
Mendengar nasihat Mami Tasha sebisa mungkin aku tenang dan mencoba memperbaiki semuanya. Mungkin dengan mendapat masukan para sahabatku, aku bisa memutuskan untuk berdamai kembali dengan Rifana atau tidak. Setidaknya aku tidak ingin mengambil keputusan yang salah. Setelah aku pikirkan beberapa hari ini ada kemungkinan jika Rifana memang tidak tahu semua niat yang mungkin tiba-tiba muncul di otak kotor Morgan malam itu.
Sore hari yang tenang aku melajukan kendaraan roda empatku menuju ke rumah Sela. Dimana tempat yang paling sering kami jadikan tempat berkumpul. Niatku memanggil mereka semua setelah aku tiba di rumah Sela. Setidaknya aku bisa memastikan lebih dulu jika rumah itu akan kami jadikan tempat berkumpul.
Kedatanganku di kediaman tersebut di sambut hangat oleh bibi yang keluar dari dalam rumah.
"Non Agatha?" ujarnya membuat aku hanya tersenyum samar.
Ku lihat sekitar rumah megah Sela nampak begitu sunyi. Mobil yang sering di gunakan Sela pun tak terlihat di jajaran mobil yang ada di rumahnya.
"Bi, Sela ada? Kok mobilnya nggak ada?" tanyaku tanpa basa basi.
"Non Sela sudah di rumah temannya yang namanya...Non Sisil. Ah iya Non Sisil katanya. Non Agatha pasti mau kesana juga yah?" Keningku mengernyit heran mendengar ucapan Bibi.
Firasatku tiba-tiba saja rasanya tak enak saat ini. Segera aku pamitan meninggalkan rumah Sela dan melajukan mobilku menuju rumah Endah. Mungkin hanya Sisil dan Sela yang sedang berjanjian, pikirku. Lima belas menit aku mengendarai mobil hingga terlihatlah pagar rumah Endah yang bergeser otomatis.
"Non Agatha..." Security tampak menyapaku.
Aku tak ingin membuang waktu dengan memasukkan mobil ke dalam sana. Segera ku tanyakan keberadaan Endah dan benar jika orang yang ku cari pun tak ada di rumahnya.
__ADS_1
"Non Endah sudah jalan dari tadi, Non. Coba hubungi saja." Aku pun melajukan mobil meninggalkan rumah Endah.
Selama dua minggu lebih para sahabatku tak ada yang datang ke rumah bahkan grup chat kami pun sangat sepi tak ada obrolan baru. Aku benar-benar merasa aneh dengan semua sahabatku.
Segera ku lajukan kendaraan menuju rumah Sisil. Aku harus datang dan memastikan semuanya baik-baik saja. Rumah Sisil pun sudah ku datangi sore ini. Langit yang semakin gelap mulai menampakkan bulan dan bintang. Jalanan yang macet membuat aku sedikit lama sampai di rumah Sisil.
Sebuah gerbang yang memang sudah di buka lebar dengan security yang berjaga di depan sana. Aku jelas melihat banyak mobil para sahabatku terparkir rapi di halaman rumah Sisil. Dadaku terasa tak nyaman saat ini. Feelingku mengatakan jika aku saat ini seperti sedang di asingkan oleh mereka. Hingga kakiku berhenti melangkah kala memasuki rumah Sisil. Dimana suara tawa mereka semua terdengar ramai. Sedih tentu saja aku merasa sedih. Mengapa mereka justru tak mengajakku sama sekali.
"Kamu kenapa sih, Rifana? Ini acara kan kamu yang buat. Kok nggak rileks gitu sih?" Aku jelas hapal dengan suara itu. Dia adalah Veni. Suara cempreng yang selalu paling heboh.
"Aku cuman nggak enak aja sama kalian. Gara-gara aku kalian jadi nggak dekat lagi sama Agatha." Tubuhku diam menegang mendengar namaku di sebut oleh Rifana.
"Ah santai aja sih. Lagian kita semua kan sahabatan. Bahkan kamu sendiri bilang niat kamu sama Agatha kan nggak seburuk yang dia pikirkan. Mungkin Agatha aja yang terlalu kekanak-kanakan mikirnya. Toh dia nggak sempat di apa-apain sama kakak mu kan? Kenapa sampai mutusin persahabatan kita sih? Awalnya aku respect sama dia. Tapi pas tahu cerita yang sebenarnya dari kamu, yah jadi nggak lagi deh."
Segera aku melangkah pergi tanpa mau bertemu mereka semua. Aku benar-benar marah dengan keadaan yang membuat aku harus kehilangan sahabatku semua. Mobil pun ku lajukan begitu cepat malam itu. Aku tak perduli bagaimana semua kemungkinan terburuk akan menimpaku malam ini. Yang jelas pikiranku benar-benar kacau. Ternyata putus cinta tak seberapa sakitnya di bandingkan putus tali persahabatan.
"Agatha?" Mami Tasha yang menyambut kepulanganku di depan pintu segera ku peluk tubuhnya.
Aku menahan tangis malam ini di depan Mami. Aku tidak ingin Mami justru semakin mencemaskan aku.
__ADS_1
"Hei ada apa, Sayang? Kamu habis bertengkar dengan sahabatmu? Ayo katakan pada Mami." Aku mengelengkan kepala lemas.
Rasanya pikiranku terlalu kacau malam ini dan aku hanya ingin di kamar saja. "Aku lelah, Mi. Mau ke kamar dulu." ujarku setelah melepaskan pelukan Mami.
Berniat ingin memperbaiki semuanya justru aku mendengar kenyataan dimana para sahabatku justru membela Rifana yang aku sendiri mulai merasa kejanggalan dengan kehadirannya belakangan ini sebelum kejadian dengan Morgan.
Ternyata tidak mudah membuat wanita itu keluar dari grup ku. Karena memang kami semua berteman sudah sangat lama. Beruntung libur semester masih cukup lama. Setidaknya aku masih bisa menenangkan diri lebih lama lagi di rumah tanpa bertemu dengan mereka.
"Kamu belum makan kan? Ayo makan dulu. Mami bawakan ke kamar yah?" Aku tersenyum ketika duduk di atas ranjang menatap Mami yang kecantikannya semakin hari semakin bertambah.
Aku hanya mengangguk dan tak lama kemudian nampan yang ada di tangan Mami di berikannya padaku. Aku makan dengan di temani Mami Tasha. Mami yang begitu sangat baik padaku.
"Tha, bagaimana masalahnya? Belum selesai? Kamu sudah bertemu mereka?" Pertanyaan Mami hanya ku jawab dengan diam. Aku tak tahu harus mengartikan apa dengan pertemuanku tadi dengan teman-temanku.
"Besok lusa bagaimana kalau kamu temani Mami jenguk adikmu? Mami mau bawakan banyak bahan makanan untuk di masak di sana. Katanya Gara sangat rindu masakan Mami." Dengan semangat aku tersenyum mengangguk setuju.
"Kita berangkat ke luar negeri bareng, Mi?" Mami Tasha mengangguk mengiyakan pertanyaanku.
Semangatku menjadi besar sekali ketika membayangkan akan liburan bersama Mami. Mungkin dengan begitu aku bisa sedikit banyak cerita dengan adikku. Saat seperti ini aku pasti akan sangat membutuhkan adik besarku itu. Tak sabar rasanya untuk segera tiba di sana dan menceritakan semuanya pada Gara. Mungkin dari segi usia memang aku sangat dewasa di bandingkan dia. Tapi, dari segi mental nyatanya aku tak setangguh Gara dalam menghadapi masalah. Sering kali aku bertindak gegabah.
__ADS_1
Malam itu Mami dan Papi memesan tiket untuk keberangkatan kami bertiga. Sebenarnya di awal hanya aku dan Mami saja yang akan berangkat. Tapi, nyatanya perdebatan yang terjadi antara Papi dan Mami memberikan hasil jika semua akan berangkat. Papi memang selalu seperti itu. Sehari pun ia tidak akan mau berpisah dengan Mami.
Setiap hari di kantor pun Mami sering datang dari siang hari sampai menjelang sore menemani Papi. Mami dan Papi memang pasangan yang paling romantis sepanjang sejarah aku hidup bersama mereka. Cinta yang semakin tua tak menyurutkan perasaan mereka justru semakin subur sebab mereka pandai merawatnya.