Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Gara Ngambek


__ADS_3

Tasha dengan wajah pasrah berusaha berpose dengan baik. Sementara Gara dengan lincah mengganti terus menerus gayanya yang memeluk sang mami sampai mencium pipi Tasha.


Tak sadar dengan gambar yang ia ambil begitu banyak, Raga keasyikan memotret dua orang di depannya. Hingga wajahnya pun ikut tersenyum melihat gaya lucu Gara.


“Uncle, sini. Kita foto bertiga. Biarkan orang itu yang memfoto kita.” Gara menunjuk supir Raga yang berdiri di dekat mobilnya.


Sungguh Tasha tak habis pikir dengan sang anak. “Gara, tidak boleh seperti itu. Itu tidak sopan namanya.” ujarnya menegur sang anak. Sayangnya Gara hanya acuh. Ia terus melambaikan tangan memanggil Raga yang sudah memberikan ponsel itu pada supir.


“Ayo kemari, Uncle akan menggendongmu.” Raga dengan hangatnya meraih tubuh kecil Gara dan berpose layanya seorang ayah. Ia memeluk dan tertawa ke arah kamera. Sementara Tasha menatap keduanya dengan tatapan sedih.


Tak sekali pun ia menoleh ke arah depan. Tentu saja pose itu tak ada yang menyadari. Sebab Gara sibuk dengan keberadaan Raga.


“Kenapa kalian sedekat itu saat ini?” tanya Tasha dalam hati.


Sejenak ia berdiam diri hingga Tasha pun sadar jika Gara sudah terlalu banyak berfoto dan ia memutuskan untuk menyudahi.


“Pak, sudah saja. Terlalu banyak fotonya. Kasihan bapak. Gara, ayo ucapkan terimakasih.” pintahnya pada sang anak.

__ADS_1


“Oke, Kak.”


“Pak, Uncle, terimakasih banyak yah?” Suara cempreng Gara membuat dua pria di depannya terkekeh. Raga bahkan sampai mengusap rambut Gara.


Tasha melihat itu segera menarik tangan sang anak. Ia membawa Gara menjauh dari dua pria tadi.


Tanpa ia tahu sepanjang jalan Gara terus menoleh ke belakang dan melambaikan tangan pada Raga.


“Aduh Kak, pelan-pelan jalannya.” ujar Gara mengeluh kakinya yang lelah melangkah mengikuti Tasha begitu cepat untuk menuju ke lift.


“Lain kali mami tidak akan mengampuni sikap kamu ini, Gara. Tidak sopan meminta orang seperti mereka memoto kamu.” Tasha bahkan tak perduli dengan nada bicaranya pada sang anak.


Sepanjang jalan Tasha tak lagi bicara apa pun. Wanita itu hanya terus menampakkan wajah kesal begitu pun juga dengan Gara. Ia memajukan bibir bawahnya pertanda hatinya sedang tidak baik.


Di loby perusahaan justru Raga menggeleng lucu mengingat sikap Gara yang begitu dekat dengannya. Meski percakapan mereka sangat singkat.


“Anak itu sangat lucu. Kenapa bisa Tasha memiliki adik yang sangat kecil? Bahkan usia mereka terbilang jauh.” celotehnya memikirkan sejenak kehidupan wanita yang tak lain ada mantan ranjangnya.

__ADS_1


“Raga,” suara seorang pria paruh baya yang menyapa di depan lift membuat Raga menoleh.


“Ayah,” jawabnya melihat Dahlan tiba dan berjalan ke arahnya.


“Mau ke ruang pemotretan kan?” tanya Dahlan pada sang anak yang di jawab langsung dengan anggukan kepala.


Keduanya pun tak lama akhirnya tiba di ruang pemotretan untuk melihat hasil kerja Gara untuk perusahaan.


Namun, wajah antusias mereka berubah kala melihat bagaimana si kecil itu cemberut di depan kamera. Tasha sebagai kakak yang mereka tahu sampai kesulitan mengajak bicara sang adik.


“Gara, hey lihat Mami. Sayang, ini jam kerja. Oke mami minta maaf. Mami salah sudah menegur Gara.” Penuturan yang hampir semua orang dengar.


Tasha tak sungkan mencium wajah Gara beberapa kali. Kedua tangannya sampai menangkup wajah Gara demi mendapat tatapan lurus. Sayang, Gara yang terlanjur sakit hatinya di tegasi oleh sang mami terus membuang pandangan ke arah lain.


Bocah itu menampakkan matanya yang merah dan menggenang banyak air mata di sana.


“Gar, ayo tolong mami. Jangan seperti ini. Kita sedang bekerja.” lagi Tasha membujuk sang anak.

__ADS_1


Hingga ia di kejutkan dengan kehadiran pria yang tak lain adalah Raga.


“Biarkan saya bicara dengannya sebentar.” ujar Raga sontak membuat wajah Gara cerah.


__ADS_2