
Suara ramai pengunjung wisatawan di pantai sore itu membuat Tasha berulang kali mengalihkan pandangan sang anak. Ia sampai di buat kewalahan dengan apa yang Gara tanyakan. Sepertinya niat untuk membawa sang anak santai di pantai sore ini kesalahan terbesar. Sebab rasa ingin tahu Gara membuat bocah itu antusias bertanya setiap orang yang ia lewati.
“Mami, kenapa tante itu tidak pakai baju sih? Lihat dia jalan tanpa tahu malu.” tunjuk tangan mungil Gara pada wanita bule yang berjalan santai mengenakan topi sembari menggenggam sandalnya.
“Gara, Mami bilang apa? Lihat ke depan jangan nengok kiri kanan. Kita pulang ke villa sekarang yah? Ayo,”
“Tidak mau. Aku belum mau pulang, Mi. Mau main pasir dulu…” rengek bocah tampan itu.
Sebab Gara tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya bermain. Jarang sekali ia di bawa berlibur ke tempat seru seperti ini. Bahkan banyak juga anak kecil yang berlarian kesana kemari.
Sayang, Tasha sudah kekeuh ingin tetap pulang membawa sang anak istirahat. Sepanjang jalan keduanya terus berdebat mulut hingga akhirnya terhenti kala nama Tasha di panggil seseorang.
__ADS_1
“Tasha?” Suara yang berasal tidak jauh sontak membuat wanita satu anak itu menoleh.
“Loh Bu Dewi?” Tasha pun kaget.
Hingga tangannya akhirnya bergerak menepuk jidat. Sepertinya ada yang terlewat dari ingatannya saat ini.
“Bu Dewi di Bali karena acara fashion show itu yah?” Tasha langsung bertanya pada intinya. Dan anggukan sebagai jawaban Bu Dewi berikan pada Tasha.
“It’s okey. Bukan masalah yang terpenting saat ini kita ketemu di sini dan bisa hadir untuk acara besok malm kan?” Tasha mengangguk tersenyum.
Keduanya pun memilih tempat duduk yang tidak begitu ramai. Gara yang senang berkat kehadiran Bu Dewi tentu sangat senang. Ia duduk menikmati es kelapa muda sembari memainkan ponsel sang mami. Beberapa kali bocah tampan itu tampak mengabadikan momentnya bersama Tasha dan juga Bu Dewi.
__ADS_1
Tak hanya sampai di situ. Ia bahkan memposting pada akun sosial media Tasha.
“Jadi itu alasan kamu pergi hanya dengan Gara?” Bu Dewi yang tahu dengan raut sedih Tasha membuat Tasha tak bisa menutupi apa pun lagi. Ia menceritakan masalahnya dengan Bu Dewi yang Tasha anggap seperti ibunya sendiri.
Terlihat Bu Dewi menghela napas kasar. Memang tak mudah setiap wanita yang mengandaikan di posisi Tasha.
“Ini memang ujian dalam pernikahan kamu, Sha. Karena sejak menikah pun kamu sudah tahu bukan masa lalu suamimu? Jadi, kedepannya semua tak menjadi masalah di pernikahan kalian. Maka dari itu Tuhan memberikan ujian yang lebih sakit lagi untukmu. Itu semua untuk melihat seberapa kuat kalian ingin berkomitment tetap bersama. Jika memang masih sanggup, pertahankan. Pernikahan yang kalian bangun bukan hanya berisi sumpah setia sehidup semati di depan Tuhan. Tapi, siap menerima kurang dan lebihnya pasangan masing-masing. Dan inilah kurangnya suamimu. Ketika ada hal yang harus ia perlihatkan lagi padamu hasil masa lalunya. Apakah kamu masih sanggup menerima seburuk-buruknya kekurangan suamimu kali ini?” Mendengar ucapan Bu Dewi panjang lebar tak terasa air mata Tasha menetes.
Sedangkan di sisi lain ada seseorang yang tengah kebakaran jenggot melihat ponselnya yang menampilkan bocah tampan tersenyum dengan di sekitarnya ada dua wanita berbeda usia.
“Apa itu artinya Tasha juga bertemu dengan dokter cabul itu?” Raga tampak menyugar rambutnya kasar.
__ADS_1
Frustasi dengan semua yang terjadi. Belum lagi ia harus membayangkan sang istri kembali bertemu dengan dokter Rafan dan sang ibu. Bisa di pastikan jika Bu Dewi kembali ingin menjodohkan Tasha dengan anaknya.