Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Di Salahkan


__ADS_3

Betapa bahagianya Mami melihat kedatangan pria yang kini berjalan ke arah kami. Lebih tepatnya melangkah menuju Mami berdiri dengan tangan yang merentang lebar. Aku hanya bisa menggeleng saja melihat keduanya seperti pasangan yang sudah jauhan beberapa tahun. Pelukan yang begitu erat serta Papi yang berkali-kali mencium kening Mami.


"Yasudah Papi sekarang sudah datang kan, Mi? Kita bisa lanjut semuanya dong." sahutku. Mami seketika melepas pelukannya.


"Oh iya, Agatha. Sayang, aku harus selesaikan semuanya dulu biar kita cepat pulang yah?" Papi mengangguk tersenyum.


Lagi-lagi aku iri dengan cinta mereka. Entah kelak aku bisa mendapatkan kasih sayang seperti itu oleh suamiku atau tidak. Sampai akhirnya kami pulang ke rumah membersihkan diri dan makan malam tepat pada pukul setengah sembilan malam.


Di kamar aku berbaring istirahat, tubuhku rasanya benar-benar lelah saat ini. Tak sengaja tanganku justru bergerak melihat ponsel. Ada beberapa pesan dan panggilan yang terlihat.


"Pasti Mikael. Memangnya siapa lagi?" gumamku tiba-tiba kaget. Bukan hanya Mikael yang menghubungi aku sore ini.


"Gara? Mau apa dia?" tanyaku yang kaget.

__ADS_1


Rasanya sudah lama kami tidak berkomunikasi. Lalu saat ini ia tiba-tiba kembali menghubungiku. Kebetulan aku juga ingin memarahinya karena pergaulan bebas itu. Tanganku pun menghubungi Gara kembali.


"Halo," ucapku ketika sambungan telepon tersambung.


"Agatha, apa-apaan kamu? Berani kamu meminta semua sahabatmu berhenti mengikuti kalian? Kamu nggak ada kapoknya yah mau di lecehkan sama mantan kamu itu? Sekarang sama Mikael lagi. Atau memang itu yang kamu mau? Hah! Aku sudah berusaha melindungi kamu, tapi kenapa kamu keras kepala sekali. Kamu egois! Apa kamu tidak memikirkan bagaimana Mami dan Papi kalau sampai terjadi sesuatu denganmu? Kamu memang tidak menyayangi orang tuaku kan?" Air mataku jatuh bersamaan dengan bibirku yang kaku tak bisa menjawab apa pun.


Gara menyerangku dengan banyaknya pertanyaan yang begit menyudutkan aku. Apa-apaan dia mengatakan semua adalah salahku. Bahkan saat berbicara demikia, Gara tidak memikirkan jika seharusnya aku yang marah sebagai kakak. Gara sudah bergaul melewati batas selama di sana.


"Kamu salah besar, Gara. Aku seperti ini justru demi Mami dan Papi." Hanya kata itu yang ku jawab sebelum panggilan akhirnya ku putuskan.


Ponselku yang ku letakkan ternyata kembali berdering. Aku sengaja mematikan panggilan itu tanpa menjawabnya sebab rasanya berbicara dengan Gara sudah tidak senyaman dulu lagi. Detik berikutnya ponselku kembali berdering.


"Hah apasih Gara ini?" umpatku. Kembali aku mematikan panggilan itu hingga tak lama kemudian kembali ponselku berdering.

__ADS_1


Dengan rasa jengkel aku ingin menekan tombol mati, namun ternyata yang menghubungiku adalah Mikael.


"Iya, Mik?" sapaku.


"Agatha, kamu susah sekali di hubungi. Apa ada yang nelepon kamu?" tanya Mikael.


"Oh iya tadi adikku, Gara sedang menelpon." jawabku jujur.


Kami berbicara beberapa saat dengan pikiranku yang sangat pusing. Aku berusaha bersikap santai pada Mikael namun perasaanku tak bisa bohong jika sama sekali sedikit pun rasa senang berbicara denganya tak ada ku rasakan.


"Em...Mikael aku mau istirahat. Sudah jam sepuluh. Besok kita ketemu juga di kelas kan?" ujarku ragu. Kasihan sebab aku telah memberi harapan pada Mikael yang memang sangat baik.


"Oh baiklah, Agatha. Besok pagi aku akan menjemput kamu yah?" Aku hanya mengiyakan saja dan buru-buru mematikan telepon.

__ADS_1


Pikiranku kacau di penuhi dengan bayangan Gara. Barusan pria itu kembali menyakiti aku lagi.


__ADS_2