
“Gar, belum kenyang?” Mami Tasha yang bersuara sontak membuat aku mengangkat wajah menatap adikku di depan sana. Ia tampak menggelengkan kepalanya.
Masakan mami Tasha memang sangat lezat, tak heran jika Gara sangat lahap dan sulit berhenti makan.
“Setelah makan malam ini, Mami dan Papi akan jalan keluar. Kamu bawa kakak mu jalan-jalan juga yah?” Hanya anggukan yang Gara lakukan.
Sepertinya menikmati masakan Mami Tasha membuat Gara tak mau di ganggu dalam hal apa pun. Aku melihat Mami Tasha menghela napas saja lalu beranjak dari duduknya. Dan saat ini sudah lima menit setelah kepergian Mami Tasha dan Papi dari apartemen. Gara masih tak kunjung selesai makan.
Cucian piring pun sudah selesai ku lakukan.
“Gara, kok nggak berhenti-berhenti sih makannya?” tanyaku yang sudah tak sabar.
Aku ingin segera menghibur diriku dengan berjalan di luar sana. Pikiranku terlalu kacau untuk di bawa berdiam diri di dalam rumah.
“Yasudah ayo jalan.”
__ADS_1
Aku tercengang. “Mau langsung jalan? Lihat penampilanku.” Aku menunjukkan dress rumah yang ku kenakan. Tidak mungkin kami jalan dengan penampilanku yang seperti ini.
“Tetap cantik kok. Nih pakai jaket ini saja. Lagian mau kemana sih udah malam?” Gara melempar jaket tebal milikku dan segera saja ku pakai. Aku tak sabar untuk di bawa jalan-jalan di luar sana.
Mengingat di Indonesia para temanku begitu bahagia tanpa aku.
Gara membawaku ke sebuah tempat pusat perbelanjaan. Keningku mengernyit. Ini bukan tempat pakaian yang bagus. Hanya sebuah toko perhiasan yang memang sangat menarik. Ramainya pengunjung membuat Gara menarik tanganku tanpa melepaskannya.
Andai aku memiliki kekasih yang tulus seperti sikap Gara padaku, mungkin aku tak lagi perduli dengan semua tingkah teman-temanku. Aku pasti tidak akan membutuhkan mereka lagi di duniaku.
“Ini cocok untukmu.” Satu gelang berantai kecil dengan buah merah di tengahnya membuat aku tertarik. Gara meletakkan gelang itu di tanganku. Memang sangat cantik.
“Tidak. Aku bukan mau belanja perhiasan. Lagi pula ini pasti sangat mahal.” tuturku yang menimbang-nimbang. Rasanya sangat sayang jika uang jajan yang di kasih Papi untukku harus ku belikan benda mahal ini.
“Ambillah. Aku yang belikan.” ujar Gara dengan santainya.
__ADS_1
“Gar, jangan. Aku nggak enak sama Mami. Ini mahal banget loh.” ujarku memberikan kembali gelang itu. Namun, Gara justru melakukan pembayaran pada penjual di toko perhiasan itu.
Jujur aku sangat senang melihat ada perhiasan cantik di tanganku melekat saat ini. Permata indah yang begitu kontras dengan warna kulitku yang putih.
Kami berdua pun lanjut berjalan-jalan dengan menepi di jembatan besar yang sangat indah. Kedua mataku berbinar kala melihat pemandangan malam hari yang begitu dingin. Negara ini begitu sangat rapi dan bersih. Satu sampah pun tak ada ku lihat berjatuhan meski ramai pengunjung di beberapa tempat.
“Foto yuk?” Ajakku berselfie namun Gara membuang wajahnya ke arah lain.
Adikku ini memang sangat tak suka jika aku mengabadikan momen bersamanya.
“Kenapa sih nggak suka di foto?” tanyaku cemberut kesal.
“Nanti aura tampanku hilang.” Bibirku mencebik mendengar ucapan tak masuk akal itu.
“Sudah malam terlalu dingin di luar. Kita pulang yah? Besok aku ada kuliah pagi.” Aku pun tak keberatan untuk pulang.
__ADS_1
Meski di apartemen Mami dan Papi pasti belum pulang. Hah kapan yah aku bisa punya kekasih yang bisa di ajak jalan seru-seruan sampai lupa waktu seperti ayah ku itu?