Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Sikap Dingin Raga


__ADS_3

Sepulang liburan bukannya menampakkan wajah bahagia setiba di rumah, Raga justru menekuk wajahnya kesal. Dan itu di lihat oleh kedua orangtuanya. Rima dan Dahlan nampak saling pandang melihat kedatangan Raga yang langsung menuju kamar tanpa bersuara. Pria itu masuk ke kamar merebahkan tubuhnya tanpa membersihkan diri lebih dulu. Di luar kedua orangtuanya di buat bingung dengan wajah tampan yang tertekuk itu.


"Biasalah anak muda, Bun. Sudah ayo kita ke kamar juga." Dahlan menggandeng tangan istrinya acuh pada sang anak. Baginya Raga sudah dewasa dan mampu menyelesaikan semua masalahnya seorang diri.


Malam harinya di rumah keluarga Firman, Tasha nampak murung mengingat kepulangan Raga dengan wajah di tekuk bahkan pria itu tak mengatakan apa pun saat pulang padanya. Bagi Tasha akan jauh lebih baik jika Raga banyak bertingkah dari pada diam seperti itu. Menerima undangan makan malam dengan Bu Dewi bukanlah hal yang bisa ia tolak. Terlebih ia tidak tahu apa tujuan makan malam itu.


"Sha, kok melamun? Sudah siap ayo kita pergi keburu di tunggu nanti." ajak sang mamah yang menarik tangan Tasha.


Sedankan Gara dan sang papah sudah lebih dulu di mobil saat itu. Segera dua wanita itu melangkah menuju mobil dengan Tasha yang tampil sangat cantik. Di mobil Gara begitu antusias untuk pergi. Minggu ini bocah tampan itu benar-benar menikmati harinya yang sibuk. Tak seperti biasa ia akan menghabiskan waktu untuk kerja dan di rumah saja sepanjang hari.


"Papah, Kak Tasha cantik sekali. Pasti jadi rebutan dua uncle itu deh." celetuknya memuji sang mami yang baru saja masuk ke dalam mobil.


"Gara," tegur Tasha yang kurang suka dengan ucapan sang anak. Terlebih di situ ada sang papah.


Mobil pun melaju menuju sebuah restauran yang sudah di pesan oleh Bu Dewi sebelumnya. Kedatangan Tasha serta keluarganya sudah di sambut hangat oleh wanita paruh baya itu serta Rafa yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Mereka semua duduk dengan tenang kecuali Tasha yang gelisah.


"Sha, aku nggak main-main yah? Kalau sampai aku dengan kamu terima lamaran dokter cabul itu, saat itu juga kamu aku kawinin." kata-kata terakhir dari Raga sebelum mereka tiba di rumah membuat Tasha kesal.


Memangnya dia binatang yang hanya main kawin saja? Baiklah jika di masa lalu mereka melakukan hal itu. Tapi untuk sekarang Tasha tidak akan mau itu terjadi.


Beberapa waktu berjalan mereka semua saling bercerita sembari menikmati makan malamnya. "Tasha, kenapa diam saja? Kapan ke Singapura? Saya harap kamu datang untuk mengecek semua kualitas baju yang sudah saya tetapkan. Barangkali ada revisi dari kamu lagi. Ingat...itu juga tanggng jawab kamu loh di kontrak." ujar Bu Dewi tersenyum yang di balas senyuman juga oleh Tasha.


"Nanti akan saya pikirkan waktunya, Bu. Sebab Gara sudah cukup lama libur sekolahnya." jawab Tasha yang tersenyum dan tanpa sengaja matanya melirik ke arah lain di mana sosok pria dengan hodie berwarna hitam memperhatikan mereka semua.


Pria itu rela berubah penampilan demi memastikan jika ia tak menerima lamaran dari Rafa. Sampai detik akhir pun Tasha sama sekali tak mendengar Bu Dewi mengutarakan niat untuk melamarnya.


"Huh, ini pasti aku mikir kesana gara-gara Raga saja. Bu Dewi mana mungkin mau melamar aku, kok aku kesannya percaya diri banget yah?" Tasha nampak membatin malu membayangkan ia sudah menduga malam ini akan mendapat lamaran dari wanita baik di depannya saat ini.


Bahkan sejak sore Tasha setengah mati berpikir untuk menata kata yang tepat menolak lamaran dari Bu Dewi yang baik agar wanita itu tidak tersinggung padanya.

__ADS_1


"Bu Dewi, terimakasih banyak undangan makan malamnya. Lain kali kami juga akan mengundang makan malam untuk Bu Dewi dan juga Dokter Rafa. Kalau begitu kami pamit pulang dulu. Gara sudah sangat mengantuk sebab kelelahan siang tadi." Firman mengakhiri pertemuan mereka malam itu dengan pamit terlebih dahulu.


Bahkan Tasha yang kikuk melihat Raga kaget saat mendapat pelukan hangat dari Bu Dewi. Yah pelukan itu ia dapatkan dari wanita paruh baya yang baik. Namun, wajah kesal Raga melihat itu sudah seperti Tasha yang di peluk oleh Rafa. Ia tak suka jika Tasha dekat dengan Rafa mau pun orangtuanya. Tasha hanya boleh dekat dengannya dan keluarganya.


Singkat cerita pagi pun kembali datang. Dimana waktunya Gara akan sekolah dan kembali ke rutinitas biasa. Raga datang menjemput mereka dengan Tasha dan Raga yang sudah siap untuk berangkat. Raga memeluk sang anak dan membawanya ke dalam mobil. Tasha menyusul masuk ke dalam mobil.


Selama perjalanan Raga hanya diam saja, Gara pun juga tampak enggan bicara sebab ia masih merasa lelah di tubuhnya terlalu lama di perjalanan kemarin.


"Mereka tidak ada melamarku kok." sahut Tasha yang tiba-tiba bersuara.


Entah mengapa ia ingin mengatakan hal itu pada Raga tanpa di tanya oleh pria itu. Di liriknya kecil Raga yang masih sibuk menyetir.


"Kalau sampai melamar? Kamu terima?" tanya Raga pada akhirnya.


Sikap yang sangat jauh berbeda dari biasanya. Dan Tasha merasa asing jika Raga seperti ini padanya. Seandainya pun Tasha tak seperti ini mungkin Raga juga tak akan berani bersikap dingin padanya. Jauh di dalam hati yang terdalam, Raga sangat takut jika Tasha meninggalkannya dan memilih dengan pria lain. Bukan hanya karena alasan Gara. Sebab Raga memang sudah mencintai Tasha begitu dalam. Ia memiliki impian untuk segera bersama Tasha dan memiliki anak lagi untuk jadi adik Gara.

__ADS_1


__ADS_2