
Sejak kepulangan mereka dari perusahaan dan pabrik, Raga benar-benar tak mengeluarkan sepatah kata pun. Gara yang terlelap sepanjang jalan menambah kesunyian mereka di dalam mobil. Tasha bingun harus melakukan apa. Sampai akhirnya mereka pun benar-benar pulang tanpa berjalan-jalan lebih dulu. Saat mobil berhenti pun Raga langsung menggendong sang anak menuju kamarnya. Sikapnya yang begitu sulit di kendalikan ketika cemburu membuat Raga bingung sendiri. Ingin terlihat santai di depan Tasha nyatanya ia tak bisa. Bayangan momen melamar tadi terus menghantui pikirannya.
“Biarkan Gara bangun. Tidak usah di selimuti. Ini sudah sore waktunya dia mandi.” ujar Tasha menghentikan pergerakan tangan Raga yang menarik selimut ingin menutupi tubuh sang anak.
Selepas memastikan sang anak nyaman, Raga pun menuju kamarnya. Ia menghubungi kedua orang tua untuk memastikan jika semua sudah siap saat ia pulang nanti.
“Mau tidak mau kau harus mau, Sha. Aku tidak perduli pernikahan kita harus segera di laksanakan.” ujar Raga dalam hati.
Selama ini ia begitu sibuk mengejar cinta sang mantan sampai lupa memberikan hukuman pada teman yang sudah membuat hubungannya berantakan.
Wanita yang menyebar video Tasha di masa lalu kini sudah meninggalkan Indonesia untuk memulai hidup baru. Seperti yang ia kirimkan pesan pada Raga.
“Ga, aku minta maaf. Dan sampaikan maafku ini pada Tasha juga. Aku bersalah telah menyebar video itu karena dulu aku cinta buta denganmu. Sekarang aku akan meninggalkan Indonesia dan memulai hidup baru dengan pria yang ku pilih. Sekali lagi maafkan aku.” Pesan yang tulus di dapatkan dari sang teman, namun Raga sama sekali tak berniat untuk membalas.
Ada hal yang lebih penting saat ini bagi Raga. Yaitu memastikan keberadaannya dan Tasha tak akan lama di Singapura.
“Kakak, kenapa kita sudah pulang? Uncle mana?” Gara yang terbangun nampak kaget melihat dirinya sudah di kamar lagi saat ini.
__ADS_1
Di luar lampu kota mulai begitu nampak indah. Pertanda malam akan segera tiba. Langit sudah mulai nampak gelap.
“Yah pulang, Gar. Papi kamu kan lagi jadi bayi tukang ngambek. Nggak tau sebabnya apa.” gerutu Tasha pelan membuat Gara bertanya.
“Kakak bilang apa? Gara tidak dengar.” sahutnya yang hanya di jawab gelengan kepala oleh Tasha.
“Ayo mandi. Sudah hampir malam. Sebentar kita akan jalan-jalan.” ajak Tasha di mana Gara langsung bersemangat.
Keduanya mandi bergantian, sementara Raga dengan cepatnya sudah rapi kembali. Wajahnya tak pernah terlihat kusam di mata Tasha. Entah sabun apa yang di pakai Raga sampai membuat pria itu begitu tampan.
Saat keduanya tengah tertawa bermain di kamar usai bersiap-siap, tiba-tiba kedatangan Raga pun menghentikan tawa Tasha.
“Uncle, ayo kita sudah siap. Kakak juga sudah sangat cantik.” puji Gara begitu pandai mengambil hati Raga dan Tasha demi berjalan-jalan malam itu.
“Ayo, Boy. Kita akan jalan sekarang.” ajak Raga yang di sambut antusias dengan Gara.
Sedangkan di tempat yang berbeda, Rafa mengomel sepanjang jalan pulang ke rumah bersama sang ibu. Sudah harus mencari ganti dokter lain di rumah sakit, ia juga harus menahan malu di depan banyak orang.
__ADS_1
“Bu, ini benar-benar nggak lucu. Sumpah wajahku malu, Bu. Pokoknya aku tidak akan mau menginjak perusahaan Alva lagi selama ibu tidak mengganti semua karyawan di perusahaan itu. Wajahku sudah seperti tembok tebalnya.” Bu Dewi ingin tertawa sekali gus sedih juga melihat sang anak.
Membayangkan semua moment romantis yang ia persiapkan pada sang anak untuk Tasha benar-benar mempermalukan Rafa di depan karyawan. Inilah definisi harapan tidak sesuai dengan kenyataan.
“Maafkan ibu, Fa. Ibu juga tidak tahu kalau seperti ini jadinya. Lagian kan laki-laki itu juga bukan kekasihnya Tasha.”
“Ibu tahu dari mana kalau dia bukan kekasihnya Tasha?” tanya Rafa jengah dengan sikap sang ibu yang tergila-gila pada Tasha.
Meski tak bisa mengelak Rafa pun mengakui jika Tasha wanita baik dan cantik. Cerdas adalah nilai yang paling tinggi di mata Rafa.
“Kan waktu itu Tasha bilang tidak memiliki kekasih, Rafa. Ibu jangan di salahkan terus dong.” Rafa memutar matanya malas mendengar ucapan sang ibu.
Waktu itu. Adalah waktu yang sudah sangat lama. Dalam sehari saja sudah bisa merubah semua nasib orang seperti Tasha di masa lalu. Hanya dalam beberapa menit masa depannya berubah menjadi hancur.
“Ibu, itu sudah sangat lama. Bisa saja kan Tasha dan pria itu sudah berhubungan kemarin, lusa, atau minggu lalu. Sudah mulai sekarang ibu jangan jodoh-jodohkan aku lagi. Kalau tidak, aku akan menikah dengan nenek-nenek di rumah sakit sekalian.” ancam Rafa yang sontak membuat Dewi terdiam.
Ya kali dia mau mendapatkan menantu seorang nenek-nenek. Apa kata karyawan nanti, gagal move on dari Tasha justru dapat nenek-nenek.
__ADS_1