Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Bab 15


__ADS_3

Ketika aku memasuki kelas, pandanganku pertama kali jatuh pada segerombolan perempuan yang tak lain adalah para sahabatku. Mereka tampak ramai tertawa sembari berbicara hal yang aku sendiri tidak tahu. Sepertinya mereka tengah membahas tentang cerita selama liburan. Bahkan jelas aku melihat mereka sengaja pura-pura tidak tahu tentang kedatanganku. Tak apa, jika ini mau mereka maka aku akan mengingat ucapan Gara. Aku harus mampu hidup sendiri tanpa bantuan mereka. Meski rasanya ragu ketika aku harus mengingat semua pelajaran kuliah yang terkadang membuat aku sangat enggan melihatnya.


"Aku kuat. Iya kamu kuat, Agatha. Kamu pasti bisa." gumamku bertekad.


Hari itu aku duduk di kursi paling depan, semua ku lakukan agar aku bisa lebih mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh dosenku. Jika biasa aku akan selalu merasa ngantuk di jam kuliah, tidak hari ini.


Semua yang point penting dan bahkan sulit untuk ku ingat terus ku catat di binder. Aku tahu jika beberapa teman sedang membicarakan aku. Tak ku perdulikan sama sekali.


Jam pulang kuliah pun langsung aku menuju rumah tanpa berniat makan di kantin. Biasanya aku akan menghabiskan waktu beberapa jam lamanya sekedar nongkrong di kantin dan berjalan ke cafe untuk senang-senang. Hari ini semuanya tidak ku lakukan seperti biasa. Aku terus bertekad untuk berubah.

__ADS_1


"Agatha! Tunggu, Agatha." Tanganku tiba-tiba saja di genggam kuat oleh seseorang ketika aku hendak membuka pintu mobil.


"Morgan?" Keningku mengerut dalam mendapati pria yang sangat aku benci berani menampakkan wajah di depanku saat ini.


Susah payah aku melepas cekalan tangan pria itu. "Lepaskan! Kalau tidak aku akan teriak!" Aku mengancam dan detik itu juga tanganku di lepas olehnya.


"Aku tidak salah, Agatha. Aku melakukan itu semua tentu ada alasannya." Bibirku berdecih mendengar pria itu bisa-bisanya masih mau membela diri. Jelas-jelas dia melakukan semua itu karena dorongan nafsunya.


"Alasan apa? Menurut kamu napsu bisa menjadi alasan? Aku benar-benar menyesal pernah menaruh nama pria seperti kamu di hatiku. Seandainya waktu bisa di ulang, aku tidak akan pernah sudi sekedar menyebut nama kamu. Jangan pernah ganggu aku lagi. Sudah bagus aku mencegah Papiku untuk tidak melaporkan kamu ke polisi." Dari kata-kata terakhirku jelas aku bisa melihat jika kedua mata Morgan membulat kaget.

__ADS_1


Mungkin ia tak pernah berpikir jika hal seperti itu bisa berujung ke kantor polisi. Meski pun aku sudah tidak di bawah umur lagi, tapi tetap saja jika aku malorkan perbuatannya akan ada pidana untuk pria seperti Morgan.


Saat itu juga ku rasakan Morgan menggenggam erat kedua tanganku. Ku lihat wajahnya begitu takut saat mendengar ucapanku.


"Agatha, aku mohon maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu jika kamu akan semarah ini. Rifana yang mengatakan jika kamu berpacaran sudah biasa seperti itu. Itu sebabnya aku berani menyentuhmu. Aku salah jika aku pikir kamu sama dengan wanita lainnya..."


Ku layangkan tamparan di pipi pria itu. Mungkin selama kejadian aku belum pernah memberikan teguran keras padanya. Dan kali ini aku memiliki kesempatan.


"Kamu pikir aku sama dengan perempuan di luar sana? Kamu salah besar. Sekarang jangan pernah ganggu aku lagi!" Dengan dada bergemuruh aku menutup pintu mobil kasar. Ku lajukan kendaraan roda empat kesayanganku pemberian Mami Tasha. Air mataku menetes. Jika benar apa yang di katakan Morgan saat ini itu artinya Rifana tengah menghianati aku. Bahkan dugaanku padanya selama ini jauh lebih kejam yang sesunguhnya.

__ADS_1


__ADS_2