Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Ketakutan Raga


__ADS_3

Sejak berada di sekolah Gara terus saja murung tidak seperti biasanya. Hingga kini ia tiba di depan sekolah menunggu jemputan masih saja mempertahankan wajah sedihnya. Dan pemandangan itu tentu saja mencuri perhatian dua sosok yang baru saja melakukan kesepakatan di luar. Mereka adalah Tasha dan Raga. Dua manusia yang sama-sama memiliki rasa namun beda keputusan.


Yah, Raga memilih untuk membuat kebahagiaan anaknya utuh dengan kebahagiaannya juga. Berbeda dengan Tasha yang bahagia dengan Gara namun memilih membohongi dirinya sendiri.


"Sayang, ada apa? Apa ada yang mengejek Gara lagi di sekolah?" Tasha bahkan sampai berlutut di hadapan sang anak. Tangannya begitu lembut mengusap kedua pipi Gara kecil.


Tak ingin hanya sekedar jadi penonton, Raga pun turut berjongkok di hadapan sang anak. "Hei...katakan ada apa? Gara ingin sesuatu?" Barulah Gara mengalihkan kedua matanya pada Raga.


Pelan ia menganggukkan kepala. "Gara ingin apa?" tanya Tasha kembali.


Bukannya menjawab dengan kata-kata, Gara justru menunjuk salah satu temannya yang pulang dengan bergandengan tangan bersama kedua orangtuanya. Sangat bahagia terlihat di wajah bocah cantik itu.

__ADS_1


"Lihat Cika, Kak. Dia sangat senang. Gara ingin seperti dia." Tanpa berkata apa pun lagi, Raga dan Tasha sontak bersamaan menggandeng tangan mungil anak mereka berjalan menuju ke mobil.


Berharap apa yang mereka lakukan bisa membuat si anak tampan ini akan ceria kembali. Sayang, saat tiba di mobil wajah Gara masih menunjukkan ekspresi yang sama. Begitu membosankan baginya.


Di belakang ia duduk seorang diri, Tasha dan Raga sudah sepakat akan membuat hubungan mereka lebih dekat demi sang anak. Hanya demi sang anak tidak lebih. Meski berat rasanya bagi Raga yang begitu ingin hubungan mereka bersatu kembali. Namun, Tasha begitu mempertimbangkan bagaimana sang papah dan mamah yang berjuang untuknya selama ini.


"Aku tidak tahu lagi." ujar Tasha menjawab tatapan mata Raga yang seolah bertanya ada apa dengan anak mereka, apa masih kurang yang mereka lakukan untuk Gara dengan mengantar jemput berdua bahkan hari ini Tasha sampai mengorbankan satu klien penting yang datang ke butik miliknya. Begitu pun Raga yang membatalkan pertemuannya dengan klien di perusahaan.


"Sebaiknya kita pulang saja. Gara pasti kelelahan di sekolah." ujar Tasha memberi tahu Raga.


"Jika tidak bisa menerima ku dengan perasaanmu, terimalah aku demi Gara. Aku akan  buktikan pilihanmu kali ini tidak salah, Tasha." Tiba-tiba saja Raga kembali membahas hubungan mereka.

__ADS_1


Ia benar-benar tidak bisa menerima jika hubungan mereka hanya sebatas mantan dan orang tua yang memiliki anak. Raga sudah semakin jatuh hati pada Tasha. Perasaan yang lama terpendam tanpa ia sadari kini semakin menggunung rasanya.


"Lupakan hal itu, Ga. Aku memiliki impian hidup bahagia hanya bersama Gara. Tidak dengan siapa pun itu." Mantap Tasha memberi tahu jika ia benar-benar menutup hati untuk pria mana pun termasuk Raga.


Mendengar ucapan Tasha, Raga hanya bisa bungkam saat ini. Setidaknya ia sedang berusaha untuk tidak membuat Tasha terdesak. Ia tetap memperhatikan agar Tasha bisa nyaman dengannya.


Tanpa terasa perjalanan yang hening itu kini berakhir sudah. Sebuah gerbang rumah milik Tasha sudah bergeser terbuka perlahan. Namun, ada satu hal yang membuat keduanya sangat heran. Sebuah mobil yang asing terparkir rapi di sana lengkap dengan dua pengawal yang berdiri.


Entah dimana sang pemilik mobil itu. Tasha dan Raga menebak jika pemiliknya berada di dalam rumah.


"Sha..." lirih Raga bersuara.

__ADS_1


Kepalanya menggeleng menolak apa yang ia pikirkan saat ini. Yah, satu hal yang paling ia takutkan adalah kehilangan Tasha dan juga Gara dari orang lain. Tidak, sampai kapan pun Raga tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


__ADS_2