
Wajah kaget yang aku tunjukkan berusaha ku alihkan menjadi tersenyum. Bibirku bahkan tak sanggup senyum dengan lebar, jelas ada ketakutan di balik senyumku ini.
"Mami?" aku menyapa balik wanita yang berdiri di hadapanku saat ini.
Mami bisa saja memarahi aku dan Gara saat ini karena jelas aku tidak melakukan penolakan ketika adikku mencium keningku. Rasanya aku sangat takut, semua prasangka buruk terus menguasai pikiranku saat ini. Tubuhku terasa gemetar sekali melihat Mami melangkah perlahan ke arahku. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika tangan itu terangkat. Aku bersiap menahan sakitnya tamparan Mami saat ini.
"Ada apa denganmu? Mengapa aneh seperti ini? Dan apa ini, Agatha? Lihat rambutmu acak-acakan seperti ini." Tangan lembut itu ku rasa mengusap kepalaku. Dimana Mami mengatakan jika rambutku acak-acakan.
Mata aku buka kembali, rasanya benar-benar lega ketika aku tahu Mami tidak ingin menamparku. Rasa bersalah dan takut yang ku rasakan saat ini seperti ingin membuat aku gila. Ini semua karena Gara yang terlalu lancang berbuat sesuka hatinya padaku.
"Entahlah, Mi. Em...Mami kenapa kemari?" tanyaku yang terlihat sangat gugup.
"Tuh, tadinya Mami mau taruh itu ke kamar kamu. Eh Mami malah lihat kamu berdiri seperti patung di depan pintu. Ada apa? Gara menyakiti kamu kah?" tanya Mami Tasha yang sudah melingkarkan tangan di lenganku.
__ADS_1
Kami berjalan layaknya teman sebaya menuju kamarku dimana Mami ingin membawa buku cerita yang ia pinjam padaku. Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Andai saja Mami tahu mungkin ia tak akan mau berbicara lagi padaku.
"Maafkan Agatha, Mi. Agatha salah jadi Kakak yang tidak tegas." gumamku merasa sangat bersalah saat ini.
Bagaimana pun Gara tetap tidak bersalah, sebagai Kakak akulah yang harus mengajarkan padanya semua ini. Namun, semua itu terkalahkan oleh perasaanku yang juga mencintai Gara.
Malam ini aku menidurkan diri lebih awal. Rumah terasa sunyi seperti biasa lagi. Saat ini ada Gara mau pun tidak rasanya sama saja. Ia tak pernah berkumpul lagi denganku seperti dulu. Kami benar-benar berubah dan aku tahu jika itu juga yang di rasakan Mami dan Papi sebagai orang tua.
Sampai akhirnya tibalah waktunya Gara kembali lagi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya. Aku merasa senang setidaknya ada jarak yang bisa memisahkan kami. Dan aku berjanji akan fokus pada kuliahku dan kehidupanku untuk masa depan.
"Oh iya it's okey. Hati-hati di jalan yah? Jangan lupa kerja yang benar bantu Papi." Gara pun ku rasakan membalas pelukanku. Tangannya mengusap punggungku sembari berbisik.
"Aku akan merindukan pelukanmu ini." Aku hanya diam tak membalas dan segera mundur melepas pelukan itu.
__ADS_1
Mami dan Papi ku lihat hanya tersenyum melihatku. Mereka senang ketika melihat kami kembali dekat seperti ini.
"Agatha, kamu yakin nggak ikut ngantar Gara ke bandara?" tanya Mami yang merasa aku bersikap tidak seperti biasanya.
"Iya, Mi. Lagian udah bosen ngantar mulu ke bandara." Mereka terkekeh mendengar ucapanku. Segera aku meninggalkan rumah dengan di jemput oleh teman kuliahku.
Lebih tepatnya teman dekat yang saat ini sedang aku coba untuk saling mengenal. Mungkin dengan begitu aku bisa melupakan perasaanku pada Gara.
"Hai, Tha." sapa pria itu yang bernama Mikael.
"Hai, makasih yah sudah mau jemput." ujarku tersenyum masuk ke dalam mobil.
Aku menoleh sejenak ke arah rumah dimana ternyata Gara sedang menatap kepergian kami. Aku tak menghiraukan tatapan adikku. Ini adalah yang ku inginkan. Seperti dulu aku memiliki hubungan dengan teman pria tanpa perduli bagaimana perasaan adikku.
__ADS_1
"Maafkan aku, Gar. Ini yang terbaik untuk kita. Semoga saja aku segera lulus kuliah dan bisa kerja. Aku berharap bisa segera keluar dari rumah ini dan menikah." ujarku dalam hati.