Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Batal Melamar


__ADS_3

Keesokan harinya sesuai dengan janji yang di buat, kini Tasha menuju kantor Alva. Dimana Bu Dewi sudah menunggunya dengan antusias. Wanita paruh baya itu tengah mempersiapkan semuanya dengan baik.


“Sha, dimana?” Suara Bu Dewi terdengar di seberang telepon kala Tasha mengangkat panggilannya saat di mobil.


Sebelum menjawab, Tasha menoleh pada pria di sampingnya yang sudah menatap dengan intens. Ingat akan janjinya untuk bersama, Tasha bingung harus bersikap seperti apa dengan Bu Dewi. Bukan hanya kedekatannya dengan Rafa saja yang di batasi, namun Raga benar-benar meminta Tasha untuk menjaga jarak dengan siapa pun keluarga Rafa.


“Em ini sudah di jalan, Bu Dewi. Sebentar lagi akan sampai kok.” sahut Tasha menampilkan senyum kakunya.


“Yasudah hati-hati yah?” ujar Bu Dewi mematikan sambungan telepon.


Ketika panggilan berakhir, wanita itu segera mendekat pada seluruh karyawan yang mengumpul di depannya. Mereka sudah antusias untuk menyambut orang yang spesial di perusahaan tersebut. Seragam putih telah serentak mereka kenakan atas perintah Bu Dewi pula.


“Pastikan semua lengkap yah? Ini Rafa mana kok belum datang sih?” Bu Dewi tampak mencari kesana kemari hingga akhirnya pria itu datang dari arah belakang.


“Ada apa, Bu? Saya di sini.” ujarnya melangkah dengan gagah, ketampanannya seolah menyihir banyak pekerja wanita di perusahaan sang ibu dengan jas putih kebanggaannya.


Melihat penampilan formal sang anak, lantas Bu Depi menepuk kasar keningnya. “Aduh Rafa, kenapa pakai baju kerja sih? Lepas! Ibu juga tahu kok kalau kamu dokter. Jangan selalu di pakai. Ini acara spesial.” titah Bu Dewi geram melihat sikap sang anak.

__ADS_1


Pasalnya Rafa pun tidak tahu apa-apa dengan rencana sang ibu. Ia hanya di panggil tanpa di berikan penjelasan. Hanya Bu Dewi dan juga para karyawan yang tahu ada apa di hari ini.


“Kamu berdiri di sini dan jangan kemana-mana. Mengerti?” Rafa pun mengangguk dengan wajah bingungnya. Semua karyawan terkekeh gemas melihat sikap Bu Dewi yang memperlakukan Rafa layaknya bocah.


“Buruan yah, Bu. Pasienku sebentar lagi datang.” ujar Rafa yang tak di gubris oleh sang ibu.


Sepersekian menit akhirnya Bu Dewi melihat mobil yang berhenti di depan loby. Senyumnya mengembang saat memantau dari arah lain. Dimana ia melihat Tasha turun. Wanita paruh baya itu langsung memberikan kode pada para karyawan dan terkejutlah semuanya.


Sebuah ungkapan ‘will you marry me?’ Terpampang di belakang tubuh Rafa dimana semua karyawan memperlihatkan bunga yang menunjuk ke arah Rafa dari arah Tasha berdiri. Tak lupa salah satu dari mereka juga memberikan buket bunga pada Rafa tanpa Rafa ketahui untuk apa itu.


Semua syok bukan karena kejutan itu, melainkan syok melihat Tasha yang datang dengan seorang pria tampan di sebelahnya serta anak kecil yang bagi mereka tak lagi asing. Ketiganya benar-benar sangat serasi.


“Wah ini romantis sekali, Kak.” suara kecil Gara membuyarkan lamunan Tasha dan Raga bersamaan.


“Apa-apaan ini, Tasha?” tanya Raga yang naik pitam melihat betapa romantisnya pemandangan di depannya. Kecemburuan berlipat-lipat menguasai dirinya kala mengingat momen semalam tak sebanding dengan ini semua.


Tasha menggeleng pelan sebagai jawaban ia sendiri tidak tahu. “A-aku nggak tahu, Ga.” jawabnya apa adanya.

__ADS_1


“Astaga kenapa ada pria pengganggu itu sih?” Bu Dewi menepuk kepalanya kesal melihat kemunculan Raga yang tidak ia sangka.


Sudah di pastikan Rafa begitu malu saat ini. “Ibu, apa ini?” tanya Rafa dengan suara lantangnya.


Untuk pertama kali ia berbicara seperti itu pada sang ibu, namun bukan bentakan. Rafa tentu tahu posisinya sebagai anak dimana keadaan saat ini begitu ramai.


“Em Tasha…ibu kira kamu datang hanya dengan Gara. Dan untuk yang lain kalian boleh bubar. Sekarang!” pintah Bu Dewi yang menatap semua pekerjanya.


Sebelum suasana semakin membuat Rafa malu, sebaiknya ia membubarkan semuanya.


“Saya datang juga untuk menemani calon istri saya, Nyonya Dewi.” sahut Raga dengan mantap menyebut kata calon istri. Ia bahkan menatap Rafa dengan tajam. Beruntung dirinya kekeuh untuk ikut ke Singapur. Kalau tidak, bisa di bayangkan Tasha akan terpaksa menerima lamaran itu demi membuat Rafa dan Bu Dewi tidak malu di hadapan banyak orang. Sungguh memuakkan jika Raga membayangkan hal itu.


Bu Dewi menghilangkan senyum dengan kecewa mendengar ucapan Raga. Tasha pun menyenggol lengan Raga pelan sebagai peringatan untuk tidak mengatakan apa pun pada Bu Dewi.


“Em maaf, Bu. Jika saya salah bersikap hari ini. Bahkan merusak acara…”


“Oh tidak. Tidak sama sekali, Sha. Tadi itu hanya latihan untuk Rafa melamar kekasihnya. Kebetulan kalian datang yasudah latihannya nanti lagi di lanjutkan. Ayo kita ke ruangan atas langsung saja.” Bu Dewi meninggalkan Rafa yang berdiam diri tanpa berkata apa pun.

__ADS_1


Beruntung moment tadi sama sekali tak menunjukkan pada siapa lamaran itu di tujukan, tidak ada nama Tasha di sebutkan.


Namun, Raga sangat paham untuk apa hal itu di lakukan. Tasha satu-satunya wanita yang begitu di inginkan oleh Bu Dewi. Raga tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


__ADS_2