Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Permohonan Memperbaiki


__ADS_3

Tepat seperti kesepakatan akhirnya di sinilah Dahlan dan juga Rima duduk. Ruang tamu kediaman Firman menjadi tempat yang mereka kunjungi malam ini. Siang tadi Dahlan berbicara dengan sang istri yang sudah mengetahui semuanya, dan mereka pun duduk berhadapan dengan Firman yang begitu menatap dingin kedatangan mereka. Jika biasanya Firman akan bersikap dingin dan ketus kini tak ia tunjukkan sebab ia tahu siapa pria yang duduk di depannya saat ini.


Dahlan adalah seorang pebisnis yang sama-sama terkenal dengannya juga. Keheningan beberapa saat sempat terjadi hingga suara dari Indri pun memecah kesunyian.


"Em jadi kalian orangtua dari Raga?" tanya Indri.


Rima dan Dahlan sama-sama tersenyum. "Iya, Bu Indri. Kami ayah dan ibu dari Raga. Sebelumnya kedatangan kami ke sini adalah untuk meminta maaf atas semua yang sudah terjadi. Saya pikir kita semua di sini tentu sudah mengetahui apa yang terjadi di masa lalu dengan anak-anak kita. Kami pun juga baru tahu akhir-akhir ini..." panjang lebar Rima berbicara.


Tentu dengan bahasa yang sudah ia tata serapi mungkin di dalam hatinya.

__ADS_1


Firman hanya diam tak mengatakan apa pun selain mencerna apa yang terdengar di telinganya. Hingga beberapa saat akhirnya suaranya pun terdengar.


"Saya benar-benar kecewa dengan sikap anak anda. Dan saya juga tidak membela anak saya. Mereka berdua sama-sama salah tentunya. Tapi yang jelas jika saya sudah melupakan semuanya dan saya ingin menata kehidupan anak saya lebih baik lagi. Kami sudah sepakat untuk tidak membatasi Gara dengan anak anda. Dan saya harap juga anak anda mengerti akan semua batasannya." Panjang lebar Firman berucap hingga membuat Raga tertunduk sedih.


Tanpa mengatakan apa pun lagi sudah jelas apa yang Firman katakan sangat menolak hubungan mereka kembali. Dahlan menatap dalam sang anak. Sejenak pria paruh baya itu menarik napas dalam lalu menghembuskan napasnya kasar.


Keadaan malam itu terasa begitu mencekam. Hanya ada keluarga Tasha dan Raga. Sedangkan wanita cantik itu kini tengah menidurkan sang anak di kamarnya. Pelan-pelan tangannya terus mengusap lembut kepala bocah kecil itu lalu mencium keningnya.


Tepat jam sembilan malam ia bergegas keluar kamar Gara. Samar terdengar suara di ruang tamu. Tasha mengernyitkan kening menerka siapa yang bertamu di rumahnya malam-malam seperti ini. Tak berani melihat dan terlalu lancang rasanya jika mendekat. Hingga langkah kaki seorang pelayan yang membawakan cemilan akhirnya bisa Tasha tanya.

__ADS_1


"Bi, siapa yah tamu Papah?" tanya Tasha dengan rasa penasarannya.


Pelayan mendekati Tasha. "Itu Non. Tuan yang tampan yang sering ngantar Tuan Gara pulang. Dia datang bersama keluarganya sepertinya." suara bisik-bisik dari sang pelayan tentu saja membuat Tasha membulatkan matanya kaget.


Ada masalah apa sampai mereka datang malam-malam begini ke rumahnya, bahkan bersama dengan kedua orangtuanya. Tasha di buat semakin penasaran dan cemas, jangan sampai sang ayah tiba-tiba naik darah dengan kedatangan mereka.


"Semua sudah terlewatkan. Tidak ada hal yang menjadi masalah lagi dan tidak ada hal yang bisa merubah semuanya, Tuan Dahlan. Saya kira semuanya kata-kata saya sudah jelas. Di antara kita hanya ada Gara yang perlu mendapatkan kasih sayang lengkap. Dan hal lainnya sudah tak ada masalah apa pun. Tasha sudah bahagia selama ini dengan kami" jawaban dari Firman begitu menohok. Jelas terdengar jika ia tak menerima apa pun niat baik dari keluarga mereka.


"Em...begini Tuan Firman. Niat kami datang adalah untuk memperbaiki dan memikirkan masa depan Gara, cucu kita. Mungkin ada jalan pintas lain yang tentunya bisa di pikirkan kembali. Raga ingin menebus semua kesalahannya dengan menyerahkan semua hidupnya untuk Gara dan juga wanita yang sudah ia rusak masa depannya. Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya telah merusak masa depan Tasha."

__ADS_1


__ADS_2