
Untuk pertama kali wajah tampan bocah kecil itu begitu cerah pagi ini. Sejak bangun tidur ia begitu bersemangat hingga mandi pun tidak mau di bantu. Ia membersihkan tubuhnya sendiri dan memakai bedak sendiri. Buku gambar yang ia keluarkan semalam kini ia masukkan sendiri ke dalam tasnya. Tasha sampai terheran-heran melihat tingkah sang anak yang tak biasa.
"Sini biar Mami bantu sayang. Ini baju kamu terbalik." ujar Tasha mendekat namun Gara menjauh ke belakang. Tangan mungilnya seolah memberi perintah agar Tasha berhenti mendekat.
"No, Kakak. Aku bisa sendiri. Biarkan aku melakukan semuanya sendiri." ujar Gara membuat Tasha terheran-heran. Di perhatikannya Gara sembari ia memberi arahan.
"Yah di balik semuanya biar benar. Itu tangan bajunya di keluarkan yah." ujar Tasha kembali lagi. Gara pun hanya mengikuti arahan sang mami hingga sampai pada tahap mengancing baju.
"Sayang, itu kancingnya salah. Yang di bawah nomor tiga pasangannya." protes Tasha kembali saat baju sang anak terkancing miring.
Kembali tangan mungil itu melepas kancing lalu ia memasangkan dengan yang sejajar. Tasha sampai menggelengkan kepala melihat kerasnya sang anak. Ada senyum bahagia tersendiri melihat anaknya begitu dewasa dengan cepat.
__ADS_1
"Kak, cepatlah bersiap. Uncle pasti sudah dekat. Kita tidak punya waktu banyak kan?" Terjawablah akhirnya kebingungan Tasha pada Gara. Ternyata bocah itu begitu semangat akibat akan di jemput oleh sang papi tampannya.
"Yasudah Kakak ambil tas dulu yah Gara tunggu di sini."
Melihat sang mami sudah keluar kamar, belum saja semua kancing baju terkancing, bocah itu berlari keluar kamarnya usai menyemprotkan minyak wangi di tubuhnya. Ia memoles sedikit lagi bedak pada pipinya dan menutup pintu kamar.
"Gara, mau kemana sayang?" Suara teriakan dari Indri yang di meja makan bahkan tak di hiraukan oleh bocah tampan itu.
"Mau kemana anak itu, Mah?" Firman pun terbingung melihat aksi sang cucu.
Semua di buat penasaran hingga mereka tiba di pintu utama dan terlihatlah gerbang yang terbuka menampakkan mobil mewah milik Raga sudah mendekati halaman rumah.
__ADS_1
"Gara..." Raga sendiri mengerutkan kening melihat penampilan anaknya yang begitu menggemaskan. Gara berdiri dii dekat mobilnya sembari menggoyang-goyangkan tubuh ke kiri dan ke kanan dengan tas yang ia kaitkan di bahu sebelah kiri.
Indri dan Firman sampai di buat terdiam melihat aksi Gara yang berlari memeluk kedua kaki Raga saat pria tampan itu baru saja menurunkan kakinya dari mobil. Sedih tentu saja mereka sedih melihat betapa butuhnya Gara sosok ayah kandungnya. Dimana ikatan batin begitu erat di diri mereka berdua.
Gara kini beralih ke gendongan Raga dan beberapa kali wajahnya di cium sang papi. Raga tersenyum gemas melihat wajah sang anak yang celemotan bedak Di usapnya perlahan lalu di rapikan baju san anak. Tampak Gara hanya tersenyum lebar melihat perhatian Raga padanya.
"Aku sudah tampan seperti uncle, bukan?" tanyanya saat Raga memperhatikan penampilan sang anak.
Raga tersenyum mendengarnya kemudian mengangguk. "Sangat tampan, Sayang. Tapi rambut ini harus di sisir dulu biar lebih tampan."
Keduanya mendekat ke arah pintu utama di mana Indri dan Firman menatap Raga dengan tatapan sedih pagi itu. Tatapan yang tak biasa ia dapatkan saat datang ke rumah megah milik sang mantan. Hingga saat mendekat ke arah pintu utama, Raga bisa melihat jelas jika Tasha di belakang sana diam mematung berdiri dengan air mata yang berjatuhan.
__ADS_1
Entah apa yang ia pikirkan saat ini sampai menangis seperti itu. Yang jelas satu rumah pagi itu bahkan pelayan pun bisa merasakan sedih yang mendalam kala melihat bagaimana Gara begitu antusias menanti kedatangan Raga di depan rumah. Untuk pertama kali moment mengharukan itu terlihat di depan rumah megah milik Firman. Bahkan tak pernah mereka bayangkan jika sosok Firman akan tergeser dengan sosok ayah yang sesungguhnya.