
Malam itu keduanya pun cukup lama berdiskusi di dalam kamar, Indri memang wanita yang sangat baik dan berhati lembut. Meski amarah Firman tengah memuncak, ia begitu pandai meredam amarah sang suami dengan terus mendengarkan ceritanya dan memberikan masukan-masukan yang memang sangat baik. Hingga pada akhirnya mereka pun bergegas mandi untuk segera makan malam.
Sedangkan Tasha yang berada di kamarnya tertidur dengan mata yang sembab sebab tak bisa berhenti menangis hingga tertidur. Pelan kedua alisnya bergerak kala merasakan sentuhan lembut di kedua pipi bawah matanya. Ia pun membuka mata dan melihat wajah tampan Gara yang dengan bibir terbuka reflek akibat memperhatikan tanganya yang mengusap air mata di wajah sang mami.
"Gara, kamu lucu sekali sih? Lihat masa lagi bersihin wajah mami tapi malah kamu yang ngeces?" Tasha yang masih merasa sedih tiba-tiba terkekeh melihat anaknya yang begitu menggemaskan.
Gara pun mencium kening Tasha. "Kakak kenapa nangis? Maaf yah pasti karena Gara tinggal bersama Mamah dan Papah. Gara janji tidak akan tinggalkan Kakak lagi." tutur bocah itu dengan polosnya.
Mendengar ucapan sang anak Tasha pun hanya bisa menganggukkan kepala mengiyakan meski sebenarnya bukan itulah sebab ia menangis. Tasha meminta Gara mendekat dan mendekapnya erat.
"Mami kangen banget sama Gara. Gara janji kan nggak akan tinggalin Mami lagi?" ujar Tasha seraya menghirup aroma bayi di tubuh sang anak.
Rupanya Gara baru saja mandi sore dengan tubuh yang masih saja di lumuri aroma therapi khusus bayi membuatnya sangat di sukai sang mami.
__ADS_1
"Gara janji. Sekarang Kakak mandi dan kita makan bersama." ajaknya.
Tasha tak kuasa untuk menolak. Segera ia pun bergegas mandi di tunggu sang anak di atas kasur. Gara berbaring di tempat tidur sang mami dengan pandangan yang menatap lurus ke atas langit kamar itu. Wajahnya tampak murung dan itu Tasha bisa lihat dengan jelas.
"Anak kecil ini kok sudah pinter melamun sih? hem melamunin apa?" Tasha yang sudah memakai pakaian tiba-tiba saja menghempas tubuhnya di samping sang anak. Gara bergerak memeluk tubuh sang mami dengan memperlakukannya seperti guling.
"Gara kapan yah bisa kerja lagi di luar seperti kemarin, Kak? Gara bosen." ujarnya sedih.
Tasha pun juga ikut sedih ia merasa bersalah telah membuat dunia anaknya jadi terbatas. Seharusnya Gara masih bisa aktif berada di luar rumah saat ini. Namun semenjak kehadiran Raga justru semua aktifitas Gara menjadi di rumah semuanya.
"Maafkan Mami sayang. Mami janji secepatnya Gara akan bisa keluar lagi. Bekerja dan sekolah. Okey? Sekarang Gara jangan murung lagi yah?"
Kini di meja makan Tasha yang baru datang bersama sang anak melangkah ragu kala melihat sang papah dan mamah sudah duduk di kursi tempat mereka biasa makan. Indri yang sadar akan kehadiran sang anak segera memanggilnya.
__ADS_1
"Sha, ayo bawa Gara makan. Ini sudah sangat telat makan malamnya. Nanti kalian sakit lagi." tuturnya meminta Tasha bergabung.
Sementara Firman sama sekali tak ada bersuara saat itu. Ia hanya makan tanpa bicara apa pun. Tak ada yang sadar jika diam-diam Gara beberapa kali mencuri pandang pada sang kakek. Ia menyipitkan mata mengintip wajah Firman yang begitu menakutkan menurutnya.
"Sayang, kenapa tidak di makan?" Tasha mengejutkan Gara hingga bocah itu terjingkat dari duduknya.
Tak sadar jika sedari tadi Gara hanya mengaduk makanan di piring saja. "Maafkan Gara, Kak. Gara sudah kenyang." jawabnya apa adanya.
"Makan harus yang banyak. Besok Papah akan antar Gara ke sekolah untuk mendaftar." tutur pria paruh baya itu tiba-tiba membuat semuanya kaget.
Mendengar itu tentu saja Gara sangat kaget dan senang sekali gus. Wajah murungnya tiba-tiba menjadi cerah.
"Gara akan sekolah, Pah?" Gara bertanya dengan penasaran. Firman hanya menjawab dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Sha, Gara mulai besok biar sekolah yang main-main saja dulu tidak apa-apa. Yang penting dia sudah bersosialisasi dengan teman sebayanya. Mamah rasa itu sangat menyenangkan untuk Gara." Indri kini angkat suara.
Sebab memang semua ini adalah usul darinya pada sang suami. Bagaimana pun Gara adalah anak yang masih butuh keputusan tepat dalam masa pertumbuhannya. Jangan sampai semua masalah Tasha berimbas pada pertumbuhan Gara yang terhambat. Dan Firman pun setuju dengan usulan sang istri namun ada syaratnya. Gara akan di jaga ketat di luar sekolah agar tidak ada yang bisa menemuinya kecuali guru di sekolah itu.