Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Berkumpulnya Keluarga


__ADS_3

Saat tiba di rumah sakit, Raga langsung di sambut dengan Tasha yang menarik tangannya mendekat pada Raga. Tak ada lagi Tasha yang tegas, dingin dan berbagai macam ekspresi yang sering ia tunjukkan selain tangis sedihnya melihat sang anak yang jatuh sakit. Raga pun sampai menggenang cairan di kedua matanya melihat Gara yang sakit seperti ini. Ia tampak menunduk memeluk tubuh panas Gara. Di kecupnya kening kedua pipi sang anak lalu ia genggam tangan Gara. Satu tangannya bergerak lagi mencari tangan Tasha dan menggenggamnya erat. Pemandangan yang sangat langkah itu terjadi begitu saja seiring hati mereka yang sama-sama rapuh melihat putra kecil mereka sakit. Tasha membalas genggaman tangan Raga saat itu juga.


"Sstt..." Suara dari bibir Firman seketika membuat Indri menoleh. Ia melihat sang suami yang memanggilnya untuk keluar.


Segera wanita paruh baya itu pun bergerak melangkah mundur dan menghampiri sang suami di luar ruangan. Keduanya duduk bersampingan menghela napas seolah Indri pun paham apa yang sang suami pikirkan saat ini.


"Gara adalah yang terpenting, Pah. Mereka sama-sama dewasa dan tidak lagi memikirkan ego mereka. Gara butuh mereka, dan kita tidak bisa melakukan apa pun selain mendoakan kebahagiaan Tasha dan juga cucu kita." ujar Indri lemah.

__ADS_1


Jika mengingat semua yang terjadi, ia sebagai seorang ibu pun rasanya tidak rela jika Tasha hidup bersama pria yang sudah melempar kotoran ke keluarganya. Namun, melihat bagaimana semuanya berjalan selama ini dengan sosok Raga yang terus berusaha menunjukkan sisi baiknya, Indri yakin jika pria itu adalah pria yang bertanggung jawab. Hanya saja di masa lalu Raga belum menjadi pribadi yang berani mengambil keputusan besar di sebabkan dengan usianya yang masih sangat muda.


"Papah setuju apa pun yang Tasha putuskan, Mah. Yang penting Gara bahagia dan juga Tasha." kalimat yang membuat Indri pun merasa lega saat ini.


Di sini keduanya saling berbicara dari hati ke hati, berbeda dengan Tasha dan Raga yang sudah berusaha saling menenagkan.


"Pak, Bu, tenang saja. Anaknya demam ini hal yang sering terjadi pada anak-anak. Setelah ini pasti akan kembali stabil." Menyadari kehadiran dokter Tasha dengan kikuk mendorong tubuh Raga yang ia gunakan sebagai senderan.

__ADS_1


Dokter pun menjelakan kembali serta kerja obat yang ia berikan pada Gara. Dan saat itulah Raga mau pun Tasha mulai tenang setelah melihat perkembangan tubuh sang anak. Gara tak lagi bersuara, ia tidur dengan tenang. Raga duduk di sisi kiri dan Tasha duduk di sisi kanan. Mereka menunggu Gara bangun tanpa berbicara apa pun.


"Ga..." suara seseorang yang tak lain adalah Rima ibu dari Raga baru saja datang di ruangan itu bersama sang suami. Keduanya juga panik saat mendapat kabar sang cucu demam tinggi.


Tasha hanya diam setelah menyapa orangtua Raga dengan salaman tangan. Mereka semua tampak tegang menunggu Gara bangun.


"Gara akan segera bangun, Bunda. Tadi demamnya sangat tinggi. Sekarang sudah normal." sahut Raga menjelaskan pada sang bunda.

__ADS_1


"Syukurlah...Bunda sampai mau lepas rasanya jantungnya dengar kamu ke rumah sakit karena Gara." sahut Rima menceritakan.


Usai menjenguk sang cucu, Rima dan Dahlan pun keluar memilih berkumpul bersama kedua orangtua Tasha. Mereka memberikan Raga dan Tasha ruang untuk saling berbicara. Tentu kedua orang tua Raga sangat tahu jika sang anak begitu sulit mendapatkan waktu bersama Tasha bicara mengenai mereka berdua. Dan inilah mungkin waktu yang tepat.


__ADS_2