri pun tidak tahu. Setelah dua puluh lima menit akhirnya mobil mewah itu tiba di salah satu hotel yang sangat terkenal. Yah hotel yang berada di pusat kota dan itu pernah menjadi tempat Tasha dan Gara beristirahat beberapa hari. Sayangnya kamar yang menjadi tempat mereka saat ini justru kamar yang sangat terbilang vvip. Sebab Raga sudah memesan dari sang pemilik hotel langsung untuk mendapatkan pelayanan khusus. Di dalam hotel ada satu kamar. Sangat luas hampir seperti apartemen. Lama Tasha terdiam kala melihat Raga menggendong anaknya masuk ke kamar. Tak berani masuk lebih dalam lagi, Tasha memilih berdiri di ruang tengah di mana jaraknya tak begitu jauh dari pintu.
Bagaimana bisa pria itu melewati dirinya begitu saja tanpa mengatakan apa pun lagi. Pintu yang tertutup membuat Tasha tercengang bahkan wanita itu bergegas masuk ke dalam kamar dimana sang anak berada. Tasha berdiri di depan cermin memperhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah.
"Wajahku baik-baik saja kan?" tanyanya pada diri sendiri sebab merasa tak percaya bagaimana mungkin Raga secuek itu padanya.
__ADS_1
Tak seperti biasa yang sangat posesif. Kini Raga terkesan masa bodoh kecuali menyangkut soal Gara sang anak. Kesal, Tasha memilih untuk membersihkan diri dan istirahat sembari memberi kabar pada Bu Dewi jika ia tidak jadi mengingap di rumah mereka. Meski pun Bu Dewi sudah meyakinkan Tasha jika Rafa tak ada di rumah sedang sibuk bekerja.
Kelelahan akibat perjalanan jauh membuat Tasha terlelap dengan pakaian tidurnya yang berbahan satin itu. Ia tidur dengan kepala yang masih terbalut handuk sehabis keramas. Memeluk Gara tidur membuatnya sangat nyaman hingga lupa waktu. Jarum jam yang terus berputar hingga malam hari membuat Raga beranjak dari kursi dan mematikan laptop kerja miliknya. Ia bersiap menuju kamar sebelah untuk membawa sang anak dan ibu dari anaknya untuk keluar makan dan jalan-jalan.
"Gara-gara dokter cabul itu aku terpaksa bersikap seperti ini, Sha. Coba kalau tidak, aku sudah sangat ingin menikmati momen yang sangat jarang terjadi ini. Berkencan denganmu malam-malam di negara ini tanpa pak Firman rasanya begitu menyenangkan. Huh tapi tahan Raga...ini tidak akan lama. Tasha harus bisa melihat sisi mahalmu sedikit saja. Kata orang seperti itu bukan? Harus ada jual mahal." pria tampan itu tampak berbicara pada dirinya sendiri tanpa sadar.
Kini kamar yang bisa ia buka dengan accses card membuat pria itu terdiam mematung di tempatnya kala memasuki kamar dimana sosok wanita cantik terbaring begitu cantik di depannya dengan mata terpejam. Susah payah Raga meneguk salivahnya melihat lekukan tubuh Tasha yang berbaring menyamping sangat begitu indah. Sekali pun tubuh itu terlihat memakai pakaian namun bahan yang di gunakan sangat lembut dan pikiran kotor Raga mendadak traveling kemana-mana.
Wajah yang semula putih mendadak merah saat itu juga. Raga bahkan mengusap tengkuknya yang merinding membayangkan tubuh berlekuk indah itu di dekapannya saat ini.
__ADS_1