
Malam ketika langit di luar sudah gelap barulah aku terbangun dari tidurku.
“Akhirnya bangun juga. Mau makan malam nggak sekalian?” Sahabatku kini berdiri di depanku dengan penampilan sudah mandi dan bersih.
Aku baru sadar jika saat ini aku tidak di kamarku sendiri. Segera aku bangun dan pamit untuk pulang. Mami dan Papi pasti mencemaskan aku saat ini. Selama perjalanan perasaannku begitu tak nyaman. Di rumah aku akan bertemu dengan Gara. Bagaimana bisa aku harus bertatap mata dengan pria yang baru saja menyatakan perasaannya padaku siang tadi?
“Nggak. Aku nggak boleh nanggapin Gara. Aku adalah kakaknya. Aku harus bisa mengarahkan adikku ke jalan yang baik.” Sepanjang jalan terus saja pikiranku berbicara dalam hati. Hingga tak terasa aku sudah tiba di halaman rumah megah dimana aku di besarkan dari kecil.
Kasih sayang dan ketulusan mereka tentu tak bisa ku balas semua. Aku hanya anak yang hidup atas belas kasih Papi dan Mami yang menerimaku.
“Agatha, dari mana saja?” Mami yang melihatku memasuki rumah segera menyapa dengan pertanyaan.
Ku tolehkan wajahku ke arah meja makan. Disana dua pria berbeda usia sedang menatapku. Namun, Papi sudah memalingkan pandangan ke makanan di piringnya. Sedangkan Gara ia terus saja menatapku dalam.
__ADS_1
Aku tidak tahu apa yang Gara pikirkan saat ini.
“Dari rumah Sisil, Mi. Kebetulan ada tugas kelompok.” Aku terpaksa berbohong demi mendapat toleransi Mami. Siang tadi aku sudah melewatkan janjian kami untuk makan bersama.
“Lain kali kalau ada apa-apa beri kabar. Jangan membuat orangtua khawatir.” Aku menatap Papi yang berucap dingin.
Aku sadar mungkin Papi marah karena aku Mami begitu khawatir hari ini. Segera aku menganggukkan kepala patuh.
“Iya, Pi. Maafkan Agatha.” sahutku menunduk.
Ini lebih baik, aku akan mandi sedikit lama dan setidaknya Gara akan pergi dari meja itu. Entah mengapa semua ucapan yang ku susun di perjalanan tadi lenyap seketika.
Pikiranku hilang kosong entah kemana melihat tatapan Gara yang menyiratkan banyak makna.
__ADS_1
Jika sebelumnya aku berpikir semua baik-baik saja dan Gara akan pergi dari meja makan, ternyata salah. Yang ada meja makan kosong tak ada Mami dan Papi justru hanya tinggal Gara seorang yang duduk diam di sana.
Langkahku terhenti. Ingin kembali ke kamar tapi aku tahu jika suara kakiku sudah terdengar olehnya.
“Makanlah. Aku tidak akan mengganggu.” Ucapan itu sontak membuat aku menoleh lagi menatapnya. Ragu aku melangkah menuju meja makan.
Semua makanan yang ku makan terasa hambar dan keras rasanya. Bagaimana mungkin aku bisa makan dengan nyaman sedangkan di depanku ada sepasang mata yang terus saja menatapku jeli.
“Jangan melebihi batasmu, Gara.” Aku memperingati. Aku adalah kakak yang harus ia hormati.
Namun, semua kekuatan yang ku kumpulkan dengan berani lenyap seketika kala genggaman erat di sebelah tangan ku rasakan saat ini.
“Tidak ada yang bisa sanggup menahan perasaannya. Bantu aku menghilangkan ini semua, Agatha. Aku terlalu besar mengagumi mu.” Mataku menatapnya. Dadaku terasa bergemuruh. Ada hawa hangat yang menjalar dari kedua tangan kami yang bersentuhan saat ini.
__ADS_1
Aku tidak ingin ini semua terjadi. Ini tidak benar. Ini sangat salah.
“Agatha…” Tiba-tiba saja suara panggilan dari arah lain membuat aku secepat mungkin menarik kuat tanganku.