Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Ketidak Percayaan Tasha Pada Pesona Raga


__ADS_3

Entah sejak kapan Rima dan Indri menjadi dekat. Wanita paruh baya itu nampak antusias memasak di dapur usai menata barang bawaan mereka dari kota. Tasha yang sibuk menerima telpon kini memilih di kamar sejenak berbicara tentang desain yang akan ia kirim ke luar negeri. Lebih tepatnya Singapura. Sedangkan di halaman belakang suara tawa Gara justru menggelegar hingga ke setiap sudut villa itu.


"Gara pasti senang sekali." ujar Rima tersenyum mendengar suara sang cucu.


"Memang ini kan yang dia inginkan sejak lama, Bu?" sahut Indri ramah.


Keduanya nampak berbincang-bincang hingga percakapan mereka terarah pada masa lalu di mana mereka tak saling tahu masalah yang terjadi. Hingga Rima meminta maaf atas apa yang terjadi pada Tasha yang di sebabkan oleh anaknya.


Meski sudah meminta maaf sebelumnya, ia tetap merasa masih bersalah. Seharusnya sebagai seorang ibu dan wanita ia harus bisa tegas pada Raga dulu untuk tidak lari dari tanggung jawabnya. Dahlan dan Firman, kedua pria itu saja yang tidak bergabung saat ini. Dahlan nampak duduk menonton televisi sedangkan Firman nampak sibuk dengan tidurnya di kamar.


Rasanya sangat nikmati memejamkan mata dengan jendela kamar yang menunjukkan pemandangan gunung di depan sana. Hingga menjelang makan siang pria ituu pun tak kunjung bangun. Sedangkan Tasha yang selesai dengan kegiatannya akhirnya keluar kamar menghampiri dua wanita yang ada di dapur dengan pelayan.


"Tante, Mamah, ada yang bisa Tasha bantu? Maaf tadi habis terima telepon." ujarnya meminta maaf saat melihat semua sudah siap.


"Dari pacar, Sha?" tanya Rima penasaran. Apakah Tasha menerima telepon dari seorang pria? jika benar itu adalah jalan buntu untuk sang anak mendapatkan kesempatan memperbaiki semuanya.

__ADS_1


Indri tersenyum mendengarnya. Dan Tasha menggeleng.


"Maaf, Tan. Saya tidak ada pacar." Rasanya Tasha malu mengatakan hal demikian. Dimana kata-katanya seolah membuatnya merasa sedang mempromosikan diri. Padahal itu hanyalah perasaannya saja.


"Tasha sangat di larang keras bertemu pria dan bahkan keluar dari rumah tanpa pengawasan oleh papahnya. Bagaimana dia bisa pacaran?" Kini Indri yang menjelaskan dari jawaban sang anak.


Mendengarnya Rima pun menghela napas lega. Itu artinya memang Tasha adalah orang yang tepat. Dan benar kata Raga, jika Tasha sebenarnya adalah wanita baik-baik yang terpengaruh olehnya saat dulu. Kini mereka semua pun berkumpul dengan memanggil masing-masing suami untuk ke meja makan. Sedangkan Tasha sibuk menggantikan pakaian Gara yang baru saja mandi di kolam bersama Raga. Kedua pria berbeda usia itu sangat menikmati suasana baru ini.


"Kak, apa jika Uncle masih kecil kakak juga akan menggantikan bajunya?" Tiba-tiba saja Gara bertanya saat melihat Raga yang bergegas memakai handuk hendak menuju kamar.


Gara pun menurut saja pada sang mami. Dua keluarga itu menikmati makan dengan tenang tanpa ada yang berbicara. Pemandangan Tasha yang terus saja mengurusi sang anak dari mengambilkan makan di piring, minum serta menyuapi Gara lebih dulu membuat Raga tak tega. Apakah seperti ini selama Tasha mengurus Gara seorang diri? ia sungguh tak tega dan ingin sekali bergantian peran dengan Tasha.


Hingga malam tiba pun mereka semua bersantai di ruang keluarga. Gara beberapa kali membuat mereka tertawa dengan tingkah lucunya yang meminta kedua kakeknya untuk bermain perang robot. Sedangkan Raga dan Tasha kini keduanya duduk di ayunan kolam belakang rumah. Setidaknya semua keluarga sudah mengikuti mereka sejauh ini dan untuk waktu Tasha dan Raga mereka akan memberikan itu malam ini.


Yah, seperti tujuan Raga yang sebenarnya. Jika liburan satu minggu ini akan ia manfaatkan untuk bisa meminta Tasha membuka hatinya.

__ADS_1


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Tasha menatap Raga dengan heran.


"Kau sudah berubah, Sha. Kau bukan remaja yang seperti dulu lagi yang begitu tergila-gila denganku." Raga tersenyum menatap Tasha.


Ia kini yang justru tergila-gila dengan Tasha. "Yah, dulu aku terlalu bodoh untuk melihat pria pemain wanita sepertimu." ujar Tasha kembali kesal mengingat dirinya yang dulu.


Namun, Raga mampu menghilangkan rasa kesal itu dengan mengalihkan tangannya menggenggam tangan Tasha. "Kita sudah sama-sama dewasa. Mungkin sebagian orang berkata kau sangat berhak untuk mendapatkan yang terbaik. Dan bodoh untuk menatap pria di depanmu saat ini. Tapi, jika aku bisa melakukan apa pun untuk menjadi pria baik dan sempurna itu untukmu, pasti aku akan lakukan. Aku hanya pria pendosa yang ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu, Sha. Aku ingin membuatmu dan Gara bahagia. Tanpa ada tujuan lain, sungguh. Aku benar-benar menyesali semuanya." tuturnya membuat Tasha menatap Raga dengan mata berkaca-kaca.


Ia tak bisa berkata apa pun. Tasha memilih berdiri dari duduknya dan menatap langit yang begitu cantik bertabur bintang yang banyak.


"Aku memang munafik jika mengatakan aku tidak memiliki rasa pada pria yang sudah menghancurkan hidupku tanpa sisa. Tapi rasa kecewa yang teramat aku rasakan benar-benar mengalahkan semuanya, Ga. Aku benci setiap kali mengingat kau benar-benar menginjak-injak harga diriku. Tanpa sadar kebencian itu pun masih tak mampu membuat perasaan itu hilang begitu saja. Dan bahkan aku memberikan nama anak kita saja mirip dengan namamu. Kau benar, aku memberi nama Gara sebab perasaanku padamu. Tapi, tidak mudah untukku bisa membuka lembaran baru dengan pria yang aku sudah sangat tahu sifatnya. Setiap waktu kau bahkan dengan mudah mengganti wanitamu. Termasuk aku..." Air mata Tasha jatuh.


Bukan labil atau sok jual mahal Tasha begitu takut memulai hidup dengan Raga. Ia hanya terlalu merasa tak bisa percaya pada pria yang bersamanya saat ini. Raga bahkan di sudut kota mana pun sudah menjadi buah bibir para gadis yang rela merebahkan tubuhnya di bawah tubuh Raga secara cuma-cuma.


Yah memang seperti itulah pesona dari papi Gara ini.

__ADS_1


__ADS_2