
Acara fashion berakhir dengan sempurna di Bali. Dan malam ini Tasha pun tiba di vila dengan Gara yang sudah terlelap di gendongannya. Meski tubuh wanita cantik itu terlihat langsing namun kekuatannya dalam menggendong sang anak yang sudah tumbuh besar tak lagi di ragukan. Tasha benar-benar menjadi strong woman untuk sang anak. Ia tak ingin terlihat lemah di mata Gara.
Duduk sendirian di tengah malam yang tenang, Tasha menatap bindang di balkon vila itu di temani secangkir cokelat hangat. Pandangannya menatap lurus ke depan. Pikirannya memikirkan tentang semua nasihat Bu Dewi yang begitu tenang masuk ke dalam kepala Tasha. Berniat ke Bali untuk menenangkan diri, nyatanya ia justru mendapatkan ketenangan yang jauh lebih tepat.
Mungkin lari dari orang-orang terdekat membuat Tasha berpikir untuk mencari jalan keluar yang netral. Tak ada berpihak padanya mau pun pada Raga. Dan bertemu dengan Bu Dewi menjadi hal yang paling tepat untuk Tasha. Beruntung wanita itu sangat bijak dalam berbicara. Sebagai wanita yang sudah menganggap Tasha anaknya sendiri, Bu Dewi mampu memberikan nasihat untuk Tasha.
"Benar, pernikahakanku patut ku pertahankan. Gara sudah sangat berharap semua bersatu dan utuh seperti orangtua lainnya. Maafkan Mami dan Papi, Gar. Kami benar-benar orangtua yang tidak baik untukmu. Mami janji akan menjadi mami yang sangat mencintai kamu sampai kapan pun, Nak. Mami akan sekuat mungkin membahagiakan kamu, Sayang." Tasha memeluk sang anak dan ikut terlelap.
Sedangkan di sini Raga nampak menemani anak wanitanya tidur.
__ADS_1
"Besok hasilnya akan keluar. Semoga saja bisa menyelesaikan ini semua. Meski sebenarnya aku sudah sangat yakin dengan anak ini." gumam Raga menatap wajah cantik bocah yang terlelap di kamar saat ini.
Setelah memastikan sang anak benar-benar tidur, kini Raga akhirnya bergegas untuk menuju kamarnya sendiri. Ia mengistirahatkan tubuh dan pikirannya sebelum besok memutuskan untuk menuju rumah sakit. Berharap Rizka akan segera sadar dari kritis dan bicara padanya tentang semuanya yang terjadi.
Perasaan gelisah ingin menyusul Tasha dan Gara kembali membuat Raga tak punya banyak keberanian. Sebab ia tahu dirinya di sini tak bisa melakukan apa pun sebelum memutuskan sesuatu untuk Rizka dan anaknya.
Singkat cerita keterdiaman Raga menatap surat hasil tes DNA di ruangan itu membuatnya tak tahu lagi harus melakukan apa. Hingga lamunan itu buyar kala mendengar ponselnya kini berdering.
Segera saat itu juga Raga pun bergegas keluar dari ruangan dokter. Ia berlari menuju ruangan Rizka sembari membawa sang anak ke ruangan tersebut.
__ADS_1
"Renata,"
"Mamah," di brankar pasien wanita pucat tengah mengulurkan tangan ingin meraih tubuh mungil sang anak.
Raga berdiri mematung melihat keduanya berpelukan. Bayangan akan apa yang dokter katakan jika wanita di depannya ini tak akan bisa sembuh lagi dengan kanker rahim yang sudah parah. Membuat Raga tak sampai hati untuk mengajak Rizka berbicara.
"Mamah cepat sembuh. Renata ingin sekali jalan sama mamah dan papah." ujar bocah kecil itu melerai pelukan dari tubuh sang mamah.
Sontak ucapan itu membuat Rizka menoleh pada Raga yang di sebut sang anak adalah papah. Lalu kemudian ia menoleh lagi pada sang ibu sebagai tanda bertanya. Dan wanita tua itu mengangguk sebagai jawaban jika Raga sudah mengetahui semuanya.
__ADS_1
"Maafkan Renata merepotkanmu, Ga. Aku sama sekali tidak bermaksud membuka ini semua. Andai aku tahu tentu aku tidak akan membiarkan ini terjadi." wanita itu meneteskan air mata saat berkata demikian. Dimana ia justru terbatuk beberapa kali dan mengeluarkan darah.