Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Anak Dari Bu Dewi


__ADS_3

Hari pertama pun berlalu dengan sedikit sulit dan mudah bagi Firman dan Indri. Mereka sama-sama berusaha membuat Gara tetap nyaman dan tidak sedih kala mengingat sang mami. Keputusan yang tepat kini Firman rasakan saat memasukkan sang cucu di sekolah. Setidaknya kepergian Tasha membuat si kecil Gara tidak terlalu merasa kehilangan sang mami. Waktunya habis di sekolah setengah hari bermain dengan temannya.


Pagi ini ia berangkat di antar dengan kakek dan neneknya. Ia tampak bersemangat dengan pakaian rapinya.


"Gara, nanti makannya yang banyak yah di sekolah. Perut Gara harus di isi makan yang banyak biar cepat besar dan naik kelas." tutur sang nenek membelai lembut pipi sang cucu.


"Oke, Mamah. Tapi, kalau Gara makan banyak kan nanti siang makan lagi sama uncle. Uncle jadi jemput Gara kan, Mah?" tanyanya mengingat Raga berjanji untuk terus menjemputnya setiap pulang sekolah.


Mendengar nama pria yang sangat tidak ia sukai di sebut oleh sang cucu, Firman hanya bisa menoleh sekilas pada sang istri tanpa berkata apa pun. Begitu pula dengan Indri yang menatap tak enak pada sang suami.


Apalagi ia juga belum berbicara perihal ayah dari sang cucu yang bertemu dengannya kemarin. Indri sudah banyak mendengar hal dari Raga yang belum ia sampaikan pada sang suami.


"Eh iya, Nak." jawabnya singkat.

__ADS_1


Perjalanan pun tampak hening sesaat. Hanya suara Gara yang bertepuk tangan kegirangan. Pada akhirnya mobil pun kini sudah tiba di parkiran sekolah. Mereka turun mengantar Gara sampai di depan pintu. Tampak guru sekolah menyambut Gara dengan ramah. Bocah tampan itu masuk ke sekolah seraya melambaikan tangan pada kedua orang tua yang mengantarnya.


"Pah, tunggu sebentar. Tasha nelpon." ujar Indri menghentikan sang suami yang ingin melajukan mobil.


"Mamah, Gara sudah berangkat yah?" tany aTasha melalui panggilan video call. Tampak wanita itu sedang mengunyah makanan di mulutnya. Indri bisa menebak jika Tasha tengah sarapan.


"Sha, baru aja Mamah dan Papah antar ke sekolahnya. Ini kami mau ke perusahaan papahmu. Kamu belum berangkat?" tanya Indri pada sang anak.


"Ini mau berangkat, Mah bentar lagi. Yasudah mamah dan papah hati-hati yah?"


Bu Dewi yang melihat bagaimana sikap Tasha yang sangat perhatian membuatnya tersentuh. Ia tersenyum melirik sang anak yang duduk bersama mereka saat itu. Yah, dia pria yang menjemput Tasha di bandara adalah anak Bu Dewi.


"Rafa, pagi ini kamu temani Tasha ke pabrik langsung. Ibu akan datang setelah meeting siang nanti. Kita akan sedikit banyak menghabiskan waktu di sana. Tidak apa-apa kan, Sha?" tanya Bu Dewi membuat Tasha tiba-tiba terhenti memakan sarapan.

__ADS_1


"Loh saya bukan pergi dengan asisten biasanya, Bu Dewi?" tanya Tasha kaget. Ia menoleh menatap Rafa yang meneguk segelas susu tanpa menatapnya.


"Dan saya juga sedang sibuk, Bu." sahut Rafa tak ingin menuruti perintah sang ibu.


Bu Dewi kembali tersenyum. Ia menatap bergantian Tasha dan anaknya. Rasanya begitu menggemaskan melihat mereka berdua nantinya.


"Asisten saya sedang cuti, Sha. Dan Rafa, Ibu bukan tidak memeriksa jadwal praktek kamu di rumah sakit yah? Ibu sudah memastikan semuanya kemarin dan kamu tidak bisa menolak perintah Ibu. Tasha harus kamu dampingi di sana." Tak ada yang bersuara setelah mendengar keputusan dari Bu Dewi.


Bahkan Tasha sadar siapa dirinya yang tidak mungkin seenaknya saja menolak niat baik dari Bu Dewi.


"Haduh...tahu gini mending bawa Gara dan tidak perlu tinggal di sini. Kalau di hotel kan aku bisa pergi sendiri tanpa di kawal pria ini." gumam Tasha menjerit dalam hatinya.


"Dan apa kata Bu Dewi tadi? Jam praktek? Apa itu artinya ini pria yang sebagai dokter anak dari Bu Dewi itu?" Tasha kini terbelalak kaget mendengar ucapan dari Bu Dewi saat tersadar.

__ADS_1


Ia menatap sosok Rafa yang acuh. Ada kemiripan di wajah mereka memang. Dan itu adalah satu jawaban yang pasti bisa Tasha simpulkan saat ini tanpa bertanya.


__ADS_2