Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Batal Pindahan


__ADS_3

Sejak hari pernikahan berlangsung ada saja hal yang membuat Gara marah akan kelakuan sang papi. Dan tepat tiga bulan kini akhirnya Tasha dan Raga sudah mantap untuk pindah. Di depan pintu utama barang-barang satu persatu mulai di bantu para pelayan untuk mengeluarkan. Indri dan Firman berdiri seolah sangat sedih melihat semua barang anak dan cucu mereka keluar dari rumah keduanya. Rasanya di usia seperti ini yang senja membuat mereka berat melepaskan cucu satu-satunya yang sudah memanggil mereka papah dan mamah. Sayang, pernikahan Tasha tidak bisa jika di bawah kendali mereka terus.


"Sebentar yah, Gara. Papi terima telepon dulu." ujar Raga menurunkan sang anak dari gendongan.


Pria itu tampak melangkah sedikit menjauh tak enak jika berdekatan dengan kedua mertuanya. Sementara Gara berjalan menuju mamah dan papahnya. Ia berbicara sangat antusias ketika Firman bertanya tentang rumah baru yang mereka baru lihat kemarin.


Hingga suara lembut Tasha terdengar mendekat dari arah dalam rumah. Wanita itu berjala dnegan santai membawa tas miliknya.


"Papi mana, Sayang?" tanya Tasha menata sang anak yang tertawa bersama mamah atau neneknya. Raga pun berjalan dengan wajah pucat tiba-tiba mendekati Tasha.

__ADS_1


Niatnya hari ini ia libur kerja untuk membantu sang istri mengawasi para asisten rumah tangga menata barang di rumah baru mereka yang ia persiapkan lengkap dengan semua keinginan desain dari sang istri.


"Ada apa, Ga?" tanya Tasha heran melihat sang suami nampak berbeda ketika melangkah ke arahnya.


Indri dan Firman yang semula asik dengan Gara pun ikut sadar dengan perubahan raut wajah Raga. Hingga tenggorokan Raga rasanya tercekat sulit untuk berbicara saat ini. Melihat bagaimana antusias sang anak yang ingin segera pindah ke rumah baru membuatnya sangat tidak tega sebenarnya membatalkan kegiatan sibuk mereka hari ini. Bahkan Gara sampai menulis surat izin sendiri untuk ia berikan pada guru dengan mengatakan ingin ikut pindahan dengan papi dan maminya.


Itulah surat yang di tulis bocah kecil itu sebelum ia pulang sekolah kemarin. Dan Raga tadi pagi pun kembali menghubungi sekolah Gara untuk meminta izin. Sebab rasanya tak pantas jika hanya mengandalkan surat dari sang anak saja yang nyata isinya tidak pantas untuk di sebut surat izin.


"Em, Gara, Tasha, boleh kan kalian hari ini jalan-jalan dulu dengan supir? Aku mendadak ada masalah di kantor dan harus segera aku tangani sekarang juga." ujar pria itu sedikit merasa tak enak. Apa lagi melihat tatapan penuh tanya dari sang ayah mertua.

__ADS_1


Dimana Firman yang masih banyak rasa tak percaya pada Raga terus berusaha keras demi sang anak, cucu, dan sang istri yang memintanya untuk membuka hati.


Tasha mendekat. Ia menggenggam tangan sang suami dan tersenyum. "Iya nggak apa-apa loh. Jangan memaksakan seperti itu. Aku bisa melakukan banyak hal dengan Gara, bahkan jika kau meminta kami ke rumah berdua lebih dulu juga tidak masalah kok." sahut Tasha penuh pengertian.


Dilihatnya Raga menghela napas lega saat itu.


"Terimakasih, Sha. Aku harus segera pergi sekarang juga." Di kecupnya kening Tasha dengan lama lalu mencim pipi kanan kiri sang anak.


"Dada papi..." seru Gara melambaikan tangan pada Tasha.

__ADS_1


__ADS_2