
Pagi harinya wajah tampan dari bocah mungil bermata hitam cerah itu mengerjap beberapa kali, wajahnya menoleh ke sekitar dimana ia merasa ada yang aneh. Masih duduk tak bergeming, Gara terus berpikir semakin dalam hingga perilaku itu terlihat oleh Tasha yang membuka pintu kamarnya. Terlihat wanita itu sudah rapi dengan penampilannya sehabis mandi. Ia datang berniat untuk membangunkan sang anak sebab hari ini Gara libur sekolah.
"Sayang, ada apa Gara bermimpi?" tanyanya duduk di samping Gara dan membawa kepala bocah itu ke dalam pelukannya. Gara terlihat menganggukkan kepala. Mungkin memang ia bermimpi jika bertemu dengan sang papi semalam saat tertidur dan di peluknya begitu hangat.
"Papi belum juga pulang yah, mami? Semalam Gara mimpi tidur di peluk papi." tuturnya dengan polos.
Tasha yang mendengarnya pun sontak menjatuhkan air mata tiba-tiba tak tahan mendengar ucapan sang anak. Ia mengusap dengan kasar air mata yang jatuh begitu lancan itu. Lalu tersenyum melepasan pelukan. Gara yang masih kecil bahkan sampai segitu sedihnya melihat perubahan Raga yang saat ini. Entah apa keputusan menikah dengan Raga adalah keputusan yang salah untuk Tasha ambil? Tiba-tiba saja pikiran wanita itu kacau saat ini.
__ADS_1
"Mami mengapa menangis? Apa papi jahat pada mami?" tanyanya yang membuat Tasha gelagapan.
"Gara, mengapa bicara seperti itu? Tidak boleh bicara begitu. Papi kan sayang sama kita. Tidak mungkin Papi jahat." ucapnya berusaha terlihat baik-baik saja di depan sang anak.
Meski pada akhirnya hati tentu tidak bisa berbohong. Berbagai pertanyaan timbul di pikiran Tasha. Apa Raga datang untuk menikahinya hanya sebagai bentuk tanggung jawab status saja. Apa kedatangan Raga ada niat yang terselubung sebenarnya tapi apa? Sungguh Tasha sulit sekali mengendalikan dirinya saat ini yang benar-benar kacau sekali.
Hingga keduanya di kejutkan dengan kedatangan Indri yang pagi itu tampak rapi. Hari ini adalah hari sabtu dimana sang suami libur kerja. Sebenarnya Raga pun juga seharusnya sudah libur atau pulang di siang hari seperti sebelumnya. Namun, Tasha tak ingin banyak berharap mengingat sang suami yang saat ini begitu berubah tanpa bisa ia duga.
__ADS_1
"Gara sudah bangun? Mandi yuk. Temani mamah dan papah jalan-jalan ke mall. Mau?" sontak segera mungkin bocah itu menganggukkan kepalanya antusias.
"Hore...hari ini Gara jalan-jalan. Mau Mamah." teriaknya seketika lupa dengan permasalahannya.
Indri menatap Tasha penuh pengertian. "Selesaikan hari ini, jangan menundanya. Gara biar sama mamah dan papah." ujar wanita paruh baya itu begitu mengerti.
Bahkan Tasha merasa malu dengan sang mamah sebab prahara rumah tangganya di ketahui sang mamah. Bukan tanpa alasan Indri bergerak cepat, wanita itu sudah berdebat dengan sang suami beberapa hari belakangan. Dengan Firman yang menyalahkan sang istri menyetujui pernikahan Raga dan Tasha. Namun, sekali lagi wanita adalah pemenang di atas segalanya. Indri meminta sang suami bungkam tidak ikut campur apa pun pada pernikahan Raga dan Tasha jika tidak maka mereka akan pisah kamar.
__ADS_1