
Air mata jatuh seketika dari kedua mata indah milik wanita beranak satu itu. Tasha merasakan sangat syok mendapat serangan tiba-tiba dari sang papah. Pelan ia menggelengkan kepala tak kuasa melihat amarah sang papah.
Tak puas hanya menampar, Firman sampai memegang kuat kedua pundak sang anak. Di tatapnya dalam mata milik Tasha.
"Mau bagaimana lagi kamu ingin membuat saya dan istri saya malu?" tekannya berucap pelan namun penuh amarah.
Tasha membungkam bibirnya menangis, ia menggeleng tak ada ada maksud seperti yang di tuduhkan oleh sang papah.
"Papah, Tasha tidak mau membuat Papah dan Mamah malu. Tasha tidak tahu ini semua, Pah." ujarnya berusaha membela diri.
Firman merasa benar-benar murka melihat tayangan cctv yang sengaja ia sambungkan pada ponsel dan tak sengaja ketika membawa Gara bermain, ia melihat tayangan cctv saat itu. Dimana seorang pria memasuki kamar Tasha cukup lama dan bahkan ia melihat kala sang istri masuk namun Tasha berusaha membuat sang mamah keluar cepat.
Dari arah lain Indri yang mendengar keributan baru saja berhasil mengunci pintu kamar Gara dari luar. Ia berlari mendekati sumber suara tersebut. Dengan langkah tergesah-gesah ia pun mendekat.
"Papah, apa yang papah lakukan? Tasha anak kita, Pah. Dengarkan semuanya dulu." Indri melindungi anaknya dengan memeluk tubuhnya erat. Tasha menangis di pelukan sang mamah.
__ADS_1
"Mah, sungguh Tasha tidak tahu semua ini. Dia tiba-tiba ada di kamar Tasha." ujarnya menatap penuh harap pada sang mamah.
Berharap kali ini mamahnya lah satu-satunya orang yang bisa percaya padanya. Indri yang mendengarnya tampak menghela napas kasar. Ia mengangguk sembari mengusap kepala Tasha.
"Berarti kamu mengenalnya, Tasha?" kembali Firman naik pitam.
Tasha menoleh pada sang papah dengan air mata yang sudah benar-benar membasahi wajahnya. Sumpah demi apa pun ia tidak tahu harus menjawab apa saat ini. Di sisi lain Tasha tidak ingin kedua orangtuanya tahu siapa pria yang sudah merusak masa depannya. Di sisi lain juga Tasha tak bisa lagi mengelak.
Pasrah adalah pilihan yang paling tepat, Tasha pun menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan sang papah.
"Tapi demi Tuhan, Papah. Tasha sama sekali tidak berhubungan dengan pria itu. Entah mengapa ia bisa masuk ke rumah ini." ujarnya segera menjelaskan. Tasha tak ingin jika sang papah salah paham mengira mereka masih berhubungan diam-diam.
Indri tampak mengingat pria yang beberapa waktu lalu mendatangi rumahnya dan ingin bertemu dengan Tasha. Pikirannya terasa semakin pusing hingga ia memejamkan mata sejenak.
"Dan pria itu adalah pria yang sama dengan anak rekan bisnismu?" telak Firman menanyakan hal yang tepat sekali pada Tasha.
__ADS_1
Tanpa bisa berbohong Tasha mengangguk lirih. Tangan Firman pun menggenggam sempurna. Rahangnya ia eratkan demi menahan emosi saat itu.
"Papah mau kemana?" Indri yang melihat sang suami meninggalkan mereka dengan wajah emosi membuatnya meminta Tasha untuk tenang di kamar.
"Sayang, kamu tenang dulu. Biar mamah yang bicara sama papah yah?" Tasha hanya bisa mengangguk melihat kepergian sang mamah.
Ternyata Firman kini berada di kamarnya. Pria itu duduk dengan tangan yang terus terkepal erat. Matanya memerah. Jika di hadapan Tasha ia begitu emosi, berbeda di depan sang istri saat ini. Ia justru sampai meneteskan air mata yang sangat langka itu.
Pelan Indri mendekat melangkah hingga tiba di hadapan sang suami. Pelan ia mengusap punggung tegap suaminya itu.
"Papah, kita bisa atasi ini semua. Tasha mamah yakin tidak akan memberi peluang pada pria itu. Itu sebabnya ia sampai nekat masuk ke rumah ini." ujarnya begitu penuh keyakinan. Sebab beberapa hari sebelumnya Indri sudah melihat bagaimana perubahan di diri sang anak.
Bahkan Tasha pun tidak keberatan jika ia harus berada di rumah sepanjang hari demi menghindari pria yang tak lain adalah ayah dari Gara.
"Tasha adalah anak kebanggan Ayah, Bu. Kenapa harus seperti ini semuanya? Ayah merasa sangat hancur. Masa lalu anak kita yang belum sembuh di hati ayah kini kembali menjadi masalah. Siapa kelak yang bisa menerima anak kita dengan kekurangannya?" Firman memukul-mukul kepala dengan tangannya.
__ADS_1
Kehancuran sang ayah tentu saja adalah anak wanitanya. Peri cantik yang sangat ia jaga dan begitu ia lindungi dari rahim sang istri hingga tumbuh dewasa, bagaimana mungkin ia tidak murka jika ada seseorang yang baru datang tiba-tiba menghancurkan peri kecilnya itu?