
"Sha, aku pulang dulu yah? Terimakasih atas kehadirannya makan malam. Besok saya sudah harus kembali ke Singapur lagi." Rafa tampak bicara lebih sopan dan hangat pada Tasha.
Wanita yang sering kali ia tatap penuh curiga ternyata sangat baik setelah melewati makan malam bersama. Untuk kesan pertama yang Rafa dapatkan dari makan malam ini bersama Tasha, bisa ia simpulkan Tasha wanita yang cerdas. Ia tak banyak bicara omong kosong dan membuat pria itu merasa berbicara dengan Tasha cukup memiliki kualitas yang bagus.
"Baik, terimakasih Dokter Rafa." ujar Tasha dengan sopan.
Baru saja pria itu hendak meninggalkan halaman rumah Tasha tiba-tiba saja suara seseorang dari dalam rumah membuatnya menghentikan pergerakan kaki yang baru saja ingin melangkah. Pintu utama rumah Firman terbuka dan nampaklah dua pria yang berbeda usia. Dan itu ternyata Firman dan juga Gara kecil yang menampakkan wajahnya sembab.
"Uncle..." Gara berlari memeluk kedua kaki milik Rafa.
Seolah mengadukan kesedihannya dengan pria tampan itu. Tasha sampai melongo tak percaya melihat sikap manja sang anak. Malu tentu saja ia malu pada Rafa melihat anaknya seperti bertingkah dengan ayahnya sendiri.
"Gara, sini sama mami." pintah Tasha yang sudah biasa bagi Rafa mendengar wanita itu menyebut dirinya mami.
Namun, Rafa tak ambil pusing. Ia hanya menyimpulkan jika keduanya memiliki panggilan sendiri-sendiri. Dengan Gara yang memanggilnya kakak.
"Halo tampan...lihat Uncle bawakan sesuatu." Rafa pun memberikan sesuatu di tangannya yang memang ia belikan untuk Gara dan hampir lupa di berikan pada Tasha tadi.
Melihat itu Tasha kaget. Ia sendiri mengira Rafa membelikan seseorang bukan untuk anaknya.
"Dok, jangan. Saya sudah membelikan untuk Gara kok. Sayang, ini mami belikan untukmu." Gara menoleh ke dua mainan yang ada di tangan Tasha dan juga Rafa. Semua sama-sama bagus ia lihat hingga ia pun membuka kedua tangannya untuk mengambil mainan keduanya itu.
Firman yang melihatnya hanya tersenyum gemas. Cucunya memang selalu berbuat hal yang menggemaskan menurutnya. Hingga Rafa pun meminta Tasha untuk tidak melarang Gara mengambil pemberiannya. Waktu yang sudah malam membuat Rafa harus segera pamit pulang. Ia berpamitan pada Firman lalu kini ia pun menggendong Gara yang berdiri di hadapannya.
"Gara, Unlce besok sudah harus pulang. Gara harus pintar yah. Nanti kita akan bertemu lagi di lain waktu." ujar Rafa begitu sedih terdengar.
Meski baru kenal beberapa waktu, Gara begitu merasa nyaman dengan sikap hangat Rafa. Tasha hanya diam memperhatikan percakapan keduanya tanpa berkomentar apa pun. Baginya sang anak berhak mendapatkan teman baik sekali pun itu adalah orang dewasa.
__ADS_1
"Uncle pulang kemana? jauh kah?" tanya Gara lagi.
"Gara, uncle ini tinggalnya di rumah Oma Dewi itu loh. Yang suruh Gara tidur di rumahnya waktu itu tapi Gara lebih suka tidur di hotel karena banyak lampunya." Kini Tasha yang menjawab sebab Rafa memang tidak tahu hal itu.
Pelan Gara mengangguk-anggukan kepala mengingat hal yang sudah hampir ia lupakan sebab sibuk dengan sekolahnya. Bocah kecil itu tampak tersenyum lebar.
"Gara mau deh Kak kesana lagi dan tidur di rumah Oma Dewi. Asalkan ada uncle tampan ini. Waktu itu kan tidak ada." jawabnya dengan jujur.
Rafa pun terkekeh mendengar ucapan Gara. Namun, tidak dengan Tasha. Bagaimana mungkin ia setuju sedangkan dirinya tentu tidak boleh tinggal satu atap dengan Rafa. Akhirnya tak ada jawaban yang bisa Tasha berikan pada sang anak. Ia lebih memilih hanya diam membiarkan Rafa menurunkan tubuh sang anak dan pergi dari sana.
***
Singkat cerita pagi ini Tasha tengah menyalakan lampu tidur kamar anaknya. Gara yang tidur seorang diri dengan di pantau cctv tampak tak juga membuka matanya. Tidak biasanya Gara bangun sampai selambat ini. Pelan Tasha pun mendekat dan membangunkan sang anak. Tangannya mengusap kening Gara dengan lembut hingga gerakan tangan itu terhenti seketika. Wajah Tasha berubah panik tangannya menyentuh beberapa bagian tubuh sang anak hingga akhirnya Tasha segera mengangkat tubuh Gara menggendongnya keluar kamar.
"Gara, sayang mami. Kamu kenapa, Nak? Katakan dimana yang sakit?" untuk pertama kali ia mendapati sang anak demam setinggi ini.
Tasha membawa anaknya ke dapur memberikan air hangat lalu berlari kembali menuju kamar sang mamah.
"Ada apa, Sha? kenapa teriak-teriak begitu?" tanya Indri yang menyisir rambutnya kala Tasha membuka lancang pintu kamar kedua orangtuanya.
Di dalam sana Firman yang tengah berlari ngacir hampir terpeleset ke kamar mandi.
"Astaga, Tasha. Kamu ini bisa pelan-pelan nggak buka pintunya?" Kesal pada sang anak sebab ia sedang membalut tubuhnya dengan handuk.
Tasha tak perduli dengan sang ayah yang polos di dalam sana marah-marah. Ia menatap sang mamah dengan wajah panik.
"Mah, Gara demamnya tinggi sekali. Kita ke rumah sakit yah, mah?" tuturnya meminta persetujuan sang mamah.
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita ke rumah sakit. Sebenarnya ini tinggal di beri sirup penurun demam dan di kompres pasti mendingan kok. Tapi, dari mamah kamu salahin ya sudah ayo." kedua wanita itu pun bergegas menuju ke rumah sakit di pagi buta.
Bahkan Tasha sampai tak ingat untuk memberi informasi pada Raga tentang anak mereka. Gara yang terus menggigil bergetar tubuhnya membuat Tasha meneteskan air mata tak tega melihat anaknya. Hingga mereka akhirnya sampai di rumah sakit dan segera mendapatkan pertolongan dari sang dokter.
"Papi...papi..." Di tengah kepanikan Tasha mendengar rengekan sang anak yang tak kunjun membuka matanya.
Gara masih terpejam dengan tubuh yang gemetar, demam di tubuhnya semakin tinggi. Tak kuasa Tasha menahan air mata sedihnya. Gara adalah sosok yang ceria tentu saja melihat keadaannya seperti ini sungguh sangat menyedihkan baginya. Segera ia memeluk sang anak yang tengah di periksa oleh dokter.
"Sayang, iya mami akan telepon papi yah?" ujarnya.
Sedangkan di rumah Tasha, kini Raga baru saja tiba. Pria itu baru hendak mengetuk pintu rumah namun justru ia terkejut dengan kemunculan Firman yang sudah berdiri di depannya dengan wajah sangarnya. Heran rasanya dengan pria tua di depannya ini. Terkadang ia nampak sangat menakutkan, terkadang menjadi pria yang bijak, terkadang tampak seperti seorang ayah yang hangat menatapnya. Dan pagi ini Raga melihat tatapan mengintimidasi di kedua mata Firman.
Kedua pria itu akhirnya saling berhadapan tanpa ada bicara apa pun. Pelan Raga menurunkan tangan yang menggantung di daun pintunya. Ia tak tahu harus berkata apa saat ini.
Beberapa pelayan pun tampak mencermati dari kejauhan begitu juga dengan security yang nampak was-was jika sampai terjadi perkelahian antara dua pria berbeda usia itu.
Tangan Raga jelas Firman lihat ada satu tas yang entah isinya apa ia sendiri tidak tahu dan tidak mau tahu.
Hingga ketegangan keduanya terpecahkan saat dering telepon Rafa terdenga. Segera pria itu berpamitan untuk mengangkat.
"Maaf, Pak. Saya angkat telepon dulu." ujarnya dengan wajah kikuk.
"Apa? Gara di rumah sakit? Oke. oke aku segera kesana, Sha." Raga berlari setelah pamitan untuk pergi dengan Firman.
Saat baru saja hampir tiba di mobil, tiba-tiba suara Firman terdengar lantang.
"Tunggu!" teriaknya menggema di halaman rumah itu.
__ADS_1
Raga berhenti dan memutar tubuhnya menghadap pria itu. Ia melihat Firman yang berjalan cepat seolah ingin menggampar wajahnya. Hingga akhirnya Raga melihat tubuhnya di lewati begitu saja dengan kakek dari anaknya yang masuk dan duduk di samping kemudi mobil miliknya.
Sejenak Raga terdiam mematung. "Ayo cepat. Mau sampai kapan jadi patung di situ?" ujar Firman bertanya dan Raga yang melamun pun tersadar dari lamunannya.