Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Terungkapnya Sosok Gara


__ADS_3

Melihat Tasha yang memalingkan wajah, Raga dengan beraninya mencengkram dagu Tasha dan membuat wanita itu menatap ke arahnya. Tasha memperlihatkan matanya yang berkaca-kaca. Meski sangat marah pada pria di depannya, entah mengapa Tasha tak kuasa menahan kesedihan di hatinya kala mengingat semuanya hal yang sangat memalukan itu.


“Siapa pria itu, Tasha?” pelan namun jelas Tasha mendengar suara Raga.


Tak kuasa akhirnya Tasha menghempas tangan Raga, mendorong kasar dada pria itu dan menamparnya sangat keras.


Plak!!


Terkejut, tentu saja Raga terkejut bukan main. Ia memegang pipinya yang terasa kebas serta menatap dalam wanita yang sudah banjir air mata di depannya. Sungguh Tasha sangat murka mendengar pertanyaan dari Raga.


“Pergi dari sini pria baj*ngan!” Teriaknya tak kuasa menahan amarah.


Bukannya pergi, Raga justru kembali mendekat. “Tasha, katakan siapa pria itu?” Lagi ia bertanya.

__ADS_1


Tasha mengusap kasar air mata dan maju mendekati Raga. Tangannya menunjuk dada bidang pria itu.


“Pria baj*ngan itu adalah anda, Tuan Raga. Sekarang tolong pergi dari sini. Anda sangat puas bukan mendengar semuanya?” ujar Tasha yang mendorong kasar tubuh Raga keluar pintu kamarnya.


Pintu ia hempas begitu kuatnya. Tasha tak lagi perduli bagaimana orang di rumah tahu keributan itu. Yang jelas ini adalah kali pertama ia bisa melampiaskan kemarahannya setelah sekian tahu pada pria yang membuatnya sangat hilang muka.


Tasha duduk meringkuk di balik daun pintu. Memeluk tubuhnya sendiri yang rapuh menangis sejadi-jadinya. Sumpah demi apa pun rasanya begitu sangat sesak. Tak hentinya Tasha memukul dadanya yang kian sesak.


“Tuhan…rasanya sakit sekali.” Tasha terus memukul dadanya. Berusaha menghilangkan sesak di dadanya.


Air mata terus berjatuhan. Tasha tidak perduli bagaimana lagi ia nasib Raga di luar sana.


Di sini pria itu berjalan tertatih melewati pintu utama rumah milik Tasha. Ia tak lagi memikirkan bagaimana orang rumah itu akan mengusirnya.

__ADS_1


“Aku pria baj*ingan itu? Itu artinya akulah ayah dari Gara?” batin Raga bertanya-tanya sepanjang ia melangkah kan kakinya.


Raga benar-benar syok mendengar pengakuan Tasha. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Yang jelas kegelisahan selama ini pada Gara dan Tasha sudah ia dapatkan jawabannya.


Pelan Raga menggelengkan kepala kala memori di kepalanya berputar kembali pada kejadian di masa SMA. Ingatan saat Tasha meminta pertanggung jawaban dirinya atas kesalahan mereka di masa lalu. Namun, tak ada yang tahu bagaimana kejadian demi kejadian setelah itu kecuali Tasha dan keluarganya.


Pulang dengan perasaan hampa, Raga menyetir mobil tanpa memikirkan hal apa pun. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Tak terasa air mata berjatuhan di pipinya.


“Bagaimana mungkin selama ini aku tidak menyadari jika ada bayi yang lahir dari hasil perbuatanku di masa lalu? Bagaimana mungkin aku bisa acuh terhadap darah dagingku sendiri? Gara…maafkan papah. Maafkan papah, Gara.” terus ia merasa bersalah.


Sepanjang jalan Raga menyalahkan dirinya sendiri hingga tak terasa tiba di rumah. Pria itu bukannya masuk ke rumah. Raga justru berdiri bersandar pada mobilnya. Ia masih berusaha mencerna semua yang terjadi.


Bagaimana mungkin tidak syok setelah sukses dengan karirnya, ia ternyata memiliki anak yang ia sendiri tidak tahu selama ini.

__ADS_1


__ADS_2